Memaknai Sumpah Pemuda

Memaknai Sumpah Pemuda
Foto: Henny Supolo (FB)

Nalar Warga – Sekolah Guru Kebinekaan memaknai Sumpah Pemuda, momen penting dalam sejarah bangsa Indonesia, dengan belajar dari Komunitas Sangga Buana, Karang Tengah, Jakarta Selatan.

Bang Idin Choirudin, sahabat lama kami, sudah menunggu dengan wajah ceria. Indonesia Raya yang kami nyanyikan bersama, di awal pertemuan memaknai Sumpah Pemuda ini, terasa sangat mengharukan.

Sikap tegap Bang Idin dan teman-teman semua seakan menyatakan kesiapan untuk terus menjaga keabadian bangsa. Dan berbekal ceritanya, kami pun menapaki area hutan dan sungai yang telah mereka garap selama lebih dari 30 tahun di pinggiran Jakarta.

Suara tonggeret dan desiran angin menemani selama berada di sana. Buah kecapi nampak berjatuhan, pohon sukun, dan entah apalagi kami lewati.

“Ada lebih dari 40 jenis bambu dengan fungsi yang berbeda ada di daerah ini. Tonggeret itu tanda udara bersih..”

Menuruni tangga yang cukup curam, kami serasa mengikuti “out bound” yang sesungguhnya. Selain latihan fisik, kami mendengarkan bagaimana “menyangga bumi” untuk kelangsungan kehidupan.

Upaya menjaga sungai dilakukan dengan berbagai pendekatan. Diawali dengan penghayatan sejarah Kali Pesanggrahan, diharapkan semua pihak yang berkaitan dengan sungai Pesangrahan paham bahwa sungai ini memiliki sejarah panjang dan sangat berkaitan dengan kelangsungan peradaban.

Setelah menyelusuri beberapa empang yang sekaligus berfungsi sebagai penjernihan air sungai, kami diajak mengamati air bersih yang mengalir di sela-sela tanah dan memasukkan bibit ikan mujair nila ke sungai Pesanggrahan yang mengalir bebas.

Doa yang dilantunkan sebelum melakukan “sedekah” pada sungai, juga kami niatkan sebelum menanam pohon sukun yang multi guna dan pisang emas yang saat ini sudah langka. Semua niat dipusatkan pada “mengembalikan yang baik pada alam semesta.”

“Kalau pepohonan hijau, subur, dan ada kali bersih mengalir lalu kita masih miskin, itu salah banget! Namanya salah pengelolaan.”

Kami kemudian berjalan ke tempat pengelolaan sampah. Setiap hari, sekitar 20 truk membawa sampah ke sana dan “diselesaikan” dalam waktu delapan jam. Roi, putera kedua Bang Idin menjelaskan dengan sangat detil mengenai proses sampah yang membuat kami terheran-heran.

Satu hal lain, meski kami berada di antara timbunan sampah, tidak terasa bau menyengat yang biasanya diasosiasikan dengan sampah. Rupanya, karena dalam waktu delapan jam, timbunan itu akan selesai diproses menjadi pupuk atau menjadi uraian plastik yang bisa digunakan kembali.

“Bersama kawan-kawan, kami sedang mengupayakan membuat tempat pembakaran yang bisa dibawa-bawa, sehingga bisa digunakan untuk mengelola sampah di kampung-kampung.”

Di penghujung perjalanan, kami berhenti di gubuk pembuatan bilah. Kembali falsafah kehidupan diangkat dengan sangat jelas dalam rangka memaknai Sumpah Pemuda.

“Pisau dapur perlu diperlakukan dengan hormat. Dapur adalah sumber kehidupan, ibu kita susah payah menyiapkan makanan dari dapur.”

Kemudian Bang Idin menjelaskan begitu banyak pemuda dari berbagai tempat datang untuk mempelajari proses pembuatan bilah dan falsafahnya. Beberapa di antara kami ikut dalam proses menempa besi yang akan dijadikan pisau dapur sebagai simbol kerja sama Komunitas Sangga Buana dan Yayasan Cahaya Guru.

Pada kesempatan yang sama, Mas Budhy Munawar Rachman meletakkan kerangka teori yang membantu kami mencerna paparan Bang Idin. Ya, dimulai dengan pengetahuan dan praktik, diharapkan proses “menjadi” dan “hidup bersama yang lain” akan terjadi dengan harmonis.

Memahami berbagai kearifan lokal yang sangat menekankan kedekatan dengan alam telah mengisi peringatan Sumpah Pemuda kami. Saat pulang, mang Idin mengingatkan kembali, “banyak orang pintar, tapi sedikit yang paham.” Semoga kita tidak pernah lelah berupaya mendapatkan “Ilmu-ilmu paham” itu.

*Henny Supolo

___________________

Artikel Terkait: