Maharani Poktowuna, Perempuan Mandar yang Cantik dan Berambut Panjang

Maharani Poktowuna, Perempuan Mandar yang Cantik dan Berambut Panjang
©Dok. Pribadi

Biasanya setiap aku sembuh dari sakit, ummi alias ibuku selalu meniatkan untuk membaca syukuran atau selamatan atas kesembuhanku, kemudian kami akan pergi menyiarahi makam leluhur. Hal ini berlangsung secara berkelanjutan. Ini bukan hanya karena aku sering kali jatuh sakit, tetapi juga setiap selesai mengadakan hajatan besar di keluarga kami misalnya pesta pernikahan. Tradisi ini tidak hanya ada di keluargaku, tetapi, setahu saya, juga di keluarga-keluarga Mandar, Sulawesi Barat lainnya.

Setelah ummi meninggal, setahun kemarin, 15 Januari 2022, di bulan September sampai Oktober, aku kembali jatuh sakit. Biasa, penyakit langganan, asam lambung (Gerd) menyapa hidupku. Adik Ammoz kemudian berniat, jika aku sembuh, ia akan membawaku pergi berziarah ke makam leluhur.

Alhamdulillah, setelah aku sembuh dan punya waktu senggang, kami segera melaksanakan niat kami, yaitu syukuran atau selamatan, lalu akan pergi berziarah ke makam-makam, kuburan, petilasan para leluhur kami. Kami memulai dengan mengadakan syukuran di rumah. Kami membaca doa bersama-sama seraya mengirimkan doa Al Fatihah kepada para leluhur Mandar, para waliullah, raja-raja dan bangsawan, tak lupa pada para orang tua kami.

Saat itu kami menyiapkan beberapa makanan tradisional yang penting seperti pisang tiga macam, nasi, nasi lemang, ayam bakar utuh, telur goreng khusus atau bahasa Mandarnya karras-karras, cucur yang terbuat dari tepung pulut dan gula merah lalu digoreng, dan lain sebagainya.

Selasa pagi itu, kami akan pergi menyiarahi makam raja atau Maradia Tie-tie yang terletak di desa Suruang, tidak jauh dari desa kami, Lapeo, Campalagian, Polewali Mandar. Dari beberapa informasi yang kami dapatkan bahwa raja Tie-tie merupakan salah seorang raja Mandar yang sangat sakti dan kuat.

Hal tersebut senada dalam buku Bunga Rampai Litak Mandar, Catatan Kaki Sang Pengelana yang ditulis oleh Dumair Kasim, M. Pd. Menuliskan bahwa Tomakaka Puang Maradia Tie-tie anak dari Puatta Saragiang di Alu hasil perkawinan dari Maradia Tinunungan. Maradia Tie-tie adalah deklarator kerajaan yang besar dengan kekuasaan wilayah yang sangat luas, bernama kerajaan Tie-tie, di mana kerajaan ini menjadi cikal bakal munculnya sejumlah kerajaan di tanah Mandar.

Tomakaka Puang Maradia Tie-tie adalah seorang raja agung yang dikenal sangat arif dan bijaksana dalam menjalankan roda pemerintahan. Ia adalah sosok yang memiliki kedekatan dengan rakyat dan sangat demokratis. Selain itu, beliau dikenal dengan sosok yang sangat ahli dalam strategi perang dan sakti mandraguna dalam dunia persilatan.

Lebih lanjut buku ini menulis bahwa Tomakaka Puang Maradia Tie-tie sangat berjasa dalam mengembalikan stabilitas keamanan di tanah Mandar dari gangguan kerajaan Passokorang, sebuah kerajaan ilegal yang memiliki pasukan atau prajurit yang sangat beringas, sebab direkrut dari sejumlah golongan hitam, para perampok, peminum minuman tuak, dan para pengacau.

Baca juga:

Jalan Singkat ke Makam Maradia Tie-tie

Hari itu, kami menemukan jalan singkat menuju makam maradia Tie-tie yang tidak sampai dua kilo dari jalanan yang bisa dilalui kendaraan bermotor. Biasanya, kami menempuh perjalanan sekitar satu jam, dengan jarak tempuh satu kilo kini hanya setengah jam namun jalanan agak curam, kami merasa setengah mati naik perbukitan.

Walau begitu, di tengah perjalanan kami disuguhi pemandangan yang indah di sekitar perjalanan ke atas. Kami melihat laut, pemukiman penduduk, yang katanya desa Lapeo karena terlihat dari jauh menara masjid Lapeo. Pohon Maja, atau Bila’ yang buahnya berjatuhan di mana-mana tapi kami tidak mengambilnya.

Maharani Poktowuna 2

Menurut ibu Jamaliah, atau amma Jamaliah, annangguru Kuma alias anak perempuan to salama Imam Lapeo sebagai ulama perempuan yang menjadi pembaca doa di Lapeo biasa berziarah ke makam maradia Tie-tie di Suruang. Beliau juga mengatakan bahwa kompleks makam maradia Tie-tie yang berjumlah empat batu nisan, sebagai penanda di sana adalah makam maradia Tie-tie bersama dengan makam anak perempuannya yang terkenal cantik yang bernama Maharani Poktowuna dan makam-makam keluarga maradia Tie-tie yang terdekat lainnya.

Masih dari buku Kasim (t.th), Maharani Poktowuna adalah seorang perempuan yang kecantikannya dan rambutnya yang sangat panjang terkenal ke seluruh jazirah Mandar. Jika Maharani Poktowuna menyisir dan menjemur rambutnya, diperlukan tujuh batang bambu yang disiapkan agar rambut panjangnya tidak menyentuh tanah.

Lebih lanjut, Kasim menulis bahwa Maharani Poktowuna adalah anak perempuan pertama dari dua bersaudara. Ayahnya bernama maradia Tie-tie dan ibunya yang bernama I Calla Kanuku. Maharani Poktowuna mati dengan menggenaskan yaitu dengan kepala terpenggal, membuat maradia Tie-tie sangat bersedih hati. Hal ini membuat beliau tidak awas lagi terhadap konspirasi lawan-lawan politiknya sehingga beliau pun meninggal dengan dibunuh pada acara jamuan makan.

Terlepas dari itu semua, kami hanya ingin mendapatkan pengalaman mistik dan mengambil berkah, dan pelajaran dari leluhur yang kami ziarahi. Seperti yang biasa kita dengar, semoga leluhur selalu membimbingmu dan menjagamu.

Maharani Poktowuna

Zuhriah