Memaknai Hari Perdamaian Melalui Pemikiran Filsafat Eric Weil

Memaknai Hari Perdamaian Melalui Pemikiran Filsafat Eric Weil
©Kumparan

Eric Weil merupakan aktivis perdamaian, sangat peduli terhadap persoalan-persoalan kemanusiaan.

Setiap 21 September selalu diperingati Hari Perdamaian Dunia atau World Peace Day. PBB menetapkan Hari Perdamaian Dunia sejak 21 September 1981 agar perdamaian dunia terwujud dan mengakhiri perang serta kekerasan.

Kedamaian adalah kebutuhan primer bagi setiap manusia, tidak ada satu pun manusia yang tidak ingin adanya kedamaian. Namun, kedamaian sering kali disalahartikan, maksudnya manusia lupa dan hanya ingin kedamaian bagi dirinya sendiri tanpa melihat kedamaian orang lain. Demi terwujudnya kedamaian yang proporsional bagi dirinya, mereka melakukan segala cara bahkan hingga melakukan tindak kekerasan kepada yang lain hanya agar hidupnya merasa damai.

Setiap manusia meyakini bahwa perdamaian adalah hal yang indah dan cita-cita bersama. Namun, dalam kehidupan sosial yang ditandai adanya sekat dan hierarki dari mulai tingkat pendidikan, kelas sosial, profesi, latar belakang budaya, dan kepentingan terdapat banyak manusia yang mempunyai sifat individualis dan konsumtif.

Lalu bagaimana menjamin bahwa akan ada banyak individu yang menyadari tanggung jawab sosialnya dan apakah ada yang dapat menjamin bahwa imbauan moral cukup efektif untuk menumbuhkan kesadaran individual mengenai tanggung jawab untuk mewujudkan perdamaian? Bukankah masih banyak kekerasan yang bersifat struktural dalam masyarakat modern yang memengaruhi hajat hidup orang lain tetapi tidak terlihat secara langsung dan memberikan dampak secara nyata terhadap kehidupan banyak orang?

Salah satu ungkapan Albert Einsten, yakni “Perdamaian tidak dapat dijaga dengan kekerasan, hal itu hanya dapat diraih dengan pengertian.” Lalu untuk mengerti atau dapat menapaki pengertian perdamaian, kita harus berada dalam jalan filosofis yang radikal. Kita harus mengerti terlebih dahulu apa itu damai, setelah itu barulah kita bisa menemukan kedamaian dalam diri kita demi sebuah perdamaian bagi seluruh manusia.

Jika mengaitkan perdamaian dengan pemikiran yang filosofis, ada salah satu filsuf yang menjadikan filsafat sebagai jalan menuju kedamaian, yakni Eric Weil yang merupakan filsuf asal Prancis dan mempunyai pengembangan teori yang menempatkan upaya untuk memahami kekerasan di pusat filsafat, karena filsafat harus membantu manusia agar dapat memecahkan persoalan hidup bersama termasuk kekerasan dan harus membantu manusia agar dapat mewujudkan perdamaian dalam kehidupan sehari-hari.

Selain sebagai filsuf, Eric Weil merupakan aktivis perdamaian, ia sangat peduli terhadap persoalan-persoalan kemanusiaan, dan menurutnya kekerasan adalah problem kemanusiaan yang harus dihadapi oleh filsafat. Namun, filsafat tidak dapat dipersempit cakupannya hanya untuk merefleksikan kekerasan.

Dalam masyarakat yang diwarnai dengan kekerasan, maka kekerasan itu dapat menjadi sebuah proses datangnya filsafat. Banyak penawaran dalam filsafat untuk membangun hidup bersama dengan damai tanpa adanya kekerasan dalam diri manusia.

Manusia adalah subjek dalam filsafat, karena manusia bisa membawa potensi kekerasan dan sekaligus potensi untuk membebaskan dirinya sendiri agar merasa damai. Manusia  memiliki subjek bebas untuk memilih jalan kekerasan atau jalan dalam mewujudkan potensi hidup damai yang rasional. Ketika manusia mengabaikan potensi yang rasionalnya berupa hidup damai, maka tidak bisa dipungkiri ia akan melakukan kekerasan.

Eric Weil menganggap bahwa manusia bukan makhluk yang rasional, karena banyak tindakan yang dilakukan manusia dirasa tidak rasional. Oleh karenanya, Eric Weil menganggap manusia adalah makhluk yang mempunyai potensi untuk bertindak dan hidup secara rasional.

Baca juga:

Ketika akal budi mengarahkan hidup pada sikap atau perilaku yang koheren, maka manusia akan mempunyai potensi yang rasional. Sementara itu, jika akal budi tak mengarahkan hidup, manusia akan dikuasai oleh insting serta nafsu untuk berbuat kekerasan dan jauh dari potensinya dalam bertindak dan berbuat secara rasional.

Menurut Eric Weil, filsafat hadir dalam mewujudkan hidup yang rasional dan penuh kedamaian, berfilsafat merupakan perjalanan manusia untuk makin menjadi dirinya yang bermakna sosial dan universal agar terbebas dari cengkeraman kepentingan individu yang bersifat irasional. Berfilsafat adalah tindakan nyata dalam mewujudkan potensi hidup yang rasional dan damai.

Ketika manusia mampu memahami filsafat, manusia itu akan bertindak dalam upaya mewujudkan makna kehidupan dengan rasional. Sehingga dalam diri manusia yang rasional ia akan menjauhkan kekerasan dalam hidupnya dan kedamaian akan terus menghampirinya.

Bagi Eric Weil, filsafat bukan hanya sekadar teori spekulatif saja, melainkan pemikiran yang rasional untuk membentuk perilaku dan moral manusia di tengah persoalan aktual seperti kekerasan. Jika Immanuel Kant dalam refleksi moralnya menjelaskan apa yang seharusnya manusia perbuat karena manusia mempunyai kewajiban dalam memperjuangkan hidup agar terwujudnya hakikat manusiawi, Eric Weil menjelaskan apa yang seharusnya tidak dibuat oleh manusia, dan hal yang tidak boleh diperbuat oleh manusia adalah kekerasan.

Kekerasan bukanlah tindakan manusiawi dan juga tidak rasional. Eric Weil menganggap bahwa kekerasan adalah anti-filsafat dan orang yang berfilsafat adalah orang yang anti terhadap kekerasan.

Dalam kacamata Eric Weil, berfilsafat adalah aktivitas moral-politis yang mana terdapat hubungan erat antara moral dan politik. Eric Weil menegaskan bahwa politik itu merupakan salah satu aspek dalam moral dan esensi dari moral adalah kehidupan politik.

Moral berhubungan erat dengan kehidupan bermasyarakat yang memperjuangkan kesejahteraan dan kebahagiaan. Menjadi manusia yang bermasyarakat merupakan jalan untuk terwujudnya moralitas secara manusiawi dan jalan untuk menemukan hidup manusia agar tercapainya sebuah kebahagiaan dan kedamaian.

Transformasi filsafat untuk kehidupan selalu terjadi dalam masyarakat dan tindakan moral bermuara pada manusia dalam mewujudkan daya rasional. Maka, moralitas secara hakikatnya hidup dalam masyarakat yang diwarnai dengan upaya mewujudkan kebahagiaan. Tempat untuk memahami kehidupan dan sarana memahami potensi rasional terdapat pada lingkungan masyarakat. Eric Weil memahami moralitas sebagai peningkatan tanggung jawab sosial yang ditandai dengan pemikiran, sikap, dan tindakan rasional agar terciptanya perdamaian.

Untuk memaknai Hari Perdamaian Dunia, gagasan pemikiran dari Eric Wiel tentang bagaimana filsafat menjadi landasan dalam upaya menuju perdamaian, terdapat beberapa hal yang digaris bawahi bahwa yang tidak boleh diperbuat oleh manusia adalah kekerasan, karena kekerasan adalah bentuk dari manusia yang tidak menggunakan daya akalnya secara rasional.

Selain itu, bagaimana manusia menafsirkan masalah moralitas bukan tentang baik-buruk atau benar-salah yang telah mengakar menjadi dogmatis. Kebenaran tertinggi mustahil ada dalam filsafat, karena manusia sendirilah yang menjadi subjek dari filsafat.

Baca juga:

Akan tetapi, penolakan terhadap kebenaran merupakan bentuk kekerasan. Dan dalam mewujudkan perdamaian bagi umat manusia, perlu adanya tanggung jawab dari manusia terhadap masyarakat. Karena dari manusia yang bermasyarakat dan bertanggung jawab dalam menyikapi persoalan kekerasan dengan musyawarah tentang baik-buruknya sebuah tindakan, maka akan tercipta perdamaian.

Oleh karena itu, demi terciptanya perdamaian yang mengarah pada kebahagiaan manusia, manusia harus mengetahui damai pada dirinya dalam artian mempunyai potensi rasional, dan setelah itu barulah dapat bersikap tanggung jawab dalam masyarakat demi kedamaian manusia, sehingga pada taraf puncak manusia yang bahagia lahirlah perdamaian dalam diri setiap manusia.

    Hery Prasetyo Laoli
    Latest posts by Hery Prasetyo Laoli (see all)