Krisis Moralitas

Krisis Moralitas
©Wallup

Indonesia seolah dirasuki krisis moralitas.

Melihat dari kasus yang terjadi di Jakarta Selatan, pencabulan yang terjadi oleh tetangga dan seorang kakek dan kasus seorang guru les mencabuli siswanya, dengan rentang usia korban 4 – 14 tahun, sungguh miris!

Akhir-akhir ini kita dikejutkan dengan kabar prihatin yang lagi-lagi terjadi kejadian yang sama dan masih saja terulang. Kejahatan seksual menjadi hal yang biasa dapat dilakukan tanpa pikir panjang oleh si pelaku.

Ironinya, Indonesia seolah dirasuki krisis moralitas. Tidak lagi menganggap anak-anak sebagai sosok yang harus disayang dan dikasihi karena masih dalam tumbuh kembang yang membutuhkan kasih dan sayang.

Anak dalam usia dini adalah makhluk sosio-kultural yang sedang mengalami proses perkembangan dengan sangat fundamental bagi kehidupan selanjutnya. Anak usia dini mengalami suatu proses perkembangan yang fundamental dalam arti bahwa pengalaman perkembangan pada anak usia dini dapat memberikan pengaruh yang membekas dan berjangka waktu yang lama sehingga melandasi proses perkembangan anak selanjutnya.

Semula semua dianggap hal biasa di mana tidak ada kekhawatiran apalagi ketakutan bagi orang tua dan anak, tujuan para anak hanya ingin belajar dan menjadi sosok yang bertanggung jawab untuk diri sendiri dan keluarga. Tapi di penghujung masa belajar, seolah-olah ada batu besar yang menghambat untuk para anak bergerak.

Ketakutan anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan, menjadi momok besar dalam hati kecilnya, kenyamanan mulai terusik, tidak ada kebebasan untuk bergerak, ketidakpercayaan kepada orang sekitar, keramahan pun pudar.

Saat ini orang tua harus memberikan waktunya untuk mendidik anak-anaknya. Anak-anak sudah bisa diberikan pendidikan ringan tentang seks dari usia dua tahun. Kita bukan hanya menjaga anak sendiri tetapi juga menjaga kualitas anak untuk masa depan bangsa dan negara.

Kesehatan mental dan traumatic menjadi peristiwa pahit bagi anak yang tidak akan terlupakan seumur hidupnya.

Teori psikoanalitik berawal dari karya  Sigmund Freud. Melalui pekerjaan klinisnya dengan pasien yang menderita penyakit mental, Freud percaya bahwa pengalaman masa kecil dan keinginan tak sadar memengaruhi perilaku, bahwa pengalaman awallah yang memainkan peran terbesar dalam membentuk perkembangan.

Sedini mungkin orang tua benar-benar harus mampu mengajarkan pendidikan seksual kepada anak-anaknya, karena stigma bahwa seseorang di sekitar dapat bermoral tinggi tidak dapat lagi diharapkan. Sebaik mungkin pendidikan seksual harus diajarkan di internal keluarga untuk mencegah adanya kasus pencabulan lainnya.

Baca juga:
    Rizki Sarni Purba
    Latest posts by Rizki Sarni Purba (see all)