Lelaki yang Menggilai Cintanya

Lelaki yang Menggilai Cintanya
Ilustrasi: Koran Minggu

Sudah hampir delapan tahun lebih lelaki itu memendam perasaan. Selama itu pula ia memendam luka yang begitu menyesakkan kepada gadis pujaannya, sang belahan jiwa.

Entah sudah berapa kali aku menasihatimu, kawanku. Bahwa menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Ya, seperti sabda sang presiden edan Mbah Sujiwo Tedjo: kau bisa merencanakan menikah dengan siapa, tapi tak bisa kau rencanakan cintamu untuk siapa. Kalau kau coba lebih realistis sedikit saja, kau pasti memahami maksudnya.

Aku tak pernah mengerti dari mana keyakinan cintamu itu tumbuh. Kau selalu meyakini bahwa mencintai itu adalah menderita. Aku sampai sekarang belum mampu memahami cinta yang kejam seperti itu.

Selama delapan tahun lebih kau rela menderita demi menjaga kesakralan cintamu itu. Bahkan tak pernah sekalipun gadis yang kau puja itu mengetahui bagaimana perasaanmu kepadanya.

Kau selalu membayangkan bahwa dirimulah si Zainuddin dalam hikayat tenggelamnya Kapal Van Der Wijk yang dikisahkan Buya Hamka. Kau bahkan sering bercerita kepadaku bahwa kau akan mengenang gadismu seperti Zainuddin mengenang Hayati-nya. Dan karena ceritamu itulah aku membayangkan betapa dirimu sama gila dan bodohnya dengan Zainuddin.

Bukankah Zainuddin telah diberi kesempatan untuk hidup bersama Hayati? Setelah suami Hayati sendiri yang menyerahkan Hayati kepada Zainuddin lewat surat yang dia tulis. Surat itu untuk menceraikan Hayati dan meminta maaf kepadanya karena telah berlaku kejam kepada Zainuddin.

Tapi, Zainuddin sendirilah yang meminta Hayati untuk pulang kembali ke kampung halamannya. Dan kau tahu akhir cerita Hayati dan Zainuddin? Mereka mati berkalang tanah tanpa pernah bisa mereguk manisnya cinta mereka.

Mungkin benar bahwa hal yang paling sia-sia di muka bumi adalah menasihati orang yang sedang dimabuk cinta sepertimu.

***

Sahabatku, aku hanyalah lelaki yang cukup mencintai saja tanpa perlu dicintai. Sebab apa yang telah kucintai laksana seorang anak kini tak henti-hentinya aku mencintai. Dan, apa yang kucintai kini akan kucintai sampai akhir hidupku. Karena cinta ialah semua yang dapat kucapai. Tak ada yang akan mencabut diriku dari padanya. Begitulah sajak Kahlil Gibran sang penyair termasyhur itu telah merasuk dan mengilhami keyakinan cintaku ini.

Jadi, bagiku, mencintai seperti caraku ini bukan sebuah pemujaan yang buta tanpa dasar. Inilah hakikat dari mencinta yang aku alami sendiri dan begitu menggugah hidup dan kehidupanku.

Aku maklum akan kekhawatiranmu, sahabatku. Selama delapan tahun ini kau telah menjadi pendengar segala duka cintaku ini. Tapi, dirikulah yang lebih tahu tentang mesti bagaimana aku menyikapi cinta ini.

Apakah kau tak ingat juga petuah Mbah Sujiwo Tedjo? Bahwa banyak orang pacaran, seabrek orang menikah, tapi cuma segelintir yang mengalami cinta. Aku ingin menjadi yang segelintir saja.

Ini tentang sebuah pilihan, sahabatku, tentang bagaimana kau menjalani kehidupanmu dengan cinta dan mencintai. Aku hanyalah segelintir saja yang bisa merasakan bagaimana cinta ini begitu mendalam kepadaku tanpa berharap balasan dari gadis pujaanku. Biarlah ia menjadi sang bunga penutup abad seperti kisah Minke dan Annelies dalam Bumi Manusia-nya sang maestro Pramoedya Ananta Toer.

Kisah cintaku ini belum seberapa dibandingkan dengan cinta Qais kepada Layla dalam hikayat Layla Majnun yang dikisahkan Nizami Ganjavi, yang menjadikan Qais gila karenanya.

Dan kau tahu, sahabatku? Kisah ini pulalah yang telah banyak menginspirasi para penyair dan sastrawan dari abad ke abad, seperti kisah Romeo dan Juliet-nya William Shakespeare, Magdalena-Stevan karya Alphose Karr berjudul Sous les Tilleus (yang dalam bahasa Prancis berarti Di Bawah Pohon Tilia) kemudian diterjemahkan dan disadur oleh Musthafa al-Manfaluthi menjadi Majdulin, dan juga hikayat Hayati dan Zainuddin dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk karya Buya Hamka.

Sahabatku, aku hanyalah lelaki dengan kisah cinta yang biasa saja. Bahkan tak berharap jadi apa-apa. Bahkan beroleh balasan pun rasanya tak lagi berharap. Bukan aku tak mau, tapi aku tak mampu. Biarlah cintaku ini tetap begini sampai aku sendiri tak lagi mampu untuk mencintai.

***

Ya, sudahlah, kawanku. Jika memang itu jalan cinta yang kau kehendaki untuk hidup dan kehidupanmu, maka aku, sebagai sahabatmu, hanya mampu menjadi saksi atas kisah cintamu itu.

Bagiku, kau adalah lelaki dengan kisah cinta yang gila. Lelaki yang menggilai cintanya.

Muh Ihsan Tahir
Muh Ihsan Tahir 10 Articles
Mahasiswa Hukum Islam Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Ketua Umum Ikatan Pelajar Mahasiswa Majene Yogyakarta (IPMMY) Periode 2016-2017.