Manusia Bertubuh Maya

Manusia Bertubuh Maya
©iStock

Manusia Bertubuh Maya

Berjalan dengan perkembangan zaman yang mana teknologi juga ikut berkembang memungkinkan manusia untuk beradaptasi dengan teknologi untuk kehidupannya. Segala cara dan perspektif diselaraskan dengan kehendaknya. Akibat sudah menjadi pilihan yang sangat jauh, jika kebutuhan materi diperjuangkan.

Apa pun itu intinya dinikmati. Pola pikir manusia juga turut berubah, dengan sekali pikir yang diinginkan langsung terwujud. Namun, kenyataan tidak semanis ekspektasi. Dan ‘yang maya’ tetap hadir.

Sikap kritis perlu dibangun dalam pola pikir manusia, berani menelaah sejauh mana untung dan rugi sebuah informasi ditawarkan dan perbuatan yang dijalankan. Untuk itulah perlu ditinjau perjalanan zaman ini, zaman di mana rasio mengalami puncaknya. Sehingga, menenggelamkan manusia hingga pada titik kekritisan rasionya. Bukan teknologi dan zaman yang mengakibatkan kekacauan ini, melainkan rasio sangat mendapatkan peran penting.

Abad pencerahan atau renaissance merupakan suatu era ketika rasio menempati posisi yang diistimewakan. Keistimewaan posisi ini didapat setelah adanya upaya melepas kurungan berpikir dan memisahkan kabut kegelapan dogmatisme agama pada era sebelumnya.

Dengan rasio inilah slogan-slogan pencerahan seperti perintah untuk berpikir sendiri, janji-janji kesejahteraan, kesetaraan, dan kemanusiaan mulai menyebar. Pada perkembangan berikutnya, rasio perlahan mulai merealisasikan sedikit janji-janjinya dengan memunculkan kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kedua hal tersebut juga yang membawa masyarakat modern pada kondisi di mana segala kebutuhan mudah untuk dipenuhi. Namun rasionalitas di era modern ini justru memiliki posisi mendua, karena disatu sisi membawa peradaban pada kemajuan, namun pada sisi lain ia juga yang menjadi akar segala penindasan dan eksploitasi.

Rasio yang semula memiliki rekam jejak mengkritisi segala dogmatisme, mitos dan status quo, justru berbalik arah dan kini rasiolah faktor penyebab pelanggengan status quo dan berubah menjadi mitos baru. Sampai pada akhirnya janji-janji pencerahan yang sempat dihembuskan mulai dipertanyakan kembali.

Baca juga:

Rasionalitas bermula dari kata ‘rasio’ yang menurut Herbert Marcuse mengacu pada definisi ‘rasio’ pada zaman Yunani Kuno, yang artinya kemampuan kognitif memilah antara yang benar dan yang salah sepanjang kebenaran dan kesalahan itu terutama merupakan suatu keadaan dari yang ada (being) dan dalam kenyataan (reality) (Listiyono Santoso, 2015).

Kenyataan dalam masyarakat modern justru berkata lain, pengertian rasio ini mengalami penyempitan arti, rasio berfungsi semata-mata untuk mencapai tujuan tertentu.

Sebagaimana rasio semula kritis terhadap segala sesuatu, khususnya dalam konteks abad pencerahan, rasio kritis terhadap kekuasaan agama dan segala bentuk mitos. Namun kini dalam kehidupan masyarakat modern rasio telah menghamba di bawah kendali kekuasaan. Rasio yang semula kerap mencari hal bernama kebenaran yang akhirnya memuat dimensi teoritis dan praktis, kini tereduksi menjadi teknis semata.

Marcuse memiliki istilah khusus dalam menyingkap tabir rasionalitas yang menyebabkan adanya segala bentuk penindasan, status quo, eksploitasi, serta tunduk pada kekuasaan.

Istilah yang digunakan Marcuse adalah rasionalitas teknologi, yaitu rasionalitas yang merujuk pada sebentuk pemikiran yang memiliki titik tekan pada efisiensi, produktivitas, dan hanya mementingkan kalkulasi untung rugi. Karena rasionalitas ini menulari hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat modern saat itu, pada akhirnya rasionalitas ini menjadi sebuah sistem.

Sistem ini membentuk setidaknya dalam dua pola pikir yang dominan, yang nantinya dua pola pikir ini akan memberikan gambaran yang lebih spesifik tentang rasionalitas teknologi. Dua pola pikir yang dimaksud adalah pola pikir instumentalisasi dan operasionalisasi.

Instrumentalisasi merujuk pada suatu pola pikir yang mereduksi manuia sebatas materi bagi tercapainya suatu tujuan. Sedangkan operasionalisasi merujuk pada pola pikir yang menganggap bahwa ilmu pengetahuan diukur dari mampu dan tidaknya ilmu tersebut diterapkan.

Dua pola pikir yang menulari masyarakat ini pada akhirnya menciptakan sistem yang mengalieanasi manusia dan mengancam kebebasan karena sistem ini melahirkan kontrol-kontrol yang kuat.

Halaman selanjutnya >>>
Mario G. Afeanpah
Latest posts by Mario G. Afeanpah (see all)