LGBT, Apanya yang Akan Kau Apakan?

LGBT, Apanya yang Akan Kau Apakan?
Ilustrasi: postimg.org

Mengapa mereka begitu membenci kelompok LGBT? Apakah jika indikasinya ditemukan sesaat setelah bayi lahir lantas para orangtua akan membunuhnya?

Saya adalah orang pertama yang mesti bersyukur, karena perilaku ke-LGBT-an sampai saat ini belum dapat terdeteksi sejak bayi. Jika indikasinya akan ditemukan, mengingat kecanggihan teknologi dan jampi-jampi, tentu akan menambah deretan keadaan yang mesti digalaukan.

Mau diapakan bayiku dan bayimu yang terindikasi sifat LGBT? Dibiarkan dalam kandungan, dibinasakan, atau justru bersepakat saja dengan istrimu untuk tidak tidur seranjang? Wah, bisa-bisa kau menjadi ayah/ibu yang LGBT nantinya.

Penerimaan saya terhadap kelompok LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) tidaklah sama seperti penerimaan para tokoh dunia (Alexander Agung, Julius Caesar, Francis Bacon, dll) lakukan.

Secara kualitas, mereka memiliki disiplin ilmu yang mapan, sementara saya tidak demikian. Selain itu, pembelaan mereka adalah hal yang mungkin sebab dalam praktiknya mereka turut melakukan, sedangkan saya menerima karena belum mencoba. Hehe.

Praktik homoseksual sebagai bagian dari LGBT sejatinya telah dikenal jauh-jauh hari. Dalam ajaran agama Islam, kelompok ini muncul sekitar 4200-an tahun sebelum masehi. Mereka disebut kaum Sodom, sebelum akhirnya dibinasakan Tuhan.

Tertarik? Ikuti kisahnya dalam QS. Al-A’raaf ayat 80-81 dan QS. Hud ayat 79, 82, 83.

Sedangkan pasangan homoseksual pertama yang tercatat dalam sejarah adalah pasangan Khnumhotep dan Niankhkhnum dari Mesir Kuno yang hidup sekitar tahun 2400 SM. Selanjutnya, praktik homoseksual terus bergulir dan menggilir hampir seluruh negara dunia, tidak terkecuali indonesia.

Pada tahun 1973, APA (Asosiasi Psikiatri Amerika) mengeluarkan homoseksual dari daftar penyakit mental atau DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders). Artinya, perilaku homoseksual adalah normal, sementara penolakan terhadapnya merupakan abnormal dan dianggap homophobia.

Meskipun Belanda adalah negara pionir, mengakui pernikahan pasangan homoseksual sejak tahun 2001, akan tetapi keberadaan kaum homoseksual menjadi sorotan dunia baru dimulai sejak 2015; sesaat setelah Mahkamah Agung Amerika Serikat mengeluarkan putusannya tertanggal 26 Juni 2015. Isinya, melegalkan pernikahan sesama jenis.

Sebelum dikeluarkannya keputusan lembaga peradilan tertinggi negara adikuasa tersebut, Komunitas LGBT di Indonesia telah lebih dahulu menggelar aksi damai. Mereka memperingati IDAHOT  (Internasional Day Againts Homophobia and Transphobia) pada tanggal 17 Mei 2015 di bundaran HI (Hotel Indonesia).

Dan, setelah dikeluarkannya keputusan tersebut, kelompok LGBT Indonesia tidak lagi canggung menggonggong dan mengaung. Simak saja pristiwa di mana mahasiswa UI berani mengaku LGBT, dan para pendukungnya percaya diri mendirikan SGRC (Support Group and Research Center) UI.

Bagi sebagian orang, LGBT di Indonesia sudah sangat keterlaluan. Mereka tidak lagi malu-malu; tidak tahu malu; tidak punya kemaluan. Oupss…, kebablasan.

Menyikapi hal ini, saya tak ingin mendebat dan berdebat dalam melihat LGBT. Entah dia penyakit sikologis maupun psikologis, bersifat aktif ataupun pasif, menular, menjalar, menjulur, dan sebagainya, yang jelas mereka adalah bagian dari realitas.

Terhadap realitas, alam pemikiran manusia terus bergerak. Mulanya pikiran manusia disokong monisme (doctrine of unity); manusia itu hanya jasad saja, misalnya. Selanjutnya, muncul paham Dualisme (doctrine of duality); manusia dapat berupa jasmani dan rohani. Terakhir, hadir paham Pluralisme (doctrine of multiplicity); manusia bisa terdiri atas jasmani, rohani, akal, dan lain sebagainya.

Semula, dalam memahami manusia, hakikatnya adalah jiwa tanpa jenis klamin; bergeser lagi pada pemahaman bahwa manusia ada pria dan wanita;  terus bergerak hingga memahami manusia bisa jadi pria, wanita, setengah pria dan setengah wanita, atau sebaliknya. Paham manakah yang layak digunakan, dalam menyikapi kehadiran kelompok LGBT? Ya, itu terserahmu.

Pun demikian, kehadiran kelompok LGBT menjadi sebuah keniscayaan. Faktanya mereka telah hadir di tengah-tengah kehidupan kita. Maka harusnya yang kita lakukan adalah menerima dengan penuh cinta, atau menolak tanpa harus membenci.

Dalam hal ini saya tawarkan “teori mendekati agama lain” yang dibawa oleh Hans Kung. Mulanya teori ini merupakan  strategi;  melakukan  pendekatan terhadap suatu agama, kemudian saya coba gunakan dalam memahami kelompok-kelompok di tulisan ini.

Pertama, strategi benteng; di mana seseorang dituntut agar mendalami jati dirinya masing-masing. Guna menghindari pengaruh kelompok (LGBT) yang berbeda denganmu, mulailah pertebal keimananmu, pertegas status kejombloanmu, dan perjelas jenis kelaminmu.

Kedua, strategi cuek; pada posisi ini Anda dituntut untuk tidak mencampuri apa yang dirasakan dan dialami oleh mereka kelompok yang berbeda denganmu. Bijaksanalah dengan membiarkan mereka berjalan sesuai versinya.

Ketiga, strategi merangkul; sembari sikap yang masih bertahan pada level cuek, kesadaranmu harus mengerti bahwa kelompok LGBT merupakan bagian dari sejarah peradaban manusia. Dan untuk mencapai perdamaian, diperlukan interaksi dan integrasi dari seluruh kelompok manusia.

Keempat, strategi ekumenis; di level ini, persatuan dan kerja sama antar kelompok manusia adalah hal utama. Masing-masing kelompok membawa satu nilai yang sama, yaitu kemanusiaan; merancang kehidupan bersama secara akur dan rukun.

Strategi keempat adalah yang penulis rekomendasikan terhadap segenap pembaca yang budiman.

Akhir kata, Menerima atau menolak LGBT adalah hal yang lumrah. Standpoint-nya adalah mengambil sikap atas dasar pemahaman yang komperehensif; mengerti duduk permasalahan. Hal ini menjadi penting agar niatan yang semula membina tidak berujung membinasakan.

___________________

Artikel Terkait:
Latest posts by Abu Bakar (see all)