Mahasiswa dan Pertarungan Pascawisuda

Mahasiswa dan Pertarungan Pascawisuda
©IG/maudyayunda

Pascawisuda merupakan pertarungan yang paling membebankan dan memberatkan.

Setiap tahun, pendidikan tinggi menyelenggarakan pengukuhan dan pelepasan bagi mahasiswa yang telah dinyatakan memenuhi kriteria sesuai aturan dan keputusan yang tertuang dalam dunia pendidikan tinggi.

Klausul di atas merupakan suatu pedoman yang ditunjukkan kepada segenap mahasiswa yang hendak diresmikan sebagai sarjana. Untuk itu, setiap mahasiswa perlu melengkapkan apa yang menjadi tuntutan dunia akademik, salah satunya menyelesaikan tugas akhir (skripsi). Sehingga dengan begitu, mahasiswa bisa dikukuhkan sebagai calon sarjana yang ditugaskan untuk mengembangkan keilmuannya di dalam kehidupan masyarakat.

Namun, perlu juga dipikirkan dan dipahami oleh segenap mahasiswa, terutama wisudawan/wisudawati, pascawisuda merupakan pertarungan yang paling membebankan dan memberatkan. Mengapa? Pertanyaan inilah yang menjadi fokus pengamatan kita, seberapa tangguh para wisudawan/i bertarung dalam rimba yang begitu menguras tenaga.

Sebelum menjangkar lebih jauh dari topik pembahasan ini, kiranya saya ingin meluruskan sedikit gambaran dari tulisan yang saya tuliskan. Topik ini merupakan hasil dari perspektif saya sendiri, sehingga dalam tulisan ini hampir-hampir pembaca tidak akan menemukan nilai teoritis yang bisa mendukung serta memperkuat argumen saya. Sehingga segala kekeliruan yang terkandung di dalamnya merupakan hasil dari pemikiran penulis yang masih belum ketat dalam mendalami secara utuh ‘pertarungan pascawisuda’.

Saya menerima secara sukarela semua bentuk kritik yang hendak membangkitkan kesempurnaan tulisan ini. Karena dengan begitu, tulisan ini mendapatkan tempat yang layak di hati pembaca.

Kedua, mengingat selama ini ruang diskusi mengenai topik seperti di atas masih sangat terbatas dan belum diketengahkan oleh mahasiswa dan juga wisudawan.

Bagi saya, pascawisuda merupakan momen yang perlu kita kritisi sekaligus perlu disadari oleh para wisudawan guna mengetahui segala kemungkinan yang nanti terjadi. Dengan cara ini, seyogianya bisa membantu mahasiswa yang saat ini sedang berjuang menyelesaikan tugasnya, sehingga memungkinkan untuk mempersiapkan diri jauh-jauh hari.

Pascawisuda, kita bergeser pada topik yang begitu kompleks tentang dunia pekerjaan. Saya mengatakan kompleks, karena akan ada pertarungan bagi sarjana-sarjana muda dalam mendapatkan pekerjaan.

Baca juga:

Bukan tidak mungkin, asumsi saya itu benar ketika kondisi lapangan hari ini membuktikan adanya pengangguran terdidik yang berseliweran di mana-mana. Hal ini terjadi karena terbatasnya pekerjaan yang disediakan, sehingga menimbulkan pertarungan memperebutkan pekerjaan bagi sarjana muda dalam mendapatkan pekerjaan sesuai spesialisasi keilmuan mereka. Tentu dengan begini akan menuntut segala daya upaya demi mendapatkan pekerjaan yang ‘layak’.

Hendak dipikirkan juga, pascawisuda, pertarungan memperebutkan dominasi siapa yang paling pantas dan layak akan tersaji di sana. Yang tidak bisa bertahan dengan pertarungan itu akan terdepak dan menjadi bagian dari penganggur. Konsekuensi itulah yang harus diterima dan melekat secara pasti didalam memperebutkan pekerjaan.

Hari ini, pertarungan itu sudah terjadi di mana-mana, di semua lapisan wisudawan/i yang berbeda spesialisasi keilmuannya. Tidak ada yang mudah, semua harus bertarung dalam geliat dunia pekerjaan yang makin terbatas.

Pertarungan pascawisuda merupakan kelaziman yang memang terjadi di dalam mendapatkan pekerjaan. Para wisudawan harus bisa memahami kondisi riil di lapangan, bagaimana mereka membaca setiap peluang yang terjadi.

Membaca peluang mesti dilakukan dan memang harus, agar dapat dengan mudah memahami kompleksitas pekerjaan. Di sana, tersaji beragam pertarungan dalam mendapatkan apa yang disebut sebagai nilai.

Tidak bisa tidak, wisudawan yang baru diresmikan merupakan representasi dari wajah almamater yang selama hampir 4 tahun berdinamika di dalam lingkungan akademik. Corak pemikiran, perilaku, dan tanggung jawab akan diukur di sana, di dalam mendapatkan nilai tersebut.

Yang unggul akan menempati posisi yang telah disediakan sementara yang lainnya akan terdepak dari proses perekrutan dunia pekerjaan. Pembedaan yang paling mencolok akan ditemukan dari masing-masing wisudawan ketika berhadapan dengan berbagai kondisi pekerjaan.

Yang perlu diingat, background kampus tidak menjadi satu-satunya peluang dalam mendapatkan pekerjaan. Hal itu tidak terlalu menjamin karena parameter yang ditentukan ialah sejauh mana wisudawan ini mampu memberikan hal baru ketika diperhadapkan dengan pekerjaan. Di situlah semua mesti menyadari, pertarungan memperebutkan pekerjaan dan posisi seturut spesialisasi pekerjaan akan sangat nampak sekali.

Yang Perlu Dilakukan

Muara dari semua yang diperjuangkan ialah mendapatkan pekerjaan. Tidak ada yang berani memperotes hal ini. Karena diakui atau tidak, Marx mengatakan, identitas manusia ditemukan dalam pekerjaan.

Saya mengamati bahwa memang tujuan pendidikan salah satunya mempersiapkan manusia untuk dilatih sebelum masuk dalam arena kerja. Sehingga poin yang saya ajukan inilah yang mesti disadari oleh kalangan mahasiswa umumnya dan wisudawan khususnya.

Panjang lebar saya uraikan di bagian atas tadi, pertarungan memperebutkan pekerjaan dan posisi menjadi pintu masuk sebelum diterima dalam bekerja. Di titik seperti itu, dibutuhkan seorang yang memang punya nyali besar dalam menantang sempitnya lapangan pekerjaan yang disediakan. Tidak cepat terbang ketika diterima dalam dunia kerja serta tidak cepat tumbang ketika belum mendapatkan pekerjaan.

Mesti selalu diingat, masih ada peluang yang tersedia bagi semua wisudawan yang berjuang mendapatkan pekerjaan. Yang paling mendasar, harus selalu terbuka, memperbanyak jaringan (relasi) dengan orang lain, merupakan satu cara yang paling tidak bisa membantu.

Pada akhirnya, semua harus memikirkan langkah, mengatur tempo, mempersiapkan resep yang pantas, dan mengajukan hal-hal baru. Pertarungan memperebutkan pekerjaan akan disajikan dari berbagai macam almamater kampus.

Yang jelas, mempertahankan nama baik kampus akan selalu menarik. Semua akan berurusan dengan yang namanya kerja dan pekerjaan merupakan dewa yang paling banyak ditunggu oleh kalangan sarjana.

Untuk semua itu, kesadaran dalam melihat setiap kesempatan, paling tidak, harus dimanfaatkan secara maksimal. Tidak bisa hanya membiarkan diri terlarut dalam arus yang menerima secara sukarela segala keadaan. Karena tuntutan yang harus diselesaikan oleh seorang sarjana ialah menempatkan kemanfaatan ilmunya bagi masyarakat.

Memperebutkan pekerjaan pada akhirnya merupakan ujian yang paling baru setelah seorang mahasiswa dikukuhkan (wisuda) sebagai sarjana. Pertarungan itu tidak hanya sebatas pada pemenuhan diri (pekerjaan), paling penting harus mampu menyediakan hal-hal baru yang bisa dirasakan oleh masyarakat. Di sana semua akan diukur, dinilai, dan diberikan haknya ketika wisudawan mampu bertarung di atas nilai-nilai yang ada.

    Patrisius Jenila
    Latest posts by Patrisius Jenila (see all)