Matinya Nalar Kritis Mahasiswa

Matinya Nalar Kritis Mahasiswa
©Harjo

Realitasnya, nalar kritis mahasiswa hanya selalu berakhir pada ruangan diskusi.

Sudah banyak tulisan yang mengatakan bahwa mahasiwa merupakan bagian dari kontrol sosial yang masih memiliki idealisme. Sejarah panjang bangsa ini, dalam pengambilan kebijakan demokrasi, mahasiswa selalu menjadi bagian dari kekuatan sosial. Hal demikian merupakan suatu keharusan yang dilakukan oleh mahasiswa yang masih dalam proses pencarian jati dirinya.

Realitasnya, nalar kritis mahasiswa hanya selalu berakhir pada ruangan diskusi. Bahkan tak jarang konsep yang dimiliki hanya berakhir pada wacana forever. Walaupun tak semuanya, hanya saja mahasiswa saat ini banyak berkomentar namun tidak mampu memberikan satu perubahan yang signifikan.

Banyaknya kasus di negeri ini tidak juga mengetuk relung hati terdalam dari para mahasiswa untuk memberikan kritikan dan saran kepada pemerintahan. Justru sebaliknya, antara mahasiswa saling menyerang satu sama lain, menunjukkan dirinya sebagai pakar yang tidak jelas keilmuan apa dalam kepakarannya.

Menjadi mahasiswa, memiliki keberanian yang lebih serta diisi oleh nalar idealisme, maka akan menghasilkan seorang mahasiswa yang berkualitas, di lain kecerdasan keilmuan yang dimiliki.

Sekian banyaknya mahasiswa di Indonesia, kita perlu mengapresiasi Ketua BEM UI yang berani memberikan kritik terhadap pemerintahan yang ada. Walaupun ada yang mengatakan bahwa ketua BEM UI ini tidak memiliki keilmuan dalam mengkritik, justru orang seperti ini perlu dipertanyakan kemahasiswaannya. Mungkin dia sudah cerdas, sehingga ia tidak bisa melihat realitas yang terjadi. Bahkan kritikan yang dilontarkan kepada ketua BEM UI pun juga tidak berdasar.

Sekiranya setiap warga negara berhak memberikan kritik terhadap penguasa, kecuali negara kita memang negara yang pemerintahannya otoriter atau bahasa kerennya semi otoriter/orde baru. Apa pun masalah di bangsa ini, yang berkaitan dengan tatanan sosial masyarakat, seorang presiden harus mampu hadir sebagai pemberi solusi atas suara rakyat. Jika kita melihat, banyak jejak-jejak digital yang presiden sendiri sering mengingkari kata-katanya.

Siapa sekiranya yang akan bertanggung jawab jika bangsa ini dalam keadaan kacau balau? Saya kira tanpa kita sebut pun pasti semuanya bisa menebak. Kehadiran pemimpin tertinggi dalam menjaga stabilitas negara itu perlu. Justru bagian dari pemimpin itu sendiri yang sering membuat persoalan.

Maka dari itu, sebagai mahasiswa, melihat kondisi ini kemudian tidak mampu bersuara, maka perlu dipertanyakan. Justru saat ini, mahasiswa seakan-akan dibenturkan satu sama lain. Bagaimana mahasiswa bisa menyuarakan keadilan sosial jika di tubuh mahasiswa sendiri tak bisa satu?

Justru apa yang dilakukan oleh BEM UI ini menunjukkan masih adanya beberapa mahasiswa yang kritis. Justru teman-teman BEM se-Indonesia perlu mempertanyakan diri, untuk apa menjadi pengurus BEM yang hanya selalu berada di ruang-ruang diskusi? Tidak ada lagi persatuan di kalangan mahasiswa.

Baca juga:

Bahkan jika kita melihat, mahasiswa saat ini tidak berani untuk memulai untuk melakukan gerakan mahasiswa. Kita lihat apa yang dilakukan oleh BEM UI, setelah viral barulah muncul gelombang dukungan dari berbagai pihak. Seharusnya gelombang kritik ini, dari sejak dulu harus dirawat oleh kampus dan mahasiswa agar tidak menghasilkan mahasiswa yang apatis, atau masa bodoh dengan berbagai persolan yang terjadi pada bangsa ini.

Selain itu, menjadi mahasiswa cerdas, ketika kecerdasan itu tidak mampu menjadi sesuatu  yang berharga, maka kecerdasan itu akan sia-sia. Perlu kecerdasan itu direalisasikan dalam bentuk gerakan, mahasiswa harus menguasai semua platform media, tulisan dan sebagainya, untuk keperluan dalam mengkritik ketidakadilan.

Mahasiswa, idealnya, jangan cepat menjadi pakar, tetapi sebaliknya mahasiswa harus mampu menjadi dinamisator, inisiator serta menjadi penggerak dalam melakukan perubahan sosial.

Asman