Kultivasi Kosmik Ridley Scott: Tuhan Tanam Kentang!

Kultivasi Kosmik Ridley Scott: Tuhan Tanam Kentang!
©Dafunda

Usaha kultivasi kosmik dalam film “The Martian” ini cukuplah dramatis.

I’m going to have to science the shit out of this. Mars will come to fear my botany powers (Mark Watney).

Kutipan kental dengan semangat seorang penyintas angkasa luar di film “The Martian” (2011) itu cukuplah untuk menjadi modal besar sebagai Tuhan di Mars. Aroma kolonialisasi juga tercium kuat dengan ucapan Mark Watney: They say once you grow crops somewhere, you have officially colonized it. So, technically, I colonized Mars. In your face, Neil Armstrong!

Itulah sebagian kutipan inti dalam film ini yang akan mengaduk-aduk “deisme” dan keterujian ala Karl Popper.

Keterujian (testability) merujuk pada kemampuan sains untuk menguji pernyataan. Hal ini dapat ditarik dari pandangan falsifikasi yang pernah diajukan oleh filsuf Karl Popper. Menurutnya, “karakteristik pembeda dari pernyataan empiris (adalah) kerentanannya pada revisi; faktanya, ia dapat dikritik dan diganti oleh yang lebih baik”.

Aroma ini juga tercium jelas dalam film “The Martian”. Saat sang penyintas, Watney, berusaha dengan gigih menggunakan kayu salibnya untuk menyalakan api di Mars dengan menyerutnya pelan sebagai pemantik!

Film fiksi ilmiah Amerika yang berdurasi 2 jam lebih ini merupakan adaptasi novel fiksi ilmiah yang berjudul “The Martian” (2011) karya Andy Weir. “The Martian” disutradarai oleh Ridley Scott, diproduseri oleh Simon Kinberg, Ridley Scott, Aditya Sood, Michael Schaefer dan Mark Huffam. Sedang naskah filmnya ini ditulis oleh Drew Goddard.

Film ini bercerita tentang seorang astronot NASA dan sekaligus ahli botani, Mark Watney, yang bertahan di Mars selama lebih dari setahun dengan teknik penyintas logistik makanan dengan menanam kentang ala kultivasi kosmik.

Menelusuri cerita film, awalnya kita bakal disuguhkan oleh pemandangan planet Mars beserta enam kru astronot NASA pimpinan Melissa Lewis (Jessica Chastain). Mark Watney (Matt Damon) menjadi bagian dari timnya yang sedang melaksanakan misi khusus hingga akhirnya terpisah karena badai Mars.

Tak disangka, Watney masih hidup dan harus menetap sendirian di Mars. Beruntung bagi Watney, semangat untuk bertahan hidup sudah mendarah daging di dalam dirinya. Ditambah lagi, ia memiliki keterampilan khusus yang membuatnya bisa bertahan hidup lebih lama. Watney pun melakukan cara terbaik untuk bisa makan dengan bercocok tanam di Mars.

Dalam hal ini, sutradara tepat memasang prosedur utama penyintas, logistik dan kesepian sejawat. Upaya kultivasi adalah hal logistik dan upaya merekam “electronic diary” yang dilakukan penyintas adalah hal kesepian sejawat.

Memasang bintang film Matt Damon sebagai Mark Watney cukuplah cerdas dalam menavigasikan antusias sains pemirsa terhadap fiksi ilmiah. Aktor Matt Damon tentu sudah kenyang dengan mencelotehkan dialog ataupun monolog yang sarat dengan data-data numerik dan setumpuk “glossary” ala sains dalam film-film fiksi ilmiah yang pernah dilakonkannya seperti pada trilogi “Bourne”.

Mengulas film berjudul “The Martian” (2015) akan menguras deras cadangan keilmuan astronomi dan filsafat Mars. Di dalamnya, kita akan disuguhi sejumlah “scientific misconduct” di mana peresensi film tidaklah cukup hanya menonton sambil ngemil. Namun, harus dapat memberikan wawasan yang cukup terhadap manifes sains di dalamnya.

Sebagai bentuk tanggung jawab moral dari filsafat Mars, ahli genetika Amerika, Chris Mason, berkata, “manusia memiliki kewajiban moral untuk melestarikan kehidupan dalam segala bentuknya!” Termasuk mengusulkan rencana 500 tahun untuk meretas kehidupan dan bertahan hidup di Mars.

Untuk mewujudkannya, salah satu sumbangan dari dunia perfilman adalah upaya pendekatan dengan membuat fiksi ilmiah yang nikmat ditonton dan tetap bisa menghibur penonton yang bukan penggemar berat fiksi ilmiah. Idealnya, walaupun karya fiksi, sebisa mungkin sang sutradara film-film tentang Mars menghindari “scientific misconduct” atau pelanggaran standar ilmiah.

Di dunia sains, “scientific misconduct” terdiri atas “fabrication” dan “falsification”. Fabrikasi dapat disebut secara singkat sebagai mengarang (make up), sementara falsifikasi adalah memalsukan (changing the true description). Integritas ilmiah, dalam arti luas, tidak dapat dipisahkan dari penanganan yang bertanggung jawab dari keinginan manusia untuk pengetahuan dan rasa ingin tahu manusia. Walaupun itu untuk karya fiksi ilmiah.

Di dunia sains, konsekuensi dari “scientific misconduct” adalah penarikan (withdrawal) artikel yang telah terbit dari jurnal tertentu. Kasus ini dikenal dengan istilah retraction atau retraksi. Untungnya, perfilman tak mengalaminya.

Walaupun film “The Martian” penuh dengan ‘duka sains”, ia telah mendapatkan resensi positif dari para kritikus. Berdasarkan Rotten Tomatoes, film ini memiliki rating 91%, berdasarkan 341 ulasan, dengan rating rata-rata 7,8/10. Layak juga bila film ini hanya mendapatkan penghargaan Golden Globe untuk “komedi”-nya. Bukan di sisi fiksi ilmiahnya.

Komedi konyol jelas telanjang terlihat saat usaha tim penyelamat mengurangi berat palka kapsul lontar ruang angkasa dengan kain terpal! Aksi ini cukup membuat teknologi logam ruang angkasa telak terjungkal. Mungkin sambil menyindir “Chinese Crafting” yang juga ikut andil dalam misi penyelamatan.

Dalam “The Martian”, Cina memberikan bantuan roket pendorong kepada tim penyelamat. Ini juga sindiran terhadap NASA yang sudah banyak memuseumkan pesawat ruang angkasanya.

Di dunia nyata, NASA masih di level penelitian untuk pendorong X3 Hall dari Universitas Michigan, diklaim paling kuat di dunia dan menjadi subjek penelitian PhD saat ini. Pendorong X3 Hall dapat menghasilkan daya dorong sekitar 20 Newton, mirip dengan gaya tarik gravitasi pada sekantong kentang Mars seberat 5 pon!

Baca juga:

Mars, planet yang menjadi lahan eksplorasi film ini, memiliki visibilitas magnitudo 2,6 yang membuatnya lebih terang daripada planet lainnya. Hal ini mendapat porsi penelitian yang lebih tinggi dari ilmuwan untuk menggali data-data kosmiknya.

Apakah mungkin menanam kentang di tanah Mars? Ya, dan bukan hanya kentang, monokotil dan dikotil lainnya juga bisa! Hal ini pernah dijelaskan oleh Bruce Bugbee, ahli botani dan ilmuwan NASA di dunia nyata.

Faktanya, NASA telah melakukan kultivasi kosmik di tanah yang dirancang sesuai derajat keasaman (pH) dan susunan kimiawi tanah Mars yang sebenarnya.

Usaha kultivasi kosmik dalam film “The Martian” ini cukuplah dramatis. Mark, sang penyintas, berusaha menyuburkan tanaman dengan kotoran manusia dan menciptakan air dari bahan bakar roket! Ini merupakan “scientific misconduct” pertama dalam film ini.

Di dunia nyata, dengan data sainsnya, Mars, pada koordinat tertentu, sudah memiliki air serta tanahnya kaya nitrat, pupuk yang hebat! Jadi tak perlu tinja astronot. Jika terpaksa pun, tinja manusia tidak begitu saja langsung bisa digunakan sebagai pupuk. Ini akan berbahaya secara mikrobiologis dan mungkin beracun bagi tanaman.

Sampah (tinja astronot) harus dikomposkan terlebih dahulu – biasanya selama beberapa bulan dalam drum yang berputar. Namun hal ini tidak dilakukan di film ini. Hanya diaduk manual seperti membuat bubur, itu pun dalam hitungan detik.

Ketidakselarasan sains kedua adalah badai pasir Mars tidak cukup kuat untuk menyebabkan kerusakan. Badai Mars itu lebih seperti angin sepoi-sepoi. Sedang yang tepat di film ini cuma satu, yaitu tentang “sol” atau istilah khusus hitungan hari di Mars.

Sol adalah satu hari di Mars. Bumi berputar pada porosnya setiap 24 jam. Mars berotasi setiap 24 jam 40 menit. Tampilan digital “sol’ ini kerap muncul di layar Anda mengiringi serunya petualangan.

    Yudho Sasongko
    Latest posts by Yudho Sasongko (see all)