Mahasiswa dan KPK Sama-Sama Manusia

Mahasiswa dan KPK Sama-Sama Manusia
©Liputan6

Menjadi mahasiswa merupakan suatu kebanggaan bagi diri sendiri, dapat mengenyam pendidikan di bangku perkuliahan. Namun selain itu, menjadi mahasiswa juga menjadi tantangan pribadi.

Bagaimana tidak? Dalam suatu kehidupan, tentu terdapat polemik dalam suatu permasalahan. Masyarakat menilai bahwa seorang mahasiswa itu sebagai malaikat. Dapat menyelesaikan berbagai masalah yang terjadi pada masyarakat. Tanpa melihat kadar keilmuan seorang mahasiswa.

Mengapa demikian? Sebagai mahasiswa yang sudah mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, tentu asumsi yang terdapat pada masyarakat, menganggap mahasiswa ini sudah banyak mengasumsi teori-teori dari buku-buku yang cukup banyak. Wajar ketika masyarakat mengimanai mahasiswa sebagai pemecah persoalan masyarakat.

Namun realitasnya berbalik banding dengan harapan atau anggapan masyarakat yang selama ini mereka asumsi. Pasalnya, era sekarang ini banyak sekali pejabat negara yang tertangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Bukankah begitu?

Mahasiswa yang seperti ini, bukannya menjadi pemecah masalah, tetapi malah membuat masalah baru bagi negaranya. Mengapa bisa demikian? Bukankah mereka semua seorang yang terdidik?

Kebanyakan dari mereka semuanya memang orang yang terdidik. Title gelarnya tinggi, S1 bahkan S3. Namun karena minimnya moral anak bangsa, minimnya rasa tanggung jawab atas amanah yang diemban, sehingga membuat mereka terjerat kasus tindak korupsi.

Bobroknya moral anak bangsa ini perlu segera diatasi. Maka penting bagi mahasiswa penerus bangsa untuk belajar memperbaiki moral dan mengasah ilmu spiritual sebagai landasan dasar diri kita dalam bergerak. Supaya apa yang diharapkan masyarakat kepada mahasiswa dapat terealisasikan.

Memang kurikulum sekarang ini sudah mengarah ke situ. Namun ke depannya, dinas terkait lebih intens dan progres lagi dalam mengubah moral anak bangsa. Ini bukan hal yang sepele, dan bisa berdampak sangat berbahaya.

Baca juga:

Bahkan sekarang ini, setelah adanya Badan Pengawas KPK, timbul banyak polemik dan stigma yang menyertainya. Memang semua anggota KPK manusia, yang memungkinkan dapat berbuat salah. Mereka bukan malaikat yang selalu benar. Bukankah begitu?

Bagaimana akan mengawasi, semisal anggota KPK sendiri yang bertindak korupsi? Maka dari itu, sangat penting bagi mahasiswa generasi penerus bangsa untuk memperbaiki akhlak moral dan disiplin dalam segala hal.

Disiplin dalam segala hal tentu ada kaitannya dengan korupsi. Banyak contoh di Indonesia yang korupsi waktu, semisal guru telat masuk ke kelas karena hanya memenuhi kepentingan dirinya. Meski guru tidak memberikan penjelasan tentang korupsi waktu, tetapi guru tersebut sudah memberi contoh kepada muridnya untuk korupsi waktu.

Wajar saja ketika di Indonesia ini masih sulit untuk disiplin waktu. Ini salah satu problem yang seharusnya dibenahi bersama. Selain itu, hukum di Indonesia ini masih ada yang seperti pisau. Pasalnya, di Indonesia, hukuman bisa diringankan dengan membayar denda. Kebanyakan yang melakukan hal tersebut merupakan mantan pejabat. Apakah ini bukan suatu ketimpangan?

Jelas, ini merupakan sebuah ketimpangan. Warga negara Indonesia tidak semuanya memiliki harta yang melimpah dan uang yang cukup untuk meringankan hukuman. Apakah ini yang dinamakan keadilan? Bukankah sudah jelas di dalam dasar negara bahwa keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia?

Lalu ini salah siapa? Ini bukan salah siapa-siapa. Ketika mahasiswa generasi penerus bangsa dapat meneladani keempat sifat rasul, tentu negara ini akan menjadi negara yang baldatun toyibatun warobbun ghofur. Bagaimana tidak, keempat sifat tersebut sangat berpengaruh untuk menjadikan mahasiswa lebih berakhlak dan bermoral. Bukankah begitu?

Bagaimana tidak, jika seorang mahasiswa mampu meneladani salah satu sifat rasul, semisal sifat jujur. Di mana pun dan kapan pun, mereka akan selalu jujur. Bahkan ketika semua pejabat negara sudah memiliki sifat ini, maka tidak perlu lagi adanya KPK.

Namun kembali lagi ke awal, bahwa manusia bukanlah malaikat yang selalu benar. Ya, setidaknya ketika sudah mampu meneladani sifat rasul, tentu dapat mengurangi dan membantu kinerja KPK. Karena ketika seorang mahasiswa sudah mampu meneladani sifat rasul, ketika mereka benar-benar bersalah tanpa KPK menyelidiki pun tentu sudah menyerahkan dirinya kepada pihak yang menjalankan hukum.

Fathurohman Wahid

Latest posts by Fathurohman Wahid (see all)