Mana Tabung Oksigen, Masku?

Mana Tabung Oksigen, Masku?
©Liputan6

Jangan bilang papa, tabung oksigen itu berharga!

Kakak lelakiku pegawai negeri dari Jawa yang dibuang ke Kalimantan, dan kawan pegawainya yang dari Kalimantan dipindahkan ke Jawa. Sistem lucu macam apa ini?

Sekarang pulau yang mirip Eyang Semar[1] itu berapi-api lagi hutannya. “Ada apa?” kataku kepada masku lewat ponsel.

“Ah, mungkin ada pergesekan antara daun-daun yang menghasilkan percikan api dan kebetulan menyulut ilalang kering, maka terbakarlah banyak lahan.”

Nada suaranya sunyi, mirip orang yang ingin sekali mengungkapkan kebenaran. Namun karena aku cuma adiknya yang sekadar bekerja sebagai guru biola, dia membohongiku.

Dia tahu, aku masih terlalu muda untuk memikirkan banyak hal buruk di luar kota Jombang, kota dengan banyak pesantren. Apalagi di luar kota yang bisa jadi makin liar.

“Bagaimana, tabung oksigen yang dibelikan papa sudah dipakai?”

Kakakku langsung menutup telepon. Aku menjadi heran. Sungguh heran.

Apakah tabung itu sudah habis digunakannya karena asap di sana betul-betul pekat? Atau tabung oksigen kecil yang bisa dibawa di tas itu dijualnya dengan harga murah untuk atasannya agar pangkatnya naik? Atau tabung oksigen itu dijualnya dengan harga mahal karena kakakku jujur dalam mencari nafkah dan tidak mau mengambil uang di bawah laci yang selalu ada?

Aku meneleponnya lagi. Lama denyut nada “tut” berbunyi, namun tidak secepat detak jantungku yang layaknya laju kuda. Kemudian aku membuka media sosial, aku tanya-tanyai lewat kotak pesan. Dan berbagai cara menghubunginya, yang ada hanya suara kesunyian. Kakakku tidak mau dihubungi.

Kemudian masku itu menjawab singkat, saat dia akhirnya mengangkat telepon dengan suara kuat[2], “Tabung itu disita pihak pesawat penerbangan. Tidak ada ganti rugi. Jangan bilang papa, tabung oksigen itu berharga!”


[1] Tokoh wayang.

[2] Kuat di sana artinya “keras”.

    Arham Wiratama
    Latest posts by Arham Wiratama (see all)