Manusia Multidimensi

Manusia Multidimensi
©Pixabay

Tanya Indah Caci Resah

Tak lelahkah? Kau terinjak, termaki, terjajah, bahkan terlupakan
Tak malukah? Kau yang dulunya anggun memesona, idaman nan sering digoda
Tak resahkah? Kau terbebani, tercekik, bahkan susah untuk bernafas lega

Hai yang bernama ibu pertiwi!
Di mana anak-anak penyelamatmu?
Di mana pelindungmu?
Di mana ajudanmu?
Apakah sudah tak sudi berdamai denganmu?
Mengapa bagian September di tubuhmu selalu berujung tragis?

Selalu ada kisah bengis!
Di luar nalar logis!
Beruntunglah sebagian anak-anakmu bernalar kritis

Apa kabar anak tirimu yang bernama komunis?
Apa kabar anak tirimu pula yang bernama agamis?
Serta apa kabar anak tirimu yang bernama nasionalis?
Lantas siapa anak kandungmu dari rahim ideologis?

Ayolah, bu
Jika kau muak, silakan saja mengadu
Masih ada suamimu yang bernama langit tetap siap membantu
Ada pula aku yang dengan malasnya mencaci
Mencaci entah apa ujaran dalam hati

Tenanglah, ibu
Satu suara. Satu kita bersama

Yogyakarta, 30 September 2019

Aku Tertegun

Aku tertegun…
Tangis pertama di hari Jumat
Seorang anak penuh haru
Ditemani ayah ibu dengan pelukan kuat
Hari itulah mereka mulai menumpuk dahan-dahan rindu

Aku tertegun…
Melihat wajah lugu mereka serta air matanya yang diterka
Menyelami samudra rindu pada keluarga
Menempati ranah suci nan penuh roman pada sang maha Esa
Kitab kuning pun dilukisnya, tak lupa Alquran dihayatinya

Aku tertegun…
Ketika segerombol wajah itu bergelar santri
Tak ada uang bukanlah masalah berarti
Ketika penat tak terasa di hadapan mobil pak Kyai
Ketika bioskop tak ada harganya dibanding berpapasan dengan santriwati

Aku tertegun…
Ketika di luar sana, teman sebaya mereka dengan bebas ke sana-kemari bersama lawan jenis
Di dalam pesantren mereka sibuk menghafal bait ilmu hingga ribuan baris
Ketika di luar banyak yang amburadul hidupnya karena bisnis
Berbeda dengan mereka di ranah suci yang sedang menyinergikan arah kehidupan nan tiada
kata habis

Yogyakarta, 19 September 2019

Aparat yang Bejat

Detak arloji bergulir seperti muara air di hilir
Masa terlewat hadapi segala getir
Lambat serasa cepat mengakumulasi takdir
Fana adalah kata terakhir.

Hai pujangga rindu…
Bisikan kasih mengajak untuk bercumbu
Satu jam saja, mari kita melepas rindu..

Nikmat rasanya makin menggebu
Basah sudah selangkanganmu
Terbasuh suci sperma dengan lender rahimmu
Kulihat kusam jam itu,
Terdengar sayup azan berjibaku

Dengarkan kata darimu!
Satu jam yang kau mau,
Menjadi satu malam yang kau belenggu!

Ingatkah kau kekasih?
Aku di depanmu malam itu
Kutatap tajam bola matamu
Mulutmu bungkam
Mata terbukamu seakan terpejam

Kurasa dirimu menjauh atas dasar dendam
Engkau mengingat penisku dalam kuluman pelacur malam itu
Hingga kini kau rasa aku tak ada
Yang ada hanya payudara pelacur dan penisku kala itu

Betapa kedekatan ini hanya abstrak
Tanpa sekat namun berjarak

Lagi-lagi aku mulai muak pada semesta yang melahirkan jarak
Waktu itu, jarak itu dan ruang itu…
Hanya terpenjara dalam ego, nuranimu, nuraniku serta penis dan vaginamu.

Yogyakarta, 27 September 2019

Moh. Ainu Rizqi
Latest posts by Moh. Ainu Rizqi (see all)