Membaca untuk Mengubah: Tafsir Revolusioner Surat Al-Alaq

Membaca untuk Mengubah: Tafsir Revolusioner Surat Al-Alaq
©Shopee

Minat membaca buku di Indonesia terperosok pada angka yang sangat mengenaskan, yakni 60 dari 61 negara. Artinya, aktivitas literasi di Indonesia berada dalam kondisi gawat.

Semua orang barangkali tak menampik bahwa aktivitas literasi mendeterminasi orang dalam memahami sesuatu. Tak mengherankan jika masih banyak orang yang percaya pada berita-berita hoaks. Kondisi ini jelas berbahaya mengingat pandemi Covid-19 masih berkecamuk di Indonesia.

Aktivitas literasi yang buruk tersebut dibarengi dengan ketidakadilan sosial-ekonomi yang merajalela. Hampir dapat dipastikan kita sering menyaksikan perampasan ruang hidup rakyat, aparat polisi yang represif dan brutal dalam menjalankan tugasnya, pelecahan seksual tanpa pandang busana dan umur, serta pejabat negara yang menetapkan kebijakan tanpa mengindahkan kepentingan rakyat.

Dalam kondisi yang katastrofik tersebut, buku Al-Alaq Bacalah! yang ditulis oleh Eko Prasetyo begitu relevan untuk dibaca. Sebagaimana kita tahu, al-Alaq merupakan surat yang pertama kali diturunkan oleh Allah Swt kepada Nabi Muhammad saw via Malaikat Jibril. Surat tersebut dibuka dengan kata yang cukup menghentak: Iqra (bacalah).

Secara lebih luas, arti kata ini tak sekedar membaca, melainkan meneliti, menelaah, dan menghimpun. Kata Iqra dikaitkan dengan bismi Rabbika (dengan nama Tuhanmu). Eko menafsirkan ini sebagai bentuk perintah membaca untuk mensupremasi keunggulan-keunggulan nama Tuhan.

Kata Iqra’ kemudian tampil juga dalam ayat ketiga: Iqra’ wa Robukkal Akram. Ayat ini mengandung makna bahwa membaca pada kali kedua akan memperoleh manfaat yang tak terhingga. Allah Swt menjanjikan para pembaca akan dapat menembus “pengetahuan yang tak diketahui”. Pada titik yang terjauh, bacaan dapat menuntun seseorang untuk menemukan rahmat Allah Swt.

Kekuasaan Allah Swt yang begitu luas tak hanya mewujud ke dalam manusia, melainkan alam semesta. Karena itu, penting bagi manusia untuk membaca, meneliti, dan menyelidiki alam semesta guna memahami hukum-hukum Allah Swt. Melalui ini manusia diharapkan dapat makin beriman kepada Allah Swt, bukan malah menyelewengkan hukum-hukum-Nya sebagaimana yang terjadi sekarang.

Perintah membaca tersebut kemudian dikaitkan dengan ayat-ayat selanjutnya yang menerangakan bahwa bahan dan proses perciptaan manusia begitu indah. Hal ini bertentangan dengan teori evolusi Darwin yang mengimani bahwa karakter asli manusia itu egoistik dan individualistik karena manusia berasal dari primata-primata ratusan tahun lalu yang saling cakar-mencakar untuk mempertahankan hidup.

Dengan demikian, Eko menyebut bahwa karakter egoistik dan individualistik yang kini merajalela di mana-mana bukan dari bahan dasar manusia, melainkan hasil konstruksi struktur sosial bernama kapitalisme.

Kapitalisme yang mengimani kebebasan individu dalam mengejar kepentingan ekonomi telah mengorbankan ruang hidup manusia dan krisis ekologi demi keuntungan-keuntungan ekonomis. Sehingga, Iqra mesti diaktualisasikan sebagai risalah untuk membaca dan kemudian bergerak melawan sistem yang destruktif tersebut demi terwujudnya peradaban yang memanusiakan manusia.

Di sini kita bisa melihat bagaimana Iqra bisa digunakan sebagai alat untuk mentransformasi sejarah. Dari yang tak adil menjadi adil, dari yang tak manusiawi menjadi manusiawi, dari yang penuh penindasan menjadi tak ada penindasan, dan seterusnya.

Hal tersebut dilaksanakan karena beban moral yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Sebagaimana tercermin dalam ayat ke 8: “Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah tempat kembali (mu).”

Semua orang pasti akan mati. Tanpa terkecuali. Orang yang beriman percaya bahwa saat mati manusia akan dipertemukan dengan Tuhan. Tuhan memberikan rahmat bagi orang yang selama hidupnya menjalankan kebenaran. Sebaliknya, Tuhan akan menghukum otrang yang selama hidupnya bertindak zalim. Zalim adalah tindakan menghalang-halangi kebenaran. Dalam konteks ini adalah salat.

Seperti yang terungkap dalam ayat ke 9 dan 10 yang artinya: “Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang. Seorang hamba ketika dia melaksanakan salat.”

Eko menginterpretasikan ayat ini tak sebatas pada salat sebagai ritus simbolik, melainkan sebagai ritus sosial yang wajib dilakukan oleh umat Islam. Dengan kata lain, Eko mencoba untuk menggali makna sosial yang tersebulung dalam salat.

Takbirotul ihram dimaknai sebagai niat yang lurus kepada Allah Swt. Bahwa segala tindakan apa pun harus diawali dengan niat yang lurus karena Allah Swt. Kemudian Ruku’ dimaknai sebagai perintah bahwa manusia hanya boleh tunduk secara absolut kepada Allah Swt. Karena itu, manusia dilarang untuk patuh secara buta kepada manusia lain, sekalipun itu adalah pemimpin. Inilah mengapa Islam menentang pengkultusan.

Melalui ruku’, Allah Swt juga memerintahkan manusia untuk selalu bersikap rendah hati. Sujud menjadi puncak dari sikap rendah hati itu. Selanjutnya adalah berdiri setelah ruku’ dan sebelum sujud yang disebut dengan ‘Itidal. Bagian salat ini melambangkan peringatan bahwa tubuh manusia akan dibangkitkan dan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Terakhir adalah salam tahiyat yang dilakukan dengan menengkok ke kanan dan kiri, yang dimaknai sebagai imperatif moral bagi manusia untuk melihat keadaan sosial yang ada di sekelilingnya.

Selain itu, posisi dan gerakan yang sama dalam salat dan pentingnya dilaksanakan secara berjemaah merupakan perwujudan dari pentingnya gotong royong, persaudaraan tanpa mengenal ras, dan masyarakat yang egaliter. Maka, perintah untuk merapatkan shaf  (barisan) melambangkan upaya untuk tetap merekatkan hal tersebut agar tidak ada goncangan. Dengan tafsiran ini, kita dapat memahami mengapa Allah Swt mencerca orang yang melarang salat.

Pertanyaannya, mengapa masih ada orang yang melarang salat? Kita dapat menelusurinya melalui ayat 11 dan 12 yang artinya: “Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu berada di atas petunjuk (kebenaran). Atau dia mengajak kepada ketakwaan.”

Manusia yang melarang salat adalah manusia yang kehilangan petunjuk. Hidayah dan risalah Allah Swt sulit menghampirinya karena hidupnya tidak dijalankan dengan akal sehat, melainkan dengan nafsu yang serakah dan melampaui batas. Inilah yang dulu dilakukan oleh para penentang ajaran Nabi Muhammad saw.

Baca juga:

Tak berhenti di sini, Allah Swt kembali melukiskan mereka di ayat 13 dan 14 yang artinya: “Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling. Tidakkah ia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah (terus menerus) melihatnya.”

Ayat tersebut menekankan bahwa Allah Swt hadir di mana-mana dan terus-menerus memantau mereka tanpa kenal lelah dan lengah. Namun, mereka tak sadar atau bahkan tak peduli. Oleh karena itu, Allah Swt kemudian mengancam mereka dalam ayat 15 yang artinya: “Ketahuilah, sesungguhnya jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya akan kami tarik ubun-ubunnya.”

Ancaman yang begitu terang dan lugas menjadi isi dalam ayat tersebut. Allah Swt tak segan-segan menyiksa orang yang melarang salat dengan pedih. Ubun-ubun mereka akan ditarik dengan sekencang-kencangnya.

Betapa tidak, salat merupakan ibadah yang mencerminkan kemanusiaan dan keadilan. Sehingga tak bisa dimungkiri melarang salat merupakan perbuatan yang mencerabut prinsip dan melukai hak asasi manusia.

Dalam ayat 16-18, Allah Swt kemudian menjelaskan secara lebih jauh seperti apakah ubun-ubun mereka: “Yaitu ubun-ubun yang mendustakan lagi durhaka. Hendaklah dia memanggil nadiy-nya, Kami akan memangggil Az-Zabaniyah.”

Kedustaan yang dilakukan terus-menerus dan perbuatan durhaka yang pelakunya tahu bahwa itu salah menjadi isi dalam ayat tersebut. Secara historis, ayat ini turun berkenaan dengan nadiy (kelompok yang mirip dengan oligarki) yang melaksanakan perbudakan dan perdagangan culas demi keuntugan ekonomis semata. Mereka gemar melakukan dusta tanpa peduli itu salah demi melanggengkan praktik tersebut.

Bahkan berhala-berhala yang diimpor dari Syiria dimanfaatkan untuk menghegemoni dan menjinakkan masyarakat Mekkah. Nabi kemudian datang. Perbudakan ditentang, perdagangan culas dikecam, dan berhala-berhala dihancurkan. Inilah mengapa Nabi kerap disebut sebagai sosok yang progresif dan revolusioner.

Situasi tersebut barangkali mirip dengan situasi sekarang, di mana agama dikomodifikasi, perbudakan terselubung di mana-mana, perdagangan bebas yang tak adil dilazimkan.

Bila tugas tersebut sudah selesai, ada perintah krusial dalam ayat 19 yang juga menjadi ayat terakhir dalam surat Al-Alaq: “Sekali-kali jangan, jangan engkau ikuti dia dan sujudlah serta dekatkanlah dirimu.” Ayat ini menjadi mengajak untuk mengingat dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Manusia harus tetap rendah hati kepada Tuhannya jika impiannya telah tertuntaskan. Itulah sikap paripurna manusia.

Setelah selesai menginterpretasi surat Al-Alaq, Eko kemudian mengirimkan surat kepada beberapa ‘ulama-‘ulama muslim yang semasa hidupnya telah mengaktualisasikan surat Al-Alaq. Mereka adalah Al-Ghazali, Ibnu Sina, Ibnu Hazm, dan Muhammad Iqbal. Surat tersebut berisi curahan hati Eko atas kondisi ‘ulama-‘ulama sekarang yang jauh dari apa yang pernah mereka lakukan.

Mereka adalah sosok yang terbuka dengan segala macam ilmu pengetahuan, menghargai perbedaan pendapat, menulis karya-karya yang mempunyai peran penting bagi kemajuan umat manusia, mengajarkan cinta kasih, dan bahkan berani menentang kekuasaan yang zalim. Sedangkan ‘ulama-‘ulama sekarang sangat mudah memvonis haram terhadap perbedaan pendapat, diam seribu bahasa saat keadilan dipermainkan, dan bahkan bercumbu dengan kekuasaan yang zalim.

Eko juga mengirimkan surat kepada ustaz-ustaz yang berceramah di media sosial. Surat tersebut berisi nasihat dan kritik atas ceremah mereka yang hanya mengusung persoalan ibadah individual belaka dan gampang sekali menyalahkan atau mengafirkan orang lain. Untuk itu, Eko menyarankan agar mereka berceramah tentang persoalan-persoalan yang terjadi dalam masyarakat serta menyajikan Islam dengan penuh cinta kasih.

Pada akhirnya, saya perlu mengatakan bahwa buku ini menghadirkan interpretasi atas surat Al-Alaq secara lain. Selama di pondok pesantren, saya hanya diajari bahwa surat Al-Alaq berisi perintah untuk membaca, meneliti, dan menyelidiki segala hal agar kita bisa diangkat derajatnya oleh Allah Swt.

Namun, surat Al-Alaq dalam buku ini ditafsirkan tak hanya sebagai perintah membaca, melainkan juga mengubah keadaan sosial. Hubungan ini begitu inheren. Membaca tanpa mengubah adalah masturbasi intelektual. Mengubah tanpa membaca adalah kedunguan. Dengan kata lain, perlunya porsi yang seimbang antara teori dan praktik dalam mewujudkan revolusi sosial.

  • Judul buku: Al-Alaq Bacalah!
  • Penulis: Eko Prasetyo
  • Penerbit: Intrans Publishing dan Social Movement Institute
  • Tahun: 2019
  • Ukuran: 15,5 x 23 cm
  • Jumlah halaman: 194
  • ISBN: 978-602-6293-75-6
    Muhammad Akbar