Luka yang Beragam

Luka yang Beragam
©Popmama

Duka-duka berselimut pandu
Rasa luka tiada madu
Keruh hujan menangis sendu
Janganlah kau memberi rindu
Luka-luka yang beragam

Tak membuat mata terpejam
Sirna yang terpendam
Tolong aku wahai seribu malam
Ke manakah engkau pergi
Kau sayat remukku lagi

Hancurkan malam serta pagi
Hatiku kaku tiada bagi
Di manakah ujung waktuku
Siapa yang telah meraut wajahku
Siapa dirimu, siapa diriku

Cinta hatiku kini akan beku
Benih kasihmu yang menghilang
Sudah redup digelang bintang
Jariku luntur dikusut benang
Kulupakan walau kau datang

Jejak Lirih yang Berbaris

Di antara ranah waktu yang aku unggah
Nampak jejakmu melimpah ruah
Menguntit dalam jepitan malam
Yang keluhnya luruh terapung bayangan buram

Goresan hati yang kulukis
Menerpa lirih yang berbaris
Mengalunkan bisikan angan
Mengantarkan tautan keresahan

Bintang dalam Kesunyian

Jutaan warna melukiskan indahnya dunia
Alunan melodi bersatu menjadi irama dan lagu
Sungguh indah bukan??
Tapi tidak dengan duniaku
Tuhan memberiku dunia yang hening

Menghembuskan angin dingin ditengah kesunyian yang mencekam
Sebab aku tak bisa mendengar canda tawa anak-anak seusiaku
Tak henti sampai disitu
Tuhan juga memberiku dunia yang gelap
Gelap nampak begitu menakutkan

Sebab hanya ada hitam pekat yang aku temukan
Aku memang buta dan tuli
Tapi aku masih punya hati
Gelap tak selamanya hanya satu warna
Sunyi berarti tak sendiri

Dapatkah kau mendengar bahasa kalbuku??
Aku ingin seperti orang lain
Menjalani hidup dengan ribuan harapan
Melangkah dengan semangat yang tak padam

Aku yakin mampu mengubah duniaku
Meski langit tak berbintang
Sebab aku adalah bintang
Makhluk yang mampu menyinari dirinya sendiri

Lelah

Lihatlah
Senja itu menenggelamkanku
Pada semburat sinar sukar yang tak padam
Oleh ruang kerenjenan
Padahal malam sunyi hampir membunuhku

Senda gurau itu lenyap dalam kesepian
Seuntai kata belum terlontarkan
Hilang kelembutan sehelai benang yang diselipkan
Di antara halaman kepiluan
Lara yang hadir ini selalu melukiskan luka tersendiri

Yang membenamkan keindahanmu dipandanganku
Lepas dari mimpi yang terbit dari samudra
Dan mencari mimpi baru di angkasa
Sementara waktu terus berputar

Pijakan kaki ini seakan melayang
Hinggap pada pucuk kamboja
Tersapu gelombang waktu
Dan lumatan usia yang kian menua
Hujaman air lait itu mengenai kehancuran dihati ini

Pesan

Aku berada pada sajak rindu
Dikelilingi angin berlalu
Pada ketinggian arti palsu
Yang kudamba selalu

Selama bait tiada merayu
Larik tak berlari terbuai rindu
Semoga jelas kalimat untukmu
Tercerai berai dengan lidahmu

Kali ini bisakah aku bersabar
Dalam kepungan tak tersiar
Atau aku akan merapuh
Tinggalkan hati yang kian jenuh

Kali ini semoga terbaca
Untaian kalimat di atas beranda
Semoga terurai dengan indah
Untuk mengisi hati yang resah

    Latest posts by Lalik Kongkar (see all)