Mbak Yenny Wahid

Mbak Yenny Wahid
Yenny Wahid

Melihat Mbak Yenny Wahid seperti melihat Gus Dur. Ia orang yang kikuk ketika dipuji dan tak marah juga ketika dicaci. Dia tak peduli dengan berita hoaks, baik yang “membangun” apalagi yang tak membangun.

Nalar Warga Tubuhnya agak tinggi. Timbre suaranya tebal. Sering menunduk ketika berjalan, tapi sangat percaya diri kalau sudah berada di atas mimbar. Dia adalah Zannuba Arifah Chafsoh binti Kiai Abdurrahman ibn Kiai Abdul Wahid ibn Kiai Hasyim Asy’ari yang dikenal dengan panggilan Mba Yenny Wahid.

Saya mengenalnya secara pribadi. Orangnya baik, murah senyum, dan sangat cerdas. Minat belajarnya tinggi. Ia belajar banyak disiplin ilmu, terutama bidang ilmu yang tak banyak diperoleh ketika ia kuliah dulu.

Ia mengerti politik, bukan hanya melalui bacaan buku-buku politik melainkan juga dengan berguru langsung pada ayahandanya, KH Abdurrahman Wahid. Dari ayahandanya, ia mewarisi insting politik yang tajam. Ia tahu, kapan mundur dan kapan maju; kapan meniti gelombang dan kapan juga memecahnya.

Itu sebabnya ketika ada yang menawarinya menjadi calon gubernur, dia sudah tahu apa yang harus dilakukan. Dan sekiranya ada dampak dari keputusan politik yang diambilnya, itu pasti sudah dalam kalkulasinya.

Dia bukan orang yang mudah panik. Sebab, dalam mengampil keputusan apa pun, apalagi dalam soal-soal strategis kebangsaan, ia biasanya memadukan antara pertimbangan rasional dan informasi spiritual. Musyawarah selalu ia lakukan, tapi salat istikharah tak pernah ia tinggalkan.

Itulah Mbak Yenny Wahid. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.

Melihat Mbak Yenny Wahid seperti melihat Gus Dur. Ia orang yang kikuk ketika dipuji dan tak marah juga ketika dicaci. Dia tak peduli dengan berita hoaks, baik yang “membangun” apalagi yang tak membangun.

*Abdul Moqsith Ghazali

___________________

Artikel Terkait:

    Warganet

    Pengguna media sosial
    Warganet

    Latest posts by Warganet (see all)