KontraS: Aksi Kekerasan pada Perempuan dan Anak Masih Marak

KontraS: Aksi Kekerasan pada Perempuan dan Anak Masih Marak
#AksiKamisan 515

Ulasan Pers – Aksi kekerasan seksual tidak hanya dialami oleh orang dewasa, melainkan juga oleh anak kecil. Komnas Perempuan telah menyerahkan draft RUU Penghapusan Kekerasan Seksual kepada DPR RI. RUU tersebut agar bisa disahkan, sehingga pelaku kekerasan seksual bisa diadili secara hukum.

Akan tetapi, DPR RI terlihat tidak serius dalam menyikapi draft RUU. Ini terlihat dari usaha-usaha menghilangkan beberapa poin penting dalam draft RUU yang diajukan oleh Komnas Perempuan. Salah satunya, menghapus 5 dari 9 bentuk aksi kekerasan seksual (pemaksaan kontrasepsi, pemaksaan aborsi, pemaksaan perkawinan, pemaksaan pelacuran, perbudakan seksual).

Apa yang dilakukan oleh DPR RI sangat bertolak belakang dengan UUD 1945 pada amandemen ke-2. Di sana secara tegas memasukkan Hak atas Rasa Aman di dalam Pasal 28A-28I, Pasal 30 dan 35 UU HAM.

Memperingati Hari Anak Internasional pada 20 November 2017 dan Hari Anti-Kekerasan terhadap Perempuan pada 25 November 2017, kami (KontraS) ingin menekankan, masih begitu marak terjadi aksi kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak.

Data Komnas Perempuan menunjukkan, sepanjang tahun 2016, Komnas Perempuan mencatat terdapat 3.945 kasus kekerasan seksual. Itu di ranah personal, rumah tangga, maupun komunitas.

Kasus terbaru, seperti pemerkosaan seorang siswi SMP berusia 13 tahun di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan oleh 21 pria pada bulan Ramadan 2017. Kejahatan ini serupa dengan kasus yang menewaskan Yuyun, gadis berusia 14 tahun yang diperkosa 14 pemuda di Bengkulu pada Apri 2016.

Rangkaian kekerasan terhadap perempuan sekaligus anak-anak tersebut tidak dapat dilepaskan dari berbagai kasus kekerasan. Seolah tidak mendapat perhatian serius, sehingga melanggengkan kultur kekerasan. Kasus kekerasan terhadap perempuan, seperti Marsinah pada 1993 hingga saat ini, belum mendapat titik terang penyelesaian.

Presiden Jokowi perlu bertindak memutus rantai kekerasan seksual seperti yang telah dijanjikan pada poin pertama Nawacita. Menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara.

Untuk mendorong Presiden Jokowi menepati janjinya, yuk bareng-bareng kita datang ke #AksiKamisan 515 pada Kamis, 23 November 2017, pukul 16.00 s/d 17.00 WIB, depan Istana Presiden, DKI Jakarta.

*KontraS

___________________

Artikel Terkait: