Membaca Puisi Esai Denny JA Bikin Orang Melek Politik

Membaca Puisi Esai Denny JA Bikin Orang Melek Politik
©Puisi Esai

Nalar Politik – Membaca puisi esai, bagi Lili Rosidah, adalah hal yang menyenangkan. Ia menilai gagasan Denny JA ini membuat orang melek politik melalui cara-cara yang lebih elegan.

“Daripada mengikuti berita televisi atau apalagi simpang siur di media sosial, membaca puisi esai justru lebih menyenangkan dan membuat kita melek politik dengan cara yang tidak menyebalkan dan panas telinga (kadang-kadang juga hati dan kepala),” kata Lili Rosidah dalam Nominasi Nobel Sastra Denny JA dan Politik yang Merepotkan.

Ketika membaca heboh nominasi Nobel Sastra Denny JA di penghujung 2021, Lili langsung teringat suasana rumah dan kampus tempatnya mengajar. Ia tidak ingin terlibat dalam pro dan kontra kisah The Swedish Academy, panitia nobel, yang mengundang komunitas puisi esai untuk mencalonkan sastrawan Indonesia, tetapi memilih untuk menceritakan pengalaman pribadinya mengenai puisi esai gagasan Denny JA.

“Itu peristiwa di tahun 2019. Saya mengenal puisi esai yang Denny JA gagas secara tidak sengaja, yaitu ketika anak saya sedang mempertimbangkan ikut atau tidak Lomba Vlog me-review puisi esai buat remaja (SMA/SMP). Di kampus, ternyata mahasiswa saya juga ada yang ikut lomba menulis ulasan puisi esai,” kenang Lili.

Ia pun kemudian tertarik kala membaca puisi esai berjudul “Atas Nama Cinta” karya Denny JA. Karya ini memberinya pengetahuan tentang gambaran situasi Jakarta pada peristiwa Mei 98 yang terangkum dalam puisi esai Sapu Tangan Fang Yin.

Gambaran peristiwa persekusi Ahmadiyah di Cikeusik juga ia peroleh lewat puisi esai Romi dan Yuli dari Cikeusik. Tak terkecuali perkara situasi TKI Indonesia di Saudi Arabia dalam Aminah Tetap Dipancung.

Meski dua puisi esai lainnya, yakni mengenai hubungan cinta sesama jenis dan tentang hubungan asmara beda agama, ia lahap sebagai kisah drama biasa dengan hanya beda konflik, tiga puisi esai berikutnya memberinya pemahaman soal situasi sosial politik dengan mudah, menarik, informatif, dan bersih dari hoaks. Catatan-catatan kaki pada puisi esai, bagi Lili, membuat pembaca yang asyik mengikuti jalan cerita jadi bertambah pengetahuannya lewat informasi dan data.

“Dengan sekejap, buku itu habis terbaca. Bahasanya komunikatif, kisahnya seru, dan datanya cukup lengkap.”

Baca juga:

Berbekal gaya bahasa yang komunikatif dengan kisah-kisah seru dan data-data yang cukup lengkap itulah yang mengantarkan Lili sampai pada kesimpulan bahwa membaca puisi esai ternyata menyenangkan dan membuat pembacanya melek politik.

“Saya ketagihan. Buku puisi esai Kutunggu di Setiap Kamisan lebih enak lagi karena menyertakan gambar, tetap dengan bahasa yang mudah kita pahami, dan data-data dalam catatan kaki. Membaca puisi esai ini kita jadi mendapat gambaran tentang kasus penculikan dan orang hilang di masa Orde Baru. Cukup jelas dan menyenangkan daripada simpang siur berita mengenai hal yang sama yang kita dapatkan selama ini.”

Hal lainnya yang turut Lili dapatkan adalah bahasa fanatisme agama, pertengkaran karena perbedaan tafsir agama, dalam buku puisi esai berjudul Roti untuk Hati, dan makin mendalam serta meluas dalam buku Jiwa yang Berzikir.

“Semua buku puisi esai yang saya sebutkan di muka adalah karya Denny JA; penggagas puisi esai. Konon ada pro dan kontra mengenai puisi esai dan pro-kontra terhadap Denny JA sendiri, tapi saya tidak tertarik dengan pro dan kontra semacam itu.”

Bagi Lili, keributan di dunia politik saja sudah merepotkan. Ia tidak mau menambah kerepotan itu dengan keributan lainnya di dunia sastra.

Gerakan Melek Politik

Lili Rosidah turut mengulas puisi esai dari para penulis selain Denny JA. Kebetulan ada beberapa antologi puisi esai hasil lomba di perpustakaan kampusnya, yang ternyata isinya tidak kalah seru dengan apa yang Denny JA tulis.

“Peri Sandi Huizche menulis puisi esai Mata Luka Sengkon Karta dan menjadi juara satu. Peristiwa itu terjadi ketika saya masih remaja, dan tentu tidak tahu apa-apa. Berkat puisi Peri tersebut, saya jadi tahu dan mendapat gambaran bagaimana peristiwa Sengkon-Karta.”

Terdapat pula puisi esai tentang Gayus Tambunan, sang calo pajak karya Saifur Rahman berjudul Syair 1001 Indonesia. Juga peralihan kekuasaan di masa silam dalam Interregnum Beni Setia. Keduanya berhasil menggali dan menyegarkan ingatan tentang situasi sosial dan politik di Indonesia.

Halaman selanjutnya >>>