Manusia dan Manajemen Pembebasan

Manusia dan Manajemen Pembebasan
©ucf.edu

Manajemen jiwa adalah manajemen pembebasan.

Manusia hidup di lingkup makrokosmos, lalu mereka munculkan mikro-mikro di lingkup mereka sendiri. Mereka belajar, menciptakan budaya, dan juga berorganisasi. Itu merupakan sebuah peradaban. Manusia hidup tidak akan lepas dalam kegiatan organisasi.

Dalam kehidupan itu sendiri manusia paling diunggulkan. Ia makhluk Allah paling istimewa dari makhluk-makhluk yang lain. Ia mendapat anugerah akal dan hati sebagai alat untuk menyeimbangi organ tubuhnya. Ia juga punya jabatan dari Allah yaitu sebagai Khalifatul Fil Ard (pemimpin di muka bumi).

Sebagai seorang pemimpin, manusia harus memiliki orientasi tujuan organisasi yang dia emban. Pemimpin harus tahu objek yang ia pimpin dan peka terhadap keadaan organisasi yang sedang ia pimpin. Hal ini selaras dengan teori kepemimpinan yang menyatakan seorang pemimpin harus cerdas, memiliki kedewasaan sosial dan keluasan pengetahuan, memiliki motivasi dalam diri, dan memiliki relasi yang baik dengan anggota organisasi.

Manusia adalah pemimpin. Maka pertama-tama yang perlu jadi perhatian adalah tujuan hidupnya, kemudian adalah diri sendiri—Sudah dewasa belum? Sudah cerdas/ paham situasi  belum? Sudah luas pengetahuannya belum? Diri sudah termotivasi belum? Koordinasi terhadap diri dan orang lain sudah baik apa belum? Karena, sebelum ia memimpin orang lain, ia harus mampu memimpin diri sendiri.

Mengenai tujuan hidup, hakikat tujuan hidup manusia adalah menjadi manusia. Manusia yang benar-benar manusia adalah manusia yang memanusiakan manusia. Dawuhnya Cak Nun demikian. Ya, sejatinya, tujuan hidup manusia tidak lain adalah untuk mencapai kemakrifatan kepada Allah SWT.

Untuk mengetahui hakikat jiwa, manusia membutuhkan pendidikan dan ilmu. Hanya pendidikan yang mampu mentransformasi seseorang untuk menciptakan perubahan terhadap kehidupannya dan pendidikan merupakan sebuah upaya pencarian yang tak ada ujungnya akan kebijaksanaan dan kebajikan yang sudah Allah anugerahkan.

Ini bisa jadi merupakan alasan wajibnya menuntut ilmu. Thalabul ilmi Faridlatun Aala Kulli Muslimin (HR Muslim). Dan saking pentingnya menuntut ilmu, Allah memberi ganjaran bagi orang yang berilmu yaitu akan terangkat derajatnya; Yarfa’i llahul ladziina aamanu minkum wal ladziina uutul ilma darajaah  (QS. Al-mujadalah ayat 11)

Dalam elemen pendidikan terdapat pendidik dan juga peserta didik. Jika orientasi pertama manusia adalah mendidik diri sendiri, maka pertama-tama objek yang harus terdidik adalah akal dan hati. Akal dan hati menjadi objek terpenting dalam merawat esensi dan eksistensi manusia, karena akal dan hati merupakan alat untuk membentuk identitas kemanusiaan itu sendiri.

Baca juga:

Sebagai khalifah/pemimpin, memahami manajemen adalah suatu tuntutan. Maka teori-teori manajemen seharusnya harus terpikirkan secara mendalam. Sebelum kita mengatur orang lain, teori-teori manajemen harus jadi falsafah hidup terlebih dahulu. ‘Manajemen is my live’ sementara kesimpulannya begitu.

Kata ‘Manajemen’ berasal dari bahasa Latin, yaitu dari asal kata manus yang berarti tangan dan agere yang berarti melakukan.kata-kata itu digabung menjadi kata kerja manager yang artinya menangani. Juga dalam bahasa Arab menejemen diartikan sebagai idaarah, yang berasal dari kata adaara, yaitu mengatur.

Sementara dalam kamus Inggris Indonesia karangan John M.  Echols dan Hasan Shadily, Management berasal dari akar kata to manage yang berarti mengurus, mengatur, melaksanakan, mengelola, dan memperlakukan. Dari kata terseebut muncul kata benda manajemen, dan manajer untuk orang yang melakukan kegiatan manajemen.

Akhirnya, manajemen, diartikan sendiri dalam Kamus Bahasa Indonesia adalah: sebuah proses pemakaian sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan atau penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran. (Rahmad Hidayat & H. Candra Wijaya, Ayat-ayat tentang Manajemen Pendidikan Islam).

Manajemen jiwa adalah manajemen pembebasan. Kenapa demikian? Karena manusia hidup hakikatnya haruslah menjadi manusia yang bebas; tidak perlu repot-repot untuk memasang topeng sana-sini supaya dianggap sebagai manusia. Manusia yang sejati adalah manusia yang bisa mengenali diri sendiri sebagai manusia. Man ‘arafa nafsah faqad ‘arafa rabbah.

Mengenai makna kebebasan di sini juga dapat kita ta’wilkan bahwa bebas tidak boleh termaknai dengan ‘tidak mengenal batas’, melainkan bebas adalah ‘mengerti batas’. Manusia bebas ketika ia sadar bahwasanya tidak ada yang lebih mulia daripada berbuat baik. Sedangkan berbuat baik itu ada seninya, tidak boleh tercampuradukkan.

Manusia bebas ketika manusia sudah tidak terikat oleh belenggu-belenggu yang ia ciptakan sendiri seperti halnya membatasi keinginan ruhaninya untuk berbuat baik dengan menanamkan konsep negosiasi untung rugi. Juga, membatasi jiwa-jiwanya dengan bersikap hedonis dan materialis. Ini adalah kekacauan fatal yang sudah lumrah, dan kebanyakan dari kita sebagai manusia sendiri sering kali tidak menyadarinya.

Untuk mencapai kebebasan dalam bertindak manusia harus memahami fungsi-fungsi manajemen yang disingkat dengan kata ‘POACE’ yaitu; planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian) Actuating (perekrutan), controlling (pengendalian), dan evaluating (evaluasi).

Baca juga:

Manusia dalam menjalani kehidupannya harus terencanakan, dalam artian ketika melakukan sesuatu, kita harus memikirkannya secara matang, tidak grusak-grusuk atau gegabah, dan dalam pikirannya harus tertanam sebuah daya untuk membangun peradaban yang baik—Ma’a Allah wa ma’al khalqi.

Lanjut dengan tahap pengorganisasian yaitu manusia menentukan sturuktur dan program kerja dalam tubuhnya. Misal; apa saja proker-prokernya mata, tangan, kaki dan lain sebagainya. sehingga tidak melahirkan langkah yang tidak ngawur atau ben sromben.

Kemudian setelah itu Actuating yaitu perekrutan dan penjalanan proker sesuai dengan tugas dari anggota. Dan tugas-tugas anggota ini tidak boleh tertukar-tukar. Contoh sederhana: kepala disuruh jalan, kaki dipaksa untuk berpikir. Apakah ini bisa kita benarkan? Kan yang ada keseimbangan dalam tubuh tidak akan terjaga.

Kemudian setelah semuanya berjalan harus ada yang namanya control/pengendalian; seberapa efektif dan efesien kinerja tubuh manusia dalam menjalankan aktivitas-aktivitas kesehariannya.  Setelah itu manusia wajib melakukan evaluasi diri sebagai tahap terakhir dalam teori manajemen.

Teori manajemen menjadi sebuah alat bahwa manusia hidup harus mengerti bahwa yang setiap langkahnya berada didalam naungan organisasi baik itu mikro mau pun makro. Dalam menjalanan setiap aktivitas, manusia harus ber-ihtimam penuh dengan aktivitasnya; kira-kira yang dia lakukan itu baik apa tidak, bermanfaat apa tidak, melahirkan kontruksi akhlak apa tidak, dan sebagainya.

Marsyidza Alawiya
Latest posts by Marsyidza Alawiya (see all)