Makrab IPMMY Bangkitkan Gairah Organisatoris

Makrab IPMMY Bangkitkan Gairah Organisatoris
Foto bersama anggota dan pengurus IPMMY di Kaliurang, Yogyakarta.

Masing-masing organisatoris harus benar-benar mendedikasikan dirinya sebagai alat atau pejuang demi kepentingan organisasi, bukan sebaliknya.

Nalar PolitikIkatan Pelajar Mahasiswa Majene Yogyakarta (IPMMY) menyelenggarakan Malam Keakraban (Makrab). Tema yang diangkat bertajuk Lutta Nipewayu, Alosongang Nipewamba – Tammatemo Naung Setang; berlangsung di Kaliurang, Yogyakarta, 24-25 Desember 2017.

Dari segi tema, menurut Riandy Aryani, Pengurus IPMMY Bidang Kajian Strategis, hal ini tak lain adalah upaya reflektif berbenah diri. Bahwa IPMMY, ke depan, diharapkan menjadi sebuah Ikatan yang lebih rajin dan jujur lagi dalam segala hal.

“Mungkin bedanya, dalam tema kebanyakan selain tema ini, kami berpandangan bahwa untuk benar-benar ingin berbenah, maka langkah yang paling awal seharusnya diambil adalah berani mengakui kekurangan, bukannya langsung terfokus pada akan jadi lebih baik seperti apa nantinya,” ujar mahasiswa Ilmu Hukum UIN Yogyakarta yang akrab disapa Gio ini dalam keterangan tertulisnya.

Sebab, tambah Gio, pada kekurangan itulah tempatnya sebuah pengupayaan kebaikan.

“Kan begitu, bukan? Kita harus menyadari kekurangan dulu, baru kemudian berbenah. Proses berbenah diri inilah yang lalu menjadikan kita semakin lebih baik nantinya,” harapnya.

Subjek Pendorong

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua IPMMY, Muhammad Ihsan Tahir. Mahasiswa Hukum Islam UII Yogyakarta ini menyebut “lutta” sebagai kendala utama yang kini dan selama ini memang dihadapi secara akut oleh IPMMY.

Lutta (malas) jadi kendala utama kita dalam berorganisasi selama ini. Itulah kenapa Makrab dengan tema yang demikian pengurus hadirkan. Pengurus ingin mengurai bahwa lutta adalah hal yang harus kita redam bersama demi eksistensi organisasi yang jauh lebih baik ke depannya,” ujarnya saat memberi materi Ke-IPMMY-an di hadapan anggota dan pengurusnya.

Agenda tahunan ini juga diharapkan sebagai pemantik untuk mengenal lebih jauh bagaimana harusnya individu IPMMY memampukan dirinya sebagai seorang organisatoris. Bahwa masing-masing organisatoris harus benar-benar mendedikasikan dirinya sebagai alat atau pejuang demi kepentingan organisasi, bukan sebaliknya.

“Selain sebagai wadah bersama, punya tujuan yang hendak dicapai, IPMMY juga meniscayakan adalah partisipasi aktif dari teman-teman semua. Ibarat gerobak, organisasi kita ini mustahil bisa berjalan tanpa ada subjek pendorongnya. Dan kalianlah yang diharapkan untuk itu,” pungkasnya.

Hal tersebut sebangun dengan apa yang juga ditegaskan Maman Suratman saat memberi materi keorganisasian. Baginya, tiap organisatoris harus tahu betul bagaimana mestinya menjadi pejuang dalam organisasi.

“Tahu kau bedanya pecundang dengan pejuang? Pecundang adalah mereka yang menjadikan organisasi sebagai alat untuk mencapai kepentingan diri pribadi dan kelompoknya saja. Sementara pejuang adalah mereka yang mendedikasikan dirinya sebagai alat demi kepentingan dan tujuan organisasi secara umum,” tegasnya.

Hematnya, jangan tanyakan apa yang organisasi bisa berikan untukmu, tapi tanyakan apa yang bisa kamu berikan bagi organisasi. Prinsip inilah yang bagi IPMMY harus jadi pedoman bersama di kalangan anggota dan pengurusnya.

___________________

Artikel Terkait:

    Redaksi

    Reporter Nalar Politik
    Redaksi