Manajemen Kesiapsiagaan Menghadapi Potensi Bencana

Manajemen Kesiapsiagaan Menghadapi Potensi Bencana
©Israel21c

Persoalan bencana di negeri ini seakan tidak ada habisnya. Bencana alam seperti banjir, tanah longsor, hingga gunung meletus selalu memiliki potensi untuk terjadi.

Beberapa waktu yang lalu sempat beredar informasi tentang adanya potensi bencana gempa dan tsunami di sejumlah wilayah di pantai selatan Jawa Timur. Berdasarkan kajian oleh tim ahli Badan Meteorologi Klikatologi dan Geofisika (BMKG), bencana gempa yang dimaksudkan berupa potensi yang bisa terjadi kapan pun, bukan lagi sebagai sebuah prediksi. Potensi yang dapat terjadi berdasarkan laporan ahli menunjukkan adanya tanda-tanda yang mengarah pada terjadinya gempa hingga pada kondisi terburuk dapat terjadi tsunami.

Informasi seputar bencana tersebut dimaksudkan sebagai bentuk upaya memberikan peringatan dini kepada masyarakat agar selalu waspada dan sigap bila sewaktu-waktu terjadi. Masyarakat perlu untuk tetap tenang dalam merespons informasi yang didapat bukan justru menimbulkan kepanikan apalagi menambahkan informasi yang tidak benar (hoaks). Pemerintah juga harus sigap meresponsnya dengan mempersiapkan penanggulangan resiko bencana yang baik untuk meminimalisasi hal buruk terjadi.

Persoalan bencana seperti bencana alam gunung meletus, gempa bumi, tsunami, badai, angin puting beliung, dan lain sebagainya terjadi tanpa dapat diduga-duga waktu kedatangannya. Kehadirannya tetaplah merupakan misteri yang sulit diprediksi kapan waktunya, bahkan di tengah kemajuan teknologi yang ada seperti sekarang ini. Hal yang dapat dilakukan manusia akhirnya pada sisi penangangan bencana pasca terjadinya bencana sebagai upaya mitigasi bencana.

Respons ketika bencana datang menjadi kunci dalam upaya menyelamatkan korban serta meminimalisasi resiko yang lebih buruk terjadi. Tanggung jawab untuk melakukan upaya mitigasi bencana menjadi tanggung jawab semua orang terhadap terjadinya bencana di sekitarnya.

Bagi setiap individu, penting untuk memahami manakala bencana datang langkah-langkah apa yang harus dilakukan. Tindakan yang kurang tepat karena kebingungan akibat ketidaktahuan dapat berakibat buruk tidak hanya pada diri sendiri tetapi juga pada orang lain.

Sudah waktunya bila pemerintah membuat program mitigasi bencana yang memiliki fokus pada aspek peningkatan kemampuan masyarakat menghadapi ancaman bencana. Selama ini program mitigasi bencana kebanyakan dilakukan pada aspek pembangungan fisik seperti mempersiapkan infrastruktur penanggulangan bencana maupun pasca bencana melalui pembangungan kembali daerah terdampak bencana.

Pentingnya Pendidikan Kebencanaan

Program pendidikan di Indonesia selama ini bisa dibilang didesain dengan tidak memberikan ruang bagi kesadaran akan kebencanaan atau kecelakaan. Kenyataan bahwa musibah dapat datang sewaktu-waktu dan menimpa siapa pun kurang menjadi alasan yang kuat bagi pembuat kebijakan di sektor pendidikan terutama untuk memasukkan pendidikan kebencanaan pada kurikulum pendidikan. Pendidikan kebencanaan seharusnya masuk dalam kurikulum pendidikan sebagai materi pendidikan wajib terutama pada pendidikan dasar hingga menengah.

Tingkat pendidikan dasar dan menengah atau sampai pendidikan atas dapat lebih mudah untuk diberikan pembelajaran mengenai kebencanaan atau kecelakaan. Terlebih memang pendidikan wajib kita hingga menengah atas. Aspek yang dapat dipelajari sangat banyak dan pastinya sangat menarik untuk dipelajari karena dapat dipraktikkan dalam sebuah simulasi.

Materi yang diajarkan dapat berupa pengenalan kebencanaan, langkah evakuasi dan penyelamatan diri, upaya pertolongan kebencanaan atau kecelakaan dengan bagian-bagiannya bermacam-macam seperti pada gunung meletus, kebakaran di permukiman, maupun kecelakaan lalu lintas. Hal-hal tersebut dapat diperkaya dengan muatan materi yang lebih ringan dan nyata di kehidupan sekitar seperti pengenalan hewan berbahaya di sekitar seperti ular dan upaya penanggulangan, baik untuk ular maupun korbannya.

Masyarakat kebanyakan tidak berani memberikan pertolongan dikarenakan minimnya pengetahuan terhadap langkah-langkah yang harus dilakukan ketika menemukan korban misalnya kecelakaan. Di sisi lain, penanganan dalam memberikan pertolongan pertama juga sangat penting dan dapat berpengaruh pada upaya penanganan pada korban selanjutnya. Kesalahan kecil saat memberikan pertolongan pertama dapat berakibat fatal seperti menjadi cedera permanen atau bahkan hingga kematian.

Marak ditemukannya kejadian kecelakaan lalu lintas (laka lantas) misalnya yang dibiarkan begitu saja terjadi karena minimnya pengetahuan tentang upaya pertolongan pertama korban kecelakaan. Terkadang korban kecelakaan dibiarkan begitu saja di lokasi kejadian kecelakaan dan tidak dilakukan pertolongan apa pun hingga petugas biasanya kepolisian ada di lokasi.

Padahal dengan upaya yang dilakukan untuk memberikan pertolongan pertama dapat mengurangi risiko akibat kecelakaan bahkan menyelamatkan nyawanya hingga dapat ditangani oleh tenaga medis di fasilitas kesehatan terdekat.

Melatih pengetahuan pertolongan pertama biasanya sudah ada di organisasi Palang Merah Indonesia (PMI) melalui jaring organisasinya di tingkat sekolah menengah atas yaitu Palang Merah Remaja (PMR) dan Korps Suka Relawan (KSR) di usia pendidikan perguruan tinggi dan masyarakat umum. Kanal untuk belajar memang sudah tersedia, tetapi sifatnya hanya pada pilihan sukarela atau kemauan sendiri.

Selain itu juga, tidak semua daerah aktif melakukan pembinaan terhadap kelompok sukarelawan. Jika dimasukkan pada kurikulum pendidikan, minimal setiap guru dan peserta didik dapat belajar secara perlahan, sehingga ketika bertemu dengan kejadian yang nyata telah paham tindakan apa yang harus dilakukan.

Kolaborasi dari beberapa kelompok seperti Badan SAR Nasional (Basarnas), Palang Merah Indonesia (PMI), dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta pemerintah untuk mendesain pendidikan pertolongan kecelakaan atau kebencanaan bukanlah hal yang muluk-muluk atau sulit direalisasikan. Bila pemerintah pusat enggan mendesainnya, mungkin kebijakan dari pemerintah daerah dapat mengambil porsi terlebih dahulu untuk merealisasikannya, terutama berangkat dari daerah-daerah yang rawan.

Pembinaan Komunitas Peduli Bencana

Komunitas atau organisasi yang peduli pada kebencanaan sangatlah penting kehadirannya, selain partisipasinya di lokasi yang dapat diperbantukan juga perannya memberikan edukasi kepada masyarakat luas. Pergerakan komunitas atau organisasi yang fleksibel sangat mudah menjalin kolaborasi-kolaborasi dengan kelompok masyarakat yang tidak terbatas pada jenis kelompok masyarakat. Kebanyakan komunitas yang turun ketika bencana terjadi berlatar pencinta alam, pramuka, organisasi kepemudaan, dan organisasi keagamaan.

Rekam jejaknya kebanyakan memang tidak memiliki kualifikasi pertolongan kebencanaan, hanya sebatas pengalaman serta keaktifan ketika di lapangan untuk menerima tugas. Selebihnya tidak banyak yang secara aktif pernah mempelajari seputar kebencanaan. Namun ini sudah menjadi bekal yang cukup untuk terlibat pada penanganan bencana, dan selanjutnya upaya pemerintah sangat dinanti untuk memberdayakan lebih luas peran komunitas atau organisasi secara umum guna memberikan pendidikan bencana kepada masyarakat.

Pemerintah perlu secara serius hadir mendorong dan memberikan perhatian terhadap komunitas atau organisasi yang aktif pada kebencanaan. Pembinaan dari pemerintah dapat menjadi langkah identifikasi keaktifan organisasi yang selanjutnya diberikan peran agar terbiasa mempelajari terkait kebencanaan atau kecelakaan. Kurikulum materinya dapat disusun bersama antara pemerintah melalui Kementerian Kesehatan, Palang Merah Indonesia (PMI), Badan SAR Nasional, dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Beberapa daerah yang rawan bencana sebenarnya sudah cukup aktif melakukan kaderisasi terhadap masyarakat dan anak muda melalui komunitas dalam naungannya sebagai sukarelawan yang dimiliki oleh PMI, Badan SAR Daerah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Nantinya dapat lebih banyak organisasi atau komunitas yang mau aktif mempelajari seputar kebencanaan dan kecelakaan, serta keterbukaan daerah untuk lebih peduli membangun jaring masyarakat peduli bencana atau kecelakaan.

M. Dwi Sugiarto