Meikarta, Peluang dan Ancaman bagi Indonesia

Meikarta, Peluang dan Ancaman bagi Indonesia
Ilustrasi Kota Meikarta

Sebuah kota impian bernama Meikarta memiliki potensi strategis. Kota ini, jika dioptimalkan, dapat menjadi salah satu faktor pertumbuhan ekonomi Indonesia yang memiiki daya saing di kancah global.

Dengan masterplan yang menyediakan beragam fasilitas serbamodern, tentu memiliki dampak ekonomi yang sangat luar biasa. Kota impian ini sekaligus akan membantu pemerintah dalam menyediakan tempat hunian bagi masyarakat.

Kota ini hadir di tengah permasalahan masyarakat yang krisis tempat hunian. Setidaknya ada sekitar delapan juta masyarakat mampu—belum termasuk masyarakat miskin—yang saat ini tidak memiliki rumah, belum ditambah dengan bonus demografi di tahun 2025-2035. Di sini, kota ini memberikan solusi alternatif, menyediakan sekitar 250 ribu unit rumah yang mampu menampung satu juta jiwa pada akhir tahun depan.

Sebagai sebuah kota modern yang dicanangkan sebagai kota tercanggih dan termegah se Asia, Meikarta akan dilengkapi dengan fasilitas umum berupa rumah sakit, lembaga pendidikan mulai tingkat dasar sampai perguruan tinggi, perpustakaan, pusat penelitian, perkantoran, mall, taman, dan jalur transportasi. Semua fasilitas ini berkelas internasional dan nasional plus.

Meikarta dan Jakarta

Dalam iklan yang kerap ditayangkan di berbagai stasiun televisi dan media online, menggambarkan Meikarta jauh lebih superior dari Jakarta. Iklan yang memulas Jakarta dengan warna yang bernuansa kusam dan gelap itu, berusaha membuat warga Jakarta gelisah tentang pengalaman mereka dengan kotanya yang penuh permasalahan, dari kemacetan, kriminalitas, banjir, hingga sampah. Mindset masyarakat dibentuk menjadi kesan buntu, bahwa Jakarta sudah mengalami kerusakan luar biasa dan tidak dapat diselamatkan.

Meikarta menawarkan kemewahan dengan desain kota yang memadukan gaya Amerika, Eropa, Asia, dan modern. Alamnya yang asri dan bebas dari polusi membuat Meikarta seolah benar-benar menjanjikan kehidupan baru bagi masyarakat Indonesia, terutama Jakarta.

Wacananya, Meikarta akan menjadi kota paling modern yang memiliki central park seperti New York, system terintegrasi seperti Senzhen, dengan komputer, toko baju, dan jendela yang semuanya ala fiksi ilmiah. Meikarta memiliki teknologi yang barangkali belum ada di dunia. Tetapi, Meikarta sendiri juga belum ada di dunia.

Meikarta dan Pemerintah

Masa pemerintahan Jokowi-JK ini menargetkan pembangunan perumahan sebanyak satu juta unit, yang dalam pembangunannya juga melibatkan sejumlah investor. Kehadiran Meikarta dengan rencana membangun 250 ribu unit perumahan vertikal, tentu turut membantu terealisasinya program pemerintah.

Animo masyarakat dalam menyambut kehadiran Meikarta juga luar biasa. Meski secara nyata Meikarta belum ada, hingga grand launching pada tanggal 17 Agustus kemarin, sudah tercatat 99.300 unit terpesan.

Akan tetapi, kehadiran Meikarta sebagai kota baru yang serba modern justru menunjukkan kelambanan—untuk tidak mengatakan kegagalan—pemerintah dalam menata Ibu Kota dan menyediakan rumah hunian bagi masyarakat. Pembangunan yang digerakkan oleh korporasi, menandakan kelemahan sebuah Negara dan sekaligus mengantarkan masyarakat ke pintu perekonomian neoliberal. Sebuah pendekatan yang mengasumsikan bahwa pasar menjadi satu-satunya kekuatan, sementara peran Negara secara perlahan mulai ditelanjangi.

Peluang dan Ancaman

Sebuah teori yang disebut trickledown effect mengasumsikan kegiatan ekonomi yang lebih besar diharapkan dapat memberikan efek terhadap kegiatan ekonomi di bawahnya yang memiliki lingkup yang lebih kecil.

Meikarta, selain mampu menampung jutaan jiwa, fasilitas super lengkap yang terdapat dalam masterplannya tentu juga mampu menyediakan lapangan kerja yang luas bagi masyarakat. Hal ini diharapkan mampu menyerap tenaga kerja lokal yang di Jawa Barat saja terdapat 1,8 juta penduduk pengangguran per Maret 2017, dan diperkirakan akan mengalami bonus demografi di masa mendatang.

Kehadirannya, meski mengklaim sebagai hunian murah yang dapat dibeli semua orang, pemasarannya tampak menargetkan kelas menengah atas di wilayah Jabodetabek. Promosinya yang masih dalam imaji justru menegaskan bahwa warga lemah dan tidak dilibatkan dalam membenahi kotanya. Sehingga satu-satunya jalan untuk hidup layak dan nyaman adalah dengan membeli properti, bagi yang memiliki kemauan dan kemampuan.

Dampak kehadiran Meikarta yang paling dikhawatirkan adalah kesenjangan dan hilangnya peran Negara. Hadirnya Meikarta yang strategis karena terletak di jantung perekonomian Indonesia, justru hanya akan dihuni oleh masyarakat elit saja.

Kehidupan yang serba megah dan canggih itu, tidak cukup dengan harga hunian yang relatif murah. Masih ada biaya hidup yang cenderung mencekam masyarakat menengah ke bawah, serta biaya pendidikan anak-anak yang tidak kalah mencekamnya. Dan ini tentu mengakibatkan kesenjangan sosial di perkotaan menjadi semakin lebar.

Jikapun masyarakat luas mampu mengakses kehidupan di kota impian ini, masih terdapat kekhawatiran yang lain. Sebuah kota yang dibangun oleh swasta tentu akan membunuh asas demokrasi negara ini. Dalam hal apa pun, yang menyangkut kehidupan di kota Meikarta tidak akan ada suara rakyat, melainkan hanya akan ada suara pemegang saham.

Barang siapa yang paling banyak memiliki saham, dialah yang paling berhak menentukan kebijakan. Di kota impian itu, negara akan kehilangan perannya sebagai negara.

___________________

Artikel Terkait:
Jeki Sahrawi
Latest posts by Jeki Sahrawi (see all)