Marapu Moro

Marapu Moro
©Zeenews

Ia menggunakan kekuatan gaib Marapu Moro untuk merenggut nyawaku.

Wanita itu makin mendekat. Dari jauh terlihat kedua tangannya terentang, hendak merangkul tubuhku. Saat mendekat, ia memelukku.

Anehnya, dalam dekapannya yang kelihatannya begitu akrab, ia lantas berubah rupa menjadi seekor naga betina yang beringas. Ia melilit sekujur tubuh hingga aku susah menghirup napas. Spontan saja aku berusaha untuk melepas lilitannya, namun ia masih jauh lebih kuat ketimbang tenagaku yang tidak seberapa.

Dalam kepayahan itu, aku hanya bisa berkata, “Apa yang kau inginkan dariku, Naga?”

Kata-kata itu seperti mantra yang sangat mujarab. Naga itu pun langsung melepaskan lilitannya. Ia kembali menjelma menjadi seorang wanita penuh dendam kesumat melekat wajahnya. Sambil menertawakan kerapuhanku, ia pun menghilang di balik pintu kamar dengan sinaran lampu yang temaram. Aku pun terbangun. Sebaris keringat menggerimis usai perang dalam bunga tidurku.

Itulah mimpi yang kualami empat malam berturut-turut. Mimpi yang sama dengan gadis yang serupa pula. Mimpi yang membuatku selalu dikerubuti dengan rasa takut. Malam-malam terasa begitu menyeramkan. Aku jadi fobia terhadap kegelapan karena selalu mengingatkanku pada sosok gadis misterius yang selalu menggerogoti tidurku.

Saat bangun pagi pada hari kelima, aku merasakan perih pada kedua payudaraku. Perih yang diikuti dengan membesarnya ukuran buah dadaku. Besarannya tidak seperti biasanya. Makin hari makin mengembung seperti balon yang ditiup.

Aku menjadi malu kepada teman-teman dengan ukuran payudara di luar batas kenormalan. Tidak proporsional dengan tubuh yang kurusan dengan tinggi yang hanya menyentuh angka 130 cm.

Seorang teman cewekku malah berkomentar yang aneh-aneh melihat perubahan yang begitu drastis. Ia mengira aku melakukan operasi pembesaran payudara untuk menarik simpati lelaki. Dugaan yang bakal tidak masuk di akal karena memang aku sudah bersuami.

Memilih untuk berselingkuh merupakan hal yang tidak mungkin. Selain dilarang oleh ajaran agamaku, aku juga tipe wanita yang setia terhadap suami. Setia dengan pasangan memang mahal yang sulit didapatkan zaman sekarang.

Bagiku, wanita yang tidak setia kepada suaminya tidak akan mampu mengecap kebahagiaan rumah tangga. Ia mungkin bergembira, tetapi tidak bahagia. Karena tidak ada kebahagiaan tanpa kejujuran.

Merasa takut terhadap perubahan yang terjadi pada payudaraku yang tak diketahui penyebabnya mengantarkanku untuk memeriksa ke dokter.

“Tak ada sesuatu yang terjadi dengan payudaramu,” kata dokter setelah mendiagnosa.

“Kok bisa ya, dok!” balasku dengan penuh keheranan. Lantas apa yang terjadi?

“Hasil scan tidak menangkap suatu kejangggalan pun pada payudaramu, Nak,” jelas dokter yang menyadarkanku dari lamunan.

Pikiranku mulai tak menentu seusai pemeriksaan itu. Aku mulai menduga-duga bahkan menghubungkannya dengan mimpi yang kualami berturut-turut selama sepekan yang lalu. Sebab menurut cerita kedua orang tuaku di kampung, Sumba Barat Daya, mimpi itu bisa menjadi sarana pemberitahuan dari nenek moyang tentang apa yang bakal terjadi di dunia nyata.

Hal itu boleh kita anggap sebagai sebuah kebohongan orang tua hanya sekadar untuk menakut-nakuti setiap anak jika tak hendak tidur di malam hari. Toh kebenarannya pun tak dapat dibuktikan dengan eksperimen dengan metode supercanggih mana pun. Hal itu hanya merupakan sebuah common sense yang hidup terkatung-katung di masyarakat.

Halaman selanjutnya >>>
Jetho Lawet
Latest posts by Jetho Lawet (see all)