Kritik Atas Masyarakat Rasional-Empiris-Logis

Kritik Atas Masyarakat Rasional-Empiris-Logis
©Media Indonesia

Kondisi validitas kebenaran dipegang oleh orang-orang berpredikat rasional-empiris-logis.

Maaf. Ini mungkin kegelisahan saya yang tak biasa dirasakan oleh orang pada umumnya. Yaitu soal otoritas kevalidan argumentasi dari seseorang.

Sudah menjadi hal yang umum bahwa seorang sarjana, doktor dan profesor atau yang sejenisnya punya tingkat kualitas valid lebih tinggi dibanding orang biasa. Tapi inilah yang saya gelisahkan.

Masyarakat secara tidak sadar menerima kontruksi pandangan seperti di atas. Terkhusus masyarakat perkotaan. Sederhana saja; dalam konstruksi masyarakat, profesor dan tukang becak lebih dipercaya kata-katanya. Ambil contoh soal Virus Korona yang booming akhir-akhir ini. Sudah barang tentu, masyarakat akan lebih percaya kata-kata profesor dibanding tukang becak.

Setelah merenung cukup lama, kegelisahan terkait konstruksi pandangan masyarakat yang seperti dijelaskan sebelumnya, saya punya beberapa kesimpulan. Pertama; jika masyarakat berpandangan profesor yang lebih pantas menyampaikan kebenaran dibanding tukang becak, maka menjadilah kebenaran hanya dimiliki oleh orang-orang elite. Mungkin dalam bahasa banyak pemikir kritis, kondisi seperti ini digambarkan sebagai the manipulation of claim truth.

Sepertinya kondisi seperti dijelaskan di atas sudah cukup lama bercokol di masyarakat. Sehingga menjadi hal yang sulit untuk mengubahnya. Boro-boro mengubah, punya pikiran berbeda soal validitas kebenaran seperti ini saja bisa terancam dikucilkan.

Sebenarnya, kondisi semacam ini pernah diubah oleh agen aufklarung di dunia Barat. Bahkan, otoritas kebenaran yang waktu itu dipegang gereja benar-benar dilumat habis sampai pada akhirnya muncul ateisme sebagai lawan berpikir dari cara berpikir sebelumnya.

Tetapi, sangat disayangkan. Agen aufklarung yang membawa semangat perubahan dan pencerahan itu kemudian harus menelan pil pahit. Sebab di kelanjutan sejarahnya, manusia modern hasil kritik atas otoritas gereja itu juga terjatuh pada kondisi yang sama seperti di zaman abad pertengahan.

Baca juga:

Manusia modern menjadikan rasio sebagai pemegang otoritas kebenaran tertinggi. Jika ada sesuatu yang tidak rasional, maka oleh orang modern disingkirkan dari kehidupan. Maka menjadilah orang modern seperti sekarang ini. Kondisi validitas kebenaran dipegang oleh orang-orang berpredikat rasional-empiris-logis.

Sementara kesimpulan yang kedua adalah berkaitan dengan kondisi masyarakat yang tak bisa klaim validitas kebenaran. Masyarakat awam adalah hasil konstruksi pandangan seperti dijelaskan di atas. Kesenjangan antara kelas orang berpredikat rasional-empiris-logis dengan orang yang tak punya pemikiran rasional-empiris-logis sangat kentara.

Sebagai jaminan dari orang yang berpredikat rasional-empiris-logis adalah dia akan hidup sejahtera. Ia akan didamba-dambakan oleh masyarakat yang tak berpredikat rasional-empiris-logis. Sampai kemudian rela berkorban apa pun demi orang yang berpredikat rasional-empiris-logis.

Seperti yang saya singgung di atas. Menurut saya, terminologi “orang awam” itu jika dianalisis muncul dari hasil dialektika antar kelas tadi. Orang awam menempati hierarki paling bawah dari hierarki sosial dalam masyarakat.

Sudah barang pasti, masyarakat awam yang tak punya cara berpikir rasional-empiris-logis ini menjadi orang yang paling tak diuntungkan. Setiap hari, bahkan setiap jam, orang awam akan dibuat bingung.

Kebingungan masyarakat awam biasanya disebabkan karena ternyata dalam kelas masyarakat dengan cara berpikir rasional-empiris-logis ini ada perbedaan kesimpulan. Satu kelompok bilang A, sedang kelompok lain bilang B. Ini kemudian membuat masyarakat awam berkonflik sampai saling benci dan mungkin membunuh.

Hal yang lain yang dapat saya simpulkan dari perenungan yang cukup panjang ini adalah ternyata pandangan orang awam terhadap masyarakat yang cara berpikirnya rasional-empiris-logis dipengaruhi oleh media. Media menjadi alat propaganda orang rasional-empiris-logis untuk memperkuat konstruksi, yang bagi saya cukup menindas ini, dengan sangat tepat. Media menjadi satu-satunya legitimasi paling mudah digunakan untuk memperkuat konstruksi masyarakat seperti yang saya jelaskan di atas.

Baca juga:

Hasilnya jelas. Masyarakat awam yang tiap hari disuguhi tontonan yang rasional-empiris-logis akan makin percaya terhadap apa pun yang diucapkan oleh orang yang punya cara pikir rasional-empiris-logis. Sederhana saja, orang akan lebih tertarik dan mungkin dalam hatinya mengiyakan kalau sabun merek tertentu lebih mampu membersihkan dan menjaga kesehatan daripada sabun dengan merek yang lain. Akibatnya, masyarakat akan berbondong-bondong datang ke warung, swalayan atau toko-toko untuk membeli sabun dengan merek tersebut.

Hal yang perlu dilakukan sekarang adalah revolusi cara berpikir. Menjadi menarik ketika dalam masyarakat dengan hierarki seperti digambarkan di atas kemudian terjadi perubahan total. Akan terjadi keselarasan dan egalitarian yang mungkin bisa saja lebih mendekati makna humanisme yang sebenarnya. Dibandingkan humanisme yang sudah dikonstruksi oleh masyarakat dengan berpredikat rasional-empiris-logis sebelumnya.

Tukang becak boleh berkata apa pun dan soal apa pun asalkan dia punya keyakinan terhadap perkataannya. Bahkan, pemulung, orang gila, orang miskin, kuli pabrik dan lain sebagainya, punya ruang untuk klaim validitas kebenaran kata-katanya.

Dengan kondisi itu, perkataan pemulung, orang gila, orang miskin, kuli pabrik dan lain sebagainya, bisa didengar oleh dunia. Selain itu, pengetahuan juga akan mengalami perkembangan yang signifikan karena klaim validitas kebenaran tak dipunyai oleh segelintir orang saja.

Inilah kondisi masyarakat sekarang yang sangat menggelisahkan saya. Tentu saja hasil renungan saya ini bisa saja dibantah. Atau mungkin dipertanyakan kembali. Benar dan tidaknya, saya kembalikan kepada pembaca untuk melakukan refleksi kondisi masyarakat hari ini.