Malam Kusut Kasau

Jika kita berjalan di bawah bayang-bayang pohon musim duren,
Ada ratusan luing, lintah, dan semut-semut sibuk mencari makanan dan liang batu.
Tak terhitung air mata mengalir dari matanya.
Lalu buah apa saja yang manis jatuh, mereka mengerumuni, dan menghabisinya.
Saat itu tak sadar kita sedang injak mereka, bayang-bayang pohon, dan bayang kita sendiri.

Jika kita berlari kecil di bawah gerimis musim kemarau,
Bukankah dia membasahi semuanya, termasuk mimpi di atas mimpi kita?
Terhenti, merumuskan ketakpastian itu.
Setiap malam binatang-binatang malam bernyanyi dengan sukaria di luar jendela,
Bukankah mereka menghibur siapa saja, termasuk bising di dalam bising pikiran kita?
Terjeda, meramalkan kesunyian di atas kebisingan itu.
Menanti semuanya kembali.

Jika kita berkencan di bawah pohon tak berdaun, memeluk erat bulan yang semburat.
Menyinari langkah mimpi-mimpi kita.
Sebelum iklim alam meretak-retak tak menentu,
dan hujan-hujan malam segan merayu tuk bertamu.
Sebelum gerimis hanya membasahi pohon-pohon di taman,
dan tak mau lagi jatuh ke tanah kita.
Sunyi, membidik penyusup-penyusup mau meraup.

Surat Tuhan di Bangku

Di emperan rumah maya ini,
Suara Tuhan kita tak kedengaran lagi.

Jika sang matahari sudah mulai malas menyembul dari timur,
Pulanglah.
Sebelum badai guntur menjilat pohon-pohon yang tak beranting.
Sebelum panas padang gurun membalut sekujur tubuh kepanasan,
Sebelum bumi mencucurkan air mata di depan matamu yang gersang,
Sebelum dunia tak mau lagi berpakaian keindahan,
Sebelum sayap-sayap atlas mengeluh letih beterbang di antara planet-planet.

Jika bisikan Tuhan tak kedengaran lagi,
Pulanglah.
Sebelum kota ini menggelap pekat, dan yang kedengaran hanyalah jeritan janda-janda dan anak-anak.
Sebelum pesing menjelajah dan mencemar benua ini,
Sebelum bala tentara setan menjemput,
Sebelum keegoisan dan nafsu menyulut lembar-lembar kesucian.
Di emperan rumah maya ini,
Wajah Tuhan kita tak kelihatan lagi.

Jika bala keselamatan dipasung dalam kandang-kandang,
dan mungkin datang untuk membuncitkan kantongnya.
Pulanglah.
Selembar surat Tuhan di bangku rumahNya sedang berkisah menjelajahi gulungan kitab kita. ternyata, kita tertukar dari awal.

Gerimis Reda?

Di dunia ini,
tak lelah berkisah manusia ironis merebut,
membela dan menjaga Tuhan kita dalam kotak-kotak nasi bungkus.

Di sana Tuhan kita dikandangkan dalam konsep-konsep kaku dan hayatan semu. Memang sejak saat itu Tuhan kita dijual di pasar-pasar,
di kota-kota sampai di kampung paling udik.
Hujat.
Nahas.

Ketika Tuhan kita harus dibeli dengan lembaran-lembaran fana,
dan ditukar dengan barang-barang berlabel kasih. “Tuhan besertamu”,
ialah frasa persuasif kaum kapitalis dan feodalis kepada pemeluk yang dibisukan.
Tak sedikit orang curiga dan tak sengaja wartakan Tuhan kita telah dipingsankan di mimbar-mimbar. Tuhan kita sudah dipasung di balik khotbah panjang, ceramah melebar dan peneguhan suci.

Subuh yang Bisu

Jika engkau mau tidur pada malam yang buta,
Jemputlah aku yang sedari tiga detik lalu berdiri setia di gerbang kelopak matamu.
Antarlah aku menuju tempat idamanmu, 
Lalu mulailah berkisah dan bermimpi tentang apa saja, 
Sebab telah kutemukan riwayatku seutuhnya selalu diawetkan di dalamnya. terbang bersama kunang-kunang yang peka, 
Tak perlu bercahaya penuh sampai melintasi kita bumi yang fana, 
Berkelip-kelip teratur cukup mengedipkan mata-mata semua makhluk di atas lembar bumi.

Jika engkau mau bangun dari mimpi yang tak pernah kenyang, 
Jemputlah aku yang sedari dua detik lalu bertafakur di tempat idamanmu ini, 
Bawalah aku ke kamar mandi terdiam. 
Lalu mulailah menyeka debu-debu yang mencemar di tempat idamanmu, 
Sebab sudah kuintai sudut-sudut handuk yang hanya didiami bakteri-bakteriku, 
Aku yang sangat tak berminat bila tubuh molek itu terhinggap debu-debu kotor dari orang-orang yang melihat dan menyaksikannya. 

Jika engkau mau menulis hayalan-hayalan bernas pada senja yang tuli, 
Jemputlah aku yang sedari sedetik lalu menunggu santun di antara ujung mulut pena dan baris pertama halaman itu, 
Antarlah aku ke kalimat-kalimat hidupmu yang sunyi di balik decak kagum mereka, 
Lalu bersegeralah kawinkan nama kita di dalamnya membentuk tugu peringatan.

Jika engkau mau selingkuh dengan Tuhan pada subuh yang bisu,
Jemputlah aku sedang berlutut khusyuk di ujung bibirmu yang tipis mungil
Antarlah aku di hadapan selingkuhanmu yang agung itu
Ceritalah tentang aku yang brutal mencintaimu berdetik-detik. 
Sebab sedari saat itu selingkuhanmu telah merestui.

Latest posts by Melki Deni (see all)