Manifestasi Ketidakadilan Gender dalam Kemiskinan Masyarakat Kota

Manifestasi Ketidakadilan Gender dalam Kemiskinan Masyarakat Kota
©Detik

Ketidakadilan gender dapat termanifestasikan menjadi berbagai bentuk.

Kemiskinan merupakan suatu realitas sosial yang tidak dapat ditolak oleh masyarakat. Kemiskinan tidak hanya berdampak pada individu yang mengalami situasi miskin, akan tetapi kemiskinan juga berdampak pada kehidupan seluruh masyarakat.

Hal tersebut disebabkan oleh mata rantai kemiskinan yang menimbulkan masalah seperti pengangguran, kelaparan, dan lainnya. Sehingga, adanya tindakan kriminalitas yang disebabkan adanya kemiskinan dalam masyarakat seperti pencopetan ataupun penjabretan.

Kemiskinan telah mematahkan ranting-ranting kehidupan dalam masyarakat. Kemiskinan telah membawa jutaan anak-anak tidak dapat mengenyam pendidikan yang berkualitas, masyarakat tidak dapat memberi biaya kesehatan, tidak memiliki tabungan untuk masa depan, dan mengikuti investasi usaha. Kemiskinan juga memiliki dampak terhadap masyarakat perihal kebutuhan sandang, pangan, dan papan.

Kemiskinan dalam perkotaan dominan terjadi karena akibat migrasi masyarakat desa ke kota tanpa memiliki keterampilan, pendidikan, dan modal usaha. Sehingga mereka hanya menjadi pegawai pabrik dengan mendapatkan upah yang sangat minim.

Selain itu, kemiskinan juga dapat terjadi pada masyarakat kota industri. Hal tersebut disebabkan karena struktur sosial ekonomi belum mendukung dengan kondisi sosial masyarakat, dan masuknya masyarakat baru yang berbondong-bondong ke kota tidak diimbangi dengan kesanggupan industri untuk menampung pekerja, dan harga perumahan yang memadai cukup mahal. Sehingga, sebagian besar masyarakat pendatang hanya menjadi pengemis, gembel, dan penghuni rumah yang tak layak huni.

Menurut Sumodoningrat, problem yang terjadi dalam kemiskinan tidak hanya berurusan dengan ekonomi, akan tetapi bersifat multidimensional yang realitasnya juga berurusan dengan persoalan non-ekonomi (sosial, budaya, dan ekonomi). Sebab sifat yang multidimensionalnya tersebut, kemiskinan tidak hanya memiliki urusan dengan kesejahteraan materi, akan tetapi juga memiliki urusan dengan kesejahteraan sosial.

Dalam pandangan tersebut dapat diperoleh suatu pemahaman bahwa pada hakikatnya kemiskinan merupakan kebutuhan manusia yang tidak hanya perihal tentang ekonomi. Oleh sebab itu, program pemberdayaan masyarakat miskin tidak hanya bertitik fokus pada dimensi pendekatan ekonomi. Akan tetapi, juga melibatkan dimensi pendekatan lainnya, yaitu pendekatan peningkatan sumber daya manusia dan sumber daya sosial.

Gender merupakan suatu sifat yang terdapat pada manusia, baik laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi oleh masyarakat, baik secara sosial dan kultural. Misalnya, perempuan dikenal sebagai sosok yang lemah lembut, emosional, penyayang, dan keibuan. Sedangkan, laki-laki dikenal sebagai sosok yang kuat, rasional, dan perkasa.

Akan tetapi, sifat-sifat tersebut dapat dipertukarkan. Artinya, laki-laki juga dapat memiliki sifat lemah lembut, emosional, dan penyayang. Apabila terdapat perbedaan gender, baik dalam laki-laki maupun perempuan, akan melahirkan sebuah ketidakadilan gender.

Ketidakadilan gender merupakan suatu sistem dan struktur yang di mana laki-laki maupun perempuan menjadi korban dari sistem tersebut. Ketidakadilan gender dapat termanifestasikan menjadi berbagai bentuk, yaitu: marginalisasi, subordinasi (anggapan tidak penting dalam memberi tanggapan), stereotip (pelabelan negatif), dan beban kerja.

Baca juga:

Manifestasi dalam ketidakadilan gender ini tidak dapat dikotak-kotakkan ataupun dipisah-pisahkan, sebab hal tersebut saling berkaitan dan saling memengaruhi secara dialektis. Misalnya, marginalisasi ekonomi terhadap perempuan; hal tersebut terjadi karena sebab-sebab stereotip tertentu terhadap perempuan dan hal tersebut akan berdampak pada subordinasi pada perempuan.

Proses marginalisasi yang mengakibatkan kemiskinan terjadi karena adanya beberapa kejadian, misalnya penggusuran, bencana alam, ataupun eksploitasi. Akan tetapi, ada salah satu bentuk pemiskinan yang terjadi karena satu jenis kelamin, dalam hal ini merujuk pada perempuan yang disebabkan oleh gender. Proses marginalisasi pada perempuan terjadi karena adanya perbedaan gender. Dari segi sumbernya, hal tersebut dapat berasal kebijakan pemerintah ataupun tafsiran dalam agama dan keyakinan tertentu.

Ada beberapa studi kajian yang telah dilakukan dalam rangka membahas penyebab kemiskinan perempuan. Misalnya, dalam masyarakat industri perkotaan yang di mana pabrik lebih membutuhkan tenaga kerja yang keras, perkasa, dan unggul. Secara konstruk sosial, hal tersebut hanya dimiliki oleh laki-laki. Dengan demikian, terjadi marginalisasi dalam bidang perkerjaan untuk perempuan yang diyakini hanya memiliki sifat yang lemah lembut dan hal tersebut dapat mengakibatkan kemiskinan.

Kemudian subordinasi. Anggapan bahwa perempuan memiliki sifat kodrat yang irasional atau emosional sehingga perempuan tidak diperbolehkan untuk tampil menjadi peran utama dan bahkan pendapatnya terabaikan dan tidak dianggap, sehingga hal tersebut dapat berakibat penempatan perempuan pada posisi tidak penting.

Dalam subordinasi ini juga berdampak pada masyarakat perkotaan. Misalnya, ketika terjadi suatu problematika dan perempuan dapat memecahkan hal tersebut akan tetapi anggapannya diabaikan atau bahkan sama sekali tidak didengar sehingga problematika tersebut terus ada dan semakin menggerus keekonomian dalam masyarakat.

Dilanjut dengan stereotip. Stereotip merupakan pelabelan maupun penandaan terhadap suatu kelompok tertentu yang diyakininya. Stereotip ini selalu memiliki dampak yang merugikan dan menimbulkan ketidakadilan. Adapun, salah satu jenis stereotip yang bersumber dari pandangan gender dalam masyarakat. Hal tersebut umumnya terjadi pada perempuan.

Stereotip pada perempuan misalnya adalah pelabelan negatif pada perempuan apabila ia bersolek itu mempertandakan upaya perempuan dalam memancing perhatian lawan jenis. Masyarakat memiliki anggapan bahwa tugas utama perempuan adalah melayani suami (laki-laki). Stereotip ini berakibat pada pendidikan perempuan yang dinomorduakan.

Asumsi stereotip ini terjadi di mana-mana. Hal tersebut disebabkan karena peraturan dari pemerintah, aturan agama, bahkan kultur dalam masyarakat yang dikembangkan oleh stereotip. Stereotip yang memiliki dampak pada pendidikan yang dinomorduakan bagi perempuan dapat menyebabkan kemiskinan. Dengan demikian, anggapan stereotip juga memiliki dampak pada kemiskinan masyarakat. Sebab, salah satu penyebab kemiskinan adalah minimnya pendidikan yang berkualitas bagi masyarakat.

Manifestasi dari ketidakadilan gender tersebut dapat terjadi di tempat kerja maupun di dunia pendidikan. Manifestasi ketidakadilan gender ini juga didukung dengan adanya keyakinan yang telah mengakar dalam ideologi perempuan maupun laki-laki yang disebabkan oleh kultur sosial maupun tafsir keagamaanya.

Baik disadari maupun tidak disadari, hingga saat ini masih banyak kebijakaan perkerjaan di berbagai wilayah bahkan wilayah perkotaan juga masih menggunakan konsep ketidakadilan gender. Yang di mana manifestasi dari konsep ketidakadilan gender tersebut akan mengakibatkan kemiskinan dalam masyarakat dan jika ketidakadilan gender tersebut masih tetap ada ataupun tidak disadari hal tersebut akan memperdalam jurang kemiskinan masyarakat.

Referensi:
  • Fakih, M. 2008.¬†Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Insist Press.
  • Jamaludin, A. N. 2015. Sosiologi Perkotaan: Memahami Masyarakat Kota dan Problematikanya. Bandung: CV Pustaka Setia.
Gibran Zahra