Mahasiswa UIN Mesti Bangga Kampusnya Dituding Sarang Muslim Liberal

Mahasiswa UIN Mesti Bangga Kampusnya Dituding Sarang Muslim Liberal
UIN Jogja & Khalid Basalamah (Ilustrasi: intiruh.blogspot.co.id)

Tak ada kebanggaan paling besar selain kampus saya dituding sebagai sarang muslim liberal, tempatnya orang-orang liberal. Mengapa? Sabar dulu ya. Penjelasannya di bawah, setelah ini. Pokoknya saya hanya ingin nyatakan kebanggaan dulu. Tak perlu buru-burulah sampaikan alasan. Nanti saja.

Baru-baru ini, heboh soal tudingan (ustaz) Khalid Basalamah tentang UIN Jogja menyeruak hebat. Ia sebut UIN adalah sarangnya muslim liberal, tempatnya aktivis-aktivis JIL (Jaringan Islam Liberal) mengumbar gagasan progresifnya.

Ia juga menilai UIN sebagai perpanjangantangan orang-orang orientalis dari Kanada (McGill). UIN dibayangkan sebagai sarana kaum orientalis mencari kelemahan Islam untuk kemudian menghancurleburkannya melalui indoktrinasi generasi muslimnya dari dalam.

Demikian kata Basalamah dalam ceramahnya. Ia merekamnya di Youtube bertajuk Rahasia Univ Penganut Liberal dan Pandangan Jogja – Ustaz Khalid Basalamah, berisi tentang pengalamannya yang ditolak jadi mahasiswa doktoral di salah satu kampus ternama di Kota Pendidikan ini.

Tak tanggung-tanggung, tudingannya juga tertuju langsung pada Jogja. Lantang ia berucap bahwa bencana alam (gempa lalu longsor) yang hampir tiap tahun terjadi di kota ini akibat ulah masyarakatnya yang—katanya—tidak beradab. Orang-orang muslim serumah dengan non-muslim (orang kafir kata Basalamah), tingginya praktik free sex yang mengalahkan Thailand, diyakini juga oleh Basalamah sebagai sebab lahirnya bencana alam berupa gempa dan longsor itu.

Terhadap tudingan tersebut, banyak pihak yang coba memberi respons. Ada dari mahasiswa (pascasarjana) UIN sendiri, Muhammad Iqbal Rahman; alumnusnya, Sarjoko; hingga salah satu guru besarnya, Machasin, pun ikut angkat bicara. Bisa jadi karena kelekatannya pada UIN, sehingga respons-respons mereka bernada sama: mengkritik Basalamah sembari “membersihkan” UIN Jogja dari tudingan tak berdasarnya.

Tentu saya tidak akan menyoal panjang lebar terkait pandangan Basalamah mengenai faktor terjadinya bencana alam di Jogja itu. Karena memang, senada dengan para peresponsnya, saya sendiri menilai bahwa yang Basalamah jadikan sebagai dasar berpijak itu adalah hal-hal yang tidak ada kaitannya sama sekali alias ngawur tingkat dewa.

Lho, apa hubungannya bencana alam dengan praktik free sex? HIV/AIDS atau hamil (di luar nikah) bagi perempuan mungkin iya. Tapi tidak untuk bencana alam seperti gempa dan longsor.

Di mana nyambungnya juga orang-orang muslim yang serumah dengan non-muslim bisa menjadi pemicu lahirnya musibah itu? Bukankah bencana alam hanya mungkin terjadi jika ada kerusakan atau ketidakseimbangan pada sistemnya, baik karena kerakusan manusia mengeksploitasi, maupun perubahan iklim pada alam itu sendiri?

Dangkal dan sembrono Basalamah, ya persis di titik itu. Ngakunya ustaz (guru/pendidik), tapi lakunya sama sekali tak memberi cerminan sebagai yang terdidik. Atau mungkin pendidikan seorang ustaz memang berbeda ya dengan kelompok terdidik di luar gelar islami itu? Masa iya, sih? Saya tak percaya. Tapi entahlah. Yang jelas, pernyataan tanpa  pembuktian hanya mampu menampilkan Basalamah sebagai ustaz yang kolot.

Para Perespons Basalamah pun Ikut-ikutan Kolot

Saya sendiri pun tidak bisa mengamini pernyataan dangkal Basalamah yang menarik pemicu bencana alam seenak dengkul pada hal-hal yang sama sekali tidak ada hubungannya. Hanya saja, yang saya tidak habis pikir, kok bisanya-bisanya para perespons itu justru terkesan mengakui pandangan Basalamah atas muslim liberal (orang-orang JIL) atau gagasan-gagasan liberalisme sebagai sesuatu yang salah.

Lihatlah respons Muhammad Iqbal Rahman, misalnya. Tampak jelas bagaimana calon master Studi Agama dan Resolusi Konflik di UIN ini memberi nuansa pengakuan yang sangat memilukan.

Apaan coba? Sepanjang pengetahuan saya, justru orang-orang (muslim) liberal cenderung lebih jago di bidang baca-tulis Quran ketimbang yang konservatif. Tengoklah bagaimana Ulil Abshar-Abdalla, Luthfi Assyaukanie, atau Akhmad Sahal, sekadar beberapa contoh. Mereka adalah muslim liberal tulen yang sangat lihai di bidang ini. Jangankan Quran, kitab-kitab umat beragama lainnya pun banyak mereka pahami, apalagi kitabnya sendiri?

Pun begitu dengan respons dari alumnusnya, Sarjoko. Ia juga berusaha untuk tidak menerima pernyataan bahwa UIN sebagai gudangnya orang-orang liberal.

Tampak jelas, ada nuansa di mana para perespons Basalamah di atas itu menempatkan liberalisme dan penganutnya (muslim liberal) dalam posisi yang negatif. Seolah yang demikian itu punya sifat jahat yang niscaya. Nyaris tak ada bedanya dengan pandangan keagamaan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang pernah memfatwa liberalisme sebagai paham sesat dan penganutnya adalah golongan orang-orang kafir.

Lihat juga: Kontekstualitas Islam Liberal

Anehnya lagi, sebab yang menilai demikian—di luar Basalamah—adalah orang-orang berkategori terdidik (mahasiswa dan alumnus kampus Islam). Padahal mereka, saya yakin betul, pernah bersentuhan dengan paham kebebasan itu, terutama dalam kajian-kajian atau diskusi-diskusi di kelas, terlebih saat membahas persoalan-persoalan filsafat, di mana liberalisme sebagai cikal bakal lahirnya pembaruan pemikiran Islam. Atau mungkin malah tak pernah menjumpai itu selama bergelut di UIN Jogja? Saya kira mustahil.

Beruntung karena sang guru besar, Machasin, tidak ikut memperparah dua perespons Basalamah di atas. Ia hanya paparkan sejumlah kebohongan Basalamah, sekaligus kesalahpahaman dan ketidakuratannya, yang kemudian menyimpulkan bahwa Basalamah tidak pantas mendapat gelar “ustaz” lantaran kebohongan dan ketergesa-gesaannya dalam bersikap. Sama sekali tak menyinggung soal liberal-liberalan.

Mahasiswa UIN, Berbanggalah! Kampus Kalian Jadi Sarang Muslim Liberal

Sebagai mahasiswa UIN, saya justru bangga ketika kampus saya ini dituding sarangnya muslim liberal, tempat bersemainya gagasan-gagasan liberalisme. Kebanggaan yang sama, sebenarnya, mesti melekat juga dalam diri mahasiswa-mahasiswa lainnya, apalagi yang sudah jadi calon master dan alumnusnya.

Sungguh, tak ada alasan untuk menyangkal bahwa liberalisme jadi penyumbang besar bagi lahirnya peradaban manusia. Dengan corak utamanya, yakni kebebasan berpikir, segala hal jadi dimungkinkan. Apa yang hari ini bisa kita nikmati, tak lain adalah buah dari liberalisme. Bahkan pembaruan pemikiran Islam sebagai corak utama juga dalam tradisi UIN-UIN di seluruh Indonesia, semua berkat liberalisme.

Karenanya, tak masalah jika UIN dituding begitu. Sebab liberalisme, dalam kadar tertingginya, adalah gagasan yang memang mencerahkan. Apalagi dalam sejarahnya, liberalismelah yang berhasil memicu dan membawa kegemilangan Islam di kancah dunia.

___________________

Artikel Terkait:
Latest posts by Maman Suratman (see all)