Li Bin dalam Catatan Harian Dahlan Iskan

Li Bin dalam Catatan Harian Dahlan Iskan
©El Espanol

Saya diminta untuk memberikan pandangan dalam bentuk tulisan terkait catatan Dahlan Iskan mengenai Li Bin dan perusahaan yang dirintis di Tiongkok. Pandangan dalam bentuk catatan itu saya berikan seadanya saja dan tentu dengan pengetahuan yang terbatas.

Berikut pandangan saya terkait catatan Dahlan Iskan tersebut.

Dahlan Iskan pada salah satu catatan hariannya menceritakan tentang Li Bin atau William Li. Elon Musk dari Tiongkok. Seorang anak muda berusia 43 tahun yang memiliki ambisi kuat untuk mengalahkan Tesla.

Diceritakan oleh Pak Dahlan bahwa pada suatu waktu, Li terlihat di Wall Street, New York, untuk mencari uang melalui pasar modal. Dari usahanya, ia akhirnya bisa mengantongi 1 miliar USD atau sekitar 15 triliun.

Saat ini, perusahaan Li yang bernama Weilai, Langit Biru, atau Nio sebagai nama internasionalnya, memang masih mengalami kerugian dengan angka triliunan rupiah. Namun, Li selalu yakin, perjuangan dan kerugian hari ini akan berbuah manis sekitar 3 atau 4 tahun lagi. Sebuah sikap optimis tanpa batas telah ditunjukkannya atas jalan juang yang ditapaki.

Mobil listrik. Itulah yang saat ini sedang dikembangkan Li. Sebuah kondisi lingkungan transportasi masa depan yang niscaya tidak dapat ditolak dan akan menggantikan transportasi berbahan bakar fosil seperti sekarang.

Mobil listrik, selain harganya yang lebih terjangkau bagi masyarakat, dengan baterai sebagai sumber energinya, akan berkontribusi bagi berkurangnya polusi dan kerusakan lingkungan. Tentu ini akan sangat baik bagi suatu negara yang ingin memperbaiki kualitas lingkungannya.

Tidak adanya polusi lingkungan karena tidak adanya sampah hasil pembakaran yang diakibatkan dari penggunaan baterai yang berbeda dari fosil. Tidak mengakibatkan kerusakan lingkungan karena sumber energi yang diperoleh tidak bersifat mengeksploitasi lingkungan seperti yang dilakukan pada energi fosil dengan menggali isi bumi.

Baca juga:

Saat ini, Li hanya “mematok harapan” atas semua yang dirintis. Namun, ketika masa depan itu telah tiba, Li yakin, kejayaan akan berada dalam rengkuhannya. Apa yang dikisahkan oleh Dahlan Iskan tentang Li adalah kisah tentang bagaimana orang-orang sukses Tiongkok membangun usahanya.

Selain Weilai yang dibangun Li, memang Tiongkok sendiri memiliki banyak perusahaan raksasa terkenal seperti Tencent, Alibaba, dan Baidu atau Google-nya Tiongkok. Untuk masalah mobil listrik sendiri, tentu saja pemetintah Tiongkok sangat mendukungnya. Sehingga banyak sekali pabrik mobil listrik berkembang di negeri itu.

Bahkan, dari seluruh mobil listrik yang ada di dunia, 60 persen mobil listrik berada di Tiongkok.

Memang, kehadiran orang-orang semacam Li Bin tidak bisa kita lepaskan dari peran negara sendiri yang berkehendak membuka ruang-ruang kebebasan untuk warganya berekspresi dalam menuangkan bakat-bakatnya. Dan ini berarti kehadiran Li Bin tidak dapat dilepaskan dari negara yang bernama Tiongkok.

Berbicara tentang Tiongkok telah sering membuat banyak orang dibuat terkesima. Sebuah negara bekas kolonisasi asing, yang juga diperintah lama dengan hegemoni feodalisme, adalah contoh terbaik untuk dipelajari oleh negara-negara dunia ketiga yang ingin bangkit hari ini.

Mulai dari upaya mereka membebaskan diri dari cengkeraman asing. Lalu membumi-hanguskan kungkungan feodalisme. Lalu menerapkan sistem komunisme, mulai dari lompatan jauh ke depan hingga revolusi kebudayaan. Yang pada akhirnya semua dievaluasi kembali secara total karena dianggap gagal menyejahterakan rakyatnya.

Buntut dari itu adalah “penerimaan kapitalime” yang pernah mereka “kutuk” sebagai yang “haram” di negeri mereka sendiri untuk dijadikan sebagai cara bagaimana modal diatur dengan kendali negara yang kuat. Akhirnya, sebuah “capitalism led by state” dibangun di atas reruntuhan fanatisme buta sistem komunisme.

Dan pada kongres ke-19 PKC, dengan mulai diterapkannya mekanisme transparansi pengelolaan negara, Tiongkok modern, di bawah naungan Xi Jinping. Dengan “era baru sosialisme dengan karakteristik Tiongkok”, yang telah memasuki habitat Revolusi Industri 4.0. siap menyongsong zaman baru.

Baca juga:

Ketika memasuki panggung internasional, perjuangan Tiongkok untuk menyejahterakan rakyatnya menjadi tidak mudah. Ia akan terus berhadapan dengan saingan-saingannya yang kuat. Baik dari Amerika, Eropa, maupun di Asia sendiri seperti Jepang dan India.

Melihat begitu luar biasanya Tiongkok, sekalipun jalan yang ditempuh tidaklah mudah, membuat kita teringat pada sebuah bunyi hadis yang mengatakan dengan begitu bijaksana; “belajarlah engkau walau sampai di negeri Tiongkok”.

Dan hadis tidak boleh sekadar berhenti sebagai hadis. Darinya, pertanyaan sederhana namun “menantang” dapat kita suguhkan di sini. Apa yang dapat dipelajari oleh bangsa Indonesia dengan perkembangan Tiongkok yang luar biasa itu? Menjawabnya, kita bisa mengukurnya dari kesiapan Indonesia sendiri.

Ambilah contoh seperti yang telah kita bahas di awal terkait problem mobil listrik. Kita pernah memiliki pengalaman dengan kasus Dasep Ahmadi. Kasus yang dialami oleh Dasep itu berkaitan dengan pengadaan mobil listrik untuk kegiatan Asia Pasific Economic Cooperation (APEC) XXI pada tahun 2013.

Diduga, karena perbuatannya, ia telah menimbulkan kerugian negara sebesar Rp28,9 miliar. Bukannya ia di-support terus-menerus untuk mengembangkan kemampuannya dalam mengembangkan mobil listrik, Dasep justru dijatuhi hukuman 7 tahun penjara. Dan masih harus diminta membayar 17 miliar.

Sebuah kenyataan yang memilukan ketika kita mengetahui ada anak bangsa yang berupaya mengembangkan segala potensinya malah tidak mendapatkan apresiasi sama sekali. Justru sebaliknya, hasil akhirnya ia harus mendekam di dalam penjara. Sebuah fakta pahit yang mau tidak mau harus kita telan.

Ditelannya fakta pahit ini tidak berarti bahwa lantas membuat kita sebagai “warga negara yang baik” menjadi pesimis untuk memberikan segala potensi kita untuk berkontribusi bagi kemajuan negara. Upaya-upaya terbaik sudah seharusnya tetap kita lakukan.

Yang pertama, tetap mengembangkan segala potensi kita yang kita miliki. Yang kedua, kita harus menjadi warga negara aktif dalam berpartisipasi mengontrol jalannya negara yang bertanggung jawab agar potensi yang kita miliki bisa diwujudkan secara maksimal.

Baca juga:

Baru kemarin, kita dihadiahkan oleh Presiden Jokowi sebuah pidato yang luar biasa di depan Forum Ekonomi Dunia. Sebuah pidato yang bagi saya sendiri dapat dijadikan jalan bagaimana Indonesia seharusnya melangkah. Tentu saja itu berkaitan dengan keharusan masuknya Indonesia di dalam Revolusi Industri 4.0.

Benar apa kata Presiden, dampak dari Revolusi Industri 4.0 akan berimplikasi terhadap kesejahteraan rakyat. Tetapi, ada konsekuensi yang harus dipikul oleh Presiden Jokowi dari isi pedatonya itu.

Yang pertama, memastikan bahwa Revolusi Industri 4.0 dapat berjalan dengan baik agar ia menjadi habitat yang hidup dan menghidupi bangsa Indonesia. Yang kedua, praktik rente yang dilakukan oleh pejabat kita sudah seharusnya dihabisi.

Mengingat dampak dari Revolusi Industri 4.0 berimplikasi luas dan menciptakan distrupsi, maka kehadiran Revolusi Industri 4.0 akan sedikit mendapatkan perlawanan. Ini karena efek dari Revolusi Industri 4.0 akan mengubah bangunan hubungan-hubungan produksi lama ke hubungan-hubungan produksi yang baru.

Dan biasanya, praktik rente yang dilakukan oleh para pejabat dan pengusaha kotor selama ini, yang telah menikmati keuntungan yang begitu melimpah dari praktik berburu rente tidak akan tinggal diam. Di sinilah ketegangan itu bisa muncul.

Biasanya, dalam upaya mempertahankan periuk nasi yang sedang terancam, kalangan ini akan melakukan segala upaya untuk menghambat perubahan. Bisa dengan merebut kekuasaan dengan cara memobilisasi massa. Bisa juga memilih tinggal bersama-sama dengan Presiden itu sendiri. Pada yang terakhir inilah Presiden Jokowi harus lebih berhati-hati.

Sebagai penutup. Saya menjadi teringat sebuah dialog di dalam Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, di mana terjadi percakapan antara Minke dengan Meneer Lasteen. Pada suatu ketika, Meneer Lasten menanyakan pada Minke, apa yang telah disumbangkan bangsamu terhadap umat manusia?

Mendengar pertanyaan itu, seluruh tubuh Minke tiba-tiba menjadi rontok.

Baca juga:

Kasus Dasep yang ingin mengembangkan mobil listrik dan berakhir di penjara tidak boleh lagi terulang. Sudah seharusnya bangsa kita mengambil peran penting dalam penemuan-penemuan penting bagi kontribusinya terhadap segala macam kemanusiaan di Indonesia maupun bagi bangsa-bangsa di dunia.

Karena Indonesia besar tidak hanya berhenti pada bunyi pidato yang keren. Isi dari pidato itulah yang harus diperjuangkan untuk diwujudkan.

Indonesia sudah seharusnya bisa melahirkan orang-orang semacam Li Bin dan Elon Musk berkembang dengan optimal di tanah airnya sendiri. Pada periode keduanya, untuk semua itu, apakah Presiden Jokowi siap pasang badan?