Mati di Pinggir Kali

Mati di Pinggir Kali
©Maarif Jateng

Terang selalu meninggalkan gelap, mengiris hati yang selama ini kubalut dengan senyum manisnya. Kuingin petik setangkai bunga mawar yang bertumbuh mekar di kedua lesung pipimu. Aku hanya bisa meraihnya karena sudah cukup untukku menikmatinya.

Selama aku masih memikirkan semuanya dengan nada riang, aku selalu mengizinkan waktu untuk menulis namamu dalam batok kepalaku. Aku tidak bisa melihatmu sendiri mengebas debuh dari ujung rambutmu. Aku tahu pasti kamu akan menggugurkan air mata sebelum langit menarasikan sajak dalam mimpimu.

Dalam perjalanan proses, aku hanya bisa mengedit senyummu yang selalu mekar di setiap waktu senja. Aku ingin mengiris bibirmu yang merah buah delima dengan pisau yang sudah berkarat. Aku mengirisnya dengan tetesan air mata kesal. Dadamu yang selama ini menjinakan ribuan peristiwa dalam setiap jejak kaki perjalananku, kini meninggalkan gelap yang sunyi. Aku hanya turut berdukacita sebelum waktunya kita makan nasi dalam satu dulang. Memang kita bermimpi seperti yang diharapkan tetapi selalu hadir sebuah kenangan yang gelap.

Dan di antara doa dan dosa selalu ada ruang harapan dan jawaban yang masih dipantau. Aku menggigit jari. Semuanya tinggal langit yang menarasikanya, kau dan aku hanya sebatas garis yang memisahkan kita dan langit. Ternyata setelah kita melakukan perawatan terhadap waktu, kita mengeluh dalam doa tentang diujung jalan raya ada komentar yang menyahut. Kita diusir tanpa kompromi keluar dari taman Eden untuk merasakan betapa susahnya hidup ketika kita selesai menelurkan ide dalam sebuah doa panjang. Selebihnya kita akan mati bersama di pinggir kali. Mati dengan senyum agar perpisahan dan perceraian kita akan disatukan di alam baru.

Ayahku lelaki gondrong

Setiap lembaran buku, aku hanya mengeluh dengan rambut ayah yang gondrong. Penaku selalu menyisir rambut ayahku dengan kasar karena rambutnya penu jerami. Ibuku tidak sanggup menahan air mata melihat ayah yang selalu menyimpan sejuta harapan dalam bola matanya. Entahlah seperti apa yang dikabarkan tetapi itulah sebuah rekam jejak panggilan sebagai seorang ayah. Hanya daun-daun kering di taman yang mampu menjelaskan. Rasanya susah diatur tetapi aturannya susah untuk dipikirkan karena tanpa alasan.

Ayahku lelaki gondrong, penuh dengan tragedi. Hidupnya hanya sebatas mimpi tetapi punya wibawa untuk bermimpi. Jejak padi dan jagung di kebun selalu mengabarkan pesan tentang diujung senyum ada emas. Pagi dan petang menasihatinya dengan lugu. Hidup memang punya arti dan nama. Ia tak meninggalkan kenangan terindah tanpa alasan yang menyesatkan. Derai air matanya dan keringatnya selalu menyimpan sejuta harapan indah yang terus berkelana dalam urat nadinya.

Ayahku lelaki gondrong, menjahit lukanya sendiri di setiap waktu. Tulang punggungnya menarik meskipun sebagiannya telah retak dan jatuh di pinggir kebun. Giginya yang putih dan bersih kini meninggalkan jejak penuh rindu untuk dikenang berapa jumlah giginya yang jatuh. Barangkali ia menjadi ayah yang gondrong karena hutang perut mengiris luka hingga ia tak bisa mengurus rambutnya. Semuanya demi menjinakan kata cinta.

Hanya saja ia tidak menghabiskan waktu untuk mengeluh tetapi hanya mengelus. Rambutnya yang gondrong mengakar berurat dengan keras dan tangguh. Rejeki memang butuh setia dan pengorbanan tetapi mata tak telat mengabarkan air mata untuk membasahi rasa senangnya. Dalam sebuah doa yang disusunnya sebelum menikah dengan ibu adalah meretas kata cuma cinta.

Ibuku Seorang Penjual di Pasar

Ketika waktu subuh meninggalkan mimpi di balik selimut. Ayam jago berkokok menyapa mentari pagi. Ibuku terpaksa mengusap mata untuk bangun dari ranjang. Kakinya terus melangkah dan tangannya meraih seember air untuk membasuh wajahnya. Ia mengambil sisir reyot dan menyisir rambutnya yang keriting dan berpakian seadanya tanpa rias yang pernak pernik. Sederhana. Karena kecantikannya telah luntur bersama barang jualannya. Barangkali kecantikannya telah beralih ke barang jualannya. Itulah rahasia kecantikan ibuku ketika mencari nafkah dengan jualan di pasar.

Waktu subuh semakin mundur dan waktu pagi terus melambungkan madah pujian syukur. Bus kayu telah parkir di depan rumah. Layaknya ibuku adalah ratu yang siap dijemput di tempat tanpa kakinya melangkah jauh untuk mencari. Barang-barang jualan sudah di depan rumah dan siap dinaikan ke dalam bus kayu. Setelah semua barang jualan sudah dalam bus kayu, ibuku bergegas naik dan duduk memangku barang jualannya. Barangkali lebih nyaman ketika memangku setiap lambung kami sekeluarga dalam barang jualannya. Karena tanpa itu akan ada kelaparan hinggap dalam keluarga kami.

Pilu kian menyisir rasa penat karena menanti pembeli. Di pinggir jalan ibuku duduk menyapa waktu dengan setia menawar barang jualannya untuk dapat dibeli oleh pembeli. Langit tak lekas menawar rindu untuk mendapat rezeki. Lapar dan haus selalu datang mengunjunginya. Ia tetap setia dan tabah. Doa permohonan selalu mengalir memenuhi waktu. Sampai pada akhirnya ibuku memanen rezeki dengan senyum. Biar sedikit tetapi ibuku dapat mengisi lambung kami dengan hasil jualannya tanpa suatu paksaan yang terpaksa.

Unit Gabriel, 2021

Epi Muda
Latest posts by Epi Muda (see all)