Mahasiswa Sulbar Mandek, Hairil Amri: Melek Seni, Amnesia Ilmu

Mahasiswa Sulbar Mandek, Hairil Amri: Melek Seni, Amnesia Ilmu
Hairil Amri, Ketua Ikama Sulbar Yogyakarta, saat memberi sambutan di Talkshow Ikama Sulbar, Senin (14/5/2018).

Nalar PolitikKetua Umum Ikatan Keluarga Mahasiswa Mandar Sulawesi Barat (Ikama Sulbar) Yogyakarta, Hairil Amri, menyesali bagaimana gerakan mahasiswa Sulbar mandek di Kota Pendidikan. Salah satu sebab terbesarnya, menurutnya, karena kebanyakan mahasiswa hanya mampu melek seni, tetapi amnesia pada ilmu pengetahuan.

“Kami yang melembagakan diri dalam organisasi kedaerahan ini sadar betul akan hal-hal yang kontraproduktif itu. Masih seringnya kredo usang yang kita gunakan, sehingga sebagian dari kita belum bisa keluar dari ego sektoral,” terang Idit, sapaan akrabnya, saat memberi sambutan di acara talkshow Ikama Sulbar bertajuk Problem Pendidikan Organisasi Mahasiswa Hari Ini di Teatrikal Perpus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Senin (14/5/2018).

“Sifat yang begitu eksklusif dan tertutup inilah yang membuat sebagian mahasiswa Sulbar Mandek dalam prosesnya. Bergaul hanya sesama daerah serta berseni, tetapi lupa intelektualitas. Melek seni, tetapi amnesia ilmu,” lanjut Idit menegaskan.

Menurut mahasiswa yang kini mengejar studi hukum di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini, ada banyak kebiasaan mahasiswa yang patut diurai secara rasional. Terlalu banyak fakta yang baginya harus dijawab dengan objektif.

“Kalau tidak sekarang, kapan lagi?” tanyanya.

Ya, pergerakan zaman kini semakin hari semakin maju. Begitu pula dengan tantangannya. Fakta memperlihatkan, mahasiswa hari ini memang punya tantangan yang berbeda dengan mereka, mahasiswa tahun 90-an, misalnya.

Hal inilah yang hendak dijawab melalui Talkshow Ikama Sulbar dengan menghadirkan Fitroh Wijaya (Ketua KNPI DIY), Fatimah Husein (Dosen Filsafat UIN Yogyakarta), Julio Hitabarat (Ketua Umum GMNI Yogyakarta), dan Faizi Zain (Ketua Umum PMII Yogyakarta).

Mahasiswa Sulbar Mandek, Hairil Amri: Melek Seni, Amnesia Ilmu
Para pembicara di Talkshow Ikama Sulbar

“Oleh karena itu, kredo yang tidak kontekstual lagi mesti kita perbarui. Kebiasaan yang kontraproduktif mesti kita tinggalkan. Ini guna bergerak maju dan menjawab tantangan zaman,” imbau Idit.

Terlebih mengingat zaman hari ini sudah memasuki era disruption—atau lebih spesifik, yakni era Rovolusi Industri 4.0.

“Lantas masih cocokkah dengan kredo serta kebiasaan demikian?” tanyanya kembali.

Pun inilah yang juga mendorong Idit, bersama Ikama Sulbar, bergerak dan menyukseskan agenda pemantik seperti talkshow. Bahwa tidak melulu soal daerah dan seni saja, tetapi juga soal nasional.

“Sebab bisa jadi kesenjangan sosial di daerah disebabkan oleh problem yang ada di pusat. Tinggal kita perlu meramu metodenya secara seksama: konstruktif dan kontributif,” pungkasnya.

___________________

Artikel Terkait:
Redaksi NP
Reporter Nalar Politik