Membaca Generasi Bangsa Melalui Lir-Ilir

Membaca Generasi Bangsa Melalui Lir-Ilir
©Lesbumi

Indonesia saat ini dapat dikatakan telah lama tertidur pulas dalam perjalanan hidupnya. Hal ini terlihat dari mandeg-nya Indonesia untuk menciptakan perubahan-perubahan positif pasca-kemerdekaannya sekitar satu abad yang lalu.

Semenjak kemerdekaannya, bangsa Indonesia bisa dibilang belum menemukan seorang pemimpim yang dapat mengembang-majukan bangsa ini. Walaupun pada masa-masa awal Indonesia mampu mencatat nama harumnya di panggung sejarah melalui Soekarno yang masih bisa tercium hingga sekarang, hal itu laksana bayang-bayang masa lalu, layaknya seorang anak yang hanya mengandalkan orang tuanya, tanpa meningkatkan kualitas jati dirinya.

Dalam tulisan ini, mencoba menyelami tembang Lir-Ilir yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga, kira-kira sejak 5 abad yang silam. Melalui tembang tersebut seakan- akan memberikan wejangan pada kita sebagai bangsa Indonesia untuk terus membaca kehidupan kita (Emha Ainun Najib).

Dari segi fisiknya, bangsa Indonesia sudah mulai berhasil menata kehidupan bangsa. Akan tetapi, jika dilihat secara saksama, seakan penataan kehidupan bangsa makin tidak menentu.

Misalnya kehidupan anak-anak dan remaja makin terpuruk, seperti merosotnya moralitas dan mentalitas anak-anak dan remaja yang diakibatkan oleh kemajuan teknologi di era sekarang ini. Oleh sebab ini, patut kiranya tulisan ini hadir guna membaca Indonesia melalui tembang Lir-Ilir.

Tembang Lir-Ilir

Lir-ilir, lir-lir Tandure wissumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir Dondo mono jlumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane
Yo surako……..surak hiyo……………

Sayup-sayup bangun tidur Pohon sudah mulai bersemi
Demikian menghijau bagaikan gairah pengantin baru
Anak Gembala, tolong panjatkan pohon blimbing itu
Walaupun licin tetap panjatlah untuk mencuci pakaian
Pakaian-pakaian yang koyak disisihkan Jahitlah, benahilah untuk mengahadap nanti sore
Mumpung terang rembulannya, Mumpung banyak waktu luang
Mari bersorak-sorak ayo………

Makna Tembang Lir-Ilir

Pada bait pertama, Sunan Kalijaga membuka tembang lagunya dengan “Lir- ilir, Lir-ilir (Bangunlah- Bangunlah)”. Maksud dari tembang tersebut, jika dilihat dari literalnya, beliau mengajak pada kita untuk bangun dari tidur pulasnya, karena kita sudah sejak lama tertidur sehingga tidak sadar apa yang akan terjadi di sekitar kita, juga tidak akan sadar siapa diri kita.

Dengan tidur yang pulas, kita tidak bisa melihat, berpikir, dan bertindak untuk meningkatkan potensi sebenarnya yang ada pada diri kita. Selama ini kita terlena oleh mimpi dalam tidur panjangnya, sehingga tidak tahu apa yang terjadi terhadap dirinya sendiri.

Dari segi kalimat tersebut, beliau mengajak bangsa kita untuk bangkit membangun semangat baru seperti halnya seseorang bangun di pagi hari yang bersiap-siap untuk bekerja.

Dalam bait ini seakan-akan Sunan Kalijaga membaca kebingungan sejarah kita1. Selama berabad-abad lamanya, kemerdekaan Indonesia masih belum bisa dikatakan berhasil menerapkan cita-cita bangsa Indonesia yang telah dirumuskan oleh para pendiri bangsa, seperti keadilan, kesejahteraan, dan lain sebagainya.

Kata “bangun dari tidur” memiliki maksud memulai suatu kegiatan, mengawali hari baru, merencanakan sesuatu, dan menciptakan sesuatu yang lebih baik2.

Bait kedua yaitu “Tandure Wissumilir (Pohon sudah mulai bersemi)“. Dalam bait ini terdapat makna dasar, yaitu kita dituntut sadar akan keadaan di sekitar kita saat ini. Dalam artian, generasi bangsa sudah saatnya bangkit dari keterpurukan, mengingat keadaan lingkungan sudah mulai maju, seperti kemajuan teknologi yang makin pesat, makin banyaknya orang-orang berpendidikan, dan lain sebagainya.

Menurut Emha Ainun Najib, bangsa Indonesia adalah penggalan surga, surga seakan-akan pernah bocor dan mencipratkan kekayaannya, sehingga cipratan kekayaan itu menjelma Indonesia Raya (Emha Ainun Najib). Indonesia memiliki kekayaan yang bisa dimanfaatkan warganya untuk menciptakan kesejahteraan bangsa, tinggal bagaimana kita mengelola kekayaan itu agar bisa bermanfaat dan dinikmati bersama.

Hal ini menunjukkan adanya sebuah usaha untuk menggali potensi diri, guna mencapai cita-cita yang telah lama diimpikan oleh pendiri bangsa ini.

Bait ketiga yaitu “Takijoroyo- royo Tak Senggo Temanten Anyar (Demikian Menghijau Bagaikan Gairah Pengantin Baru)“. Dalam bait ini, ketika keadaan bangsa ini sudah mulai berkembang, sumber daya alam dan sumber daya manusia yang memadai, maka sudah seharusnya lahir kesemangatan baru (baca: Gairah) untuk menciptakan dan merencanakan masa depan bangsanya.

Halaman selanjutnya >>>
    Latest posts by Abdullah Mudhar (see all)