Membangun Rasa Nasionalisme Melalui Imagined Community

Membangun Rasa Nasionalisme Melalui Imagined Community
©Verso

Teori imagined community ini banyak digunakan dalam kajian-kajian sosiologi dan sejarah.

Nasionalisme merupakan suatu paham kebangsaan atau kesadaran anggota dalam suatu bangsa yang secara aktual dan potensial berusaha bersama-sama untuk mencapai, mempertahankan, mengabdikan identitas, kemakmuran, integritas, dan kekuatan suatu bangsa atau bisa dikatakan semangat kebangsaan. Nasionalisme pada dasarnya untuk membangun persatuan dan merekatkan elemen bangsa dengan mengesampingkan suatu perbedaan primodial, sebagaimana timbulnya paham kebangsaan di Indonesia.

Suatu penjajahan atau kolonialisme rupanya telah melahirkan kesadaran tentang kesamaan nasib, cita-cita, dan perjuangan mengusir penjajah untuk memperoleh kemerdekaan. Semangat kebangsaan ini membentuk ikatan solidaritas dan secara bersama-sama membela serta memakmurkan tanah airnya.

Nation state atau negara bangsa modern merupakan negara yang terbentuk berdasarkan semangat nasionalisme atau semangat kebangsaan. Sedangkan istilah bangsa sendiri terjemahan dari kata nation yang dalam bahasa latin diartikan sesuatu yang lahir.

Secara terminologi politis, bangsa dimaknai sebagai suatu masyarakat yang dipersatukan oleh cita-cita, kehendak, atau tekad yang kuat untuk hidup bersama dan membangun masa depan di bawah naungan negara yang sama, terlepas dari perbedaan latar belakang ras, suku, etnis, dan agama tertentu.

Dalam perspektif Nurcholis Madjid atau yang lebih akrab dipanggil Cak Nur mengenai negara bangsa atau nation state berkaitan erat dengan paham kebangsaan atau nasionalisme. Tentunya mengenai paham kebangsaan atau nasionalisme yang dimaksud bukan dalam arti sempit seperti dalam paham kekabilahan, kesukuan, etno-nasionalisme, apalagi soal chauvinisme seperti naziisme Jerman Hiteler, Fasisme Italia Mussolini, dan militerisme Jepang Samurai.

Chauvinisme sebagai paham kebangsaan yang sempit dan didasarkan pada realisme atau etnosentrisme. Justru hal ini bertentangan dengan paham kebangsaan sejati, yang mencakup dan mengakui kesamaan hak bagi semua warga negara tanpa ada diskriminasi.

Sepakat dengan Robert N. Bellah, Cak Nur meyakini bahwa nasionalisme modern merupakan sistem masyarakat Madinah pada masa Nabi Muhammad Saw dan para khalifah yang menjadi penggantinya. Bellah sendiri menegaskan bahwa sistem yang dibangun Nabi itu kemudian diteruskan oleh para khalifah. Bellah mengatakan a better model for modern national community building than might be imagined (suatu contoh bangunan komunitas nasional modern yang lebih baik daripada sekadar dibayangkan).

Benedict Anderson dilahirkan di Kunming Yunnan China pada 1936. Ia meninggal di Batu, Malang pada 12 Desember 2015 pada usia 79 tahun. Ia mendapatkan pendidikan di Cambridge dan Cornell serta menjadi professor di Cornell juga. Dari sinilah kemudian ia mendalami tentang Indonesia. Ia adalah seorang sejarawan yang konsen pada sastra dan pergerakan kaum awal kemerdekaan.

Kita bisa lihat tentang tesis Anderson mengenai bagaimana nasionalisme Indonesia itu dimulai. Menurut kesimpulan Anderson, nasionalisme itu merupakan sebuah produk peralihan masyarakat baru Indonesia yang punya kesadaran akan media massa. Masyarakat yang melek huruf atau yang biasanya disebut sebagai masyarakat inteligensia inilah yang menanamkan nasionalisme (Anderson 1991).

Argumen yang dibangunnya ini tidak hanya didasarkan di Indonesia, akan tetapi juga didasarkan di Eropa. Hal ini bisa dibuktikan dari pernyataan Anderson. Menurutnya, penyatuan baru antara kapitalisme dan media cetak telah menciptakan rasa nasionalisme lewat bahasa baru. Yang dimaksud bahasa baru yaitu bahasa media.

Anderson mengatakan paling tidak ada tiga hal yang menandakan adanya relasi media dan nasionalisme, yaitu:

  1. Media cetak telah mampu menciptakan komunikasi baru di Eropa. Tidak hanya bahasa latin yang menjadi penyatu, tetapi bahasa daerah masing-masing yang berlaku (Vernacular).
  2. Bahasa baru rupanya telah mendorong mereka untuk membayangkan “imagined community” tentang bangsa baru.
  3. Kapitalisme dan media cetak mendorong ke arah kekuasaan baru, dengan administrasi baru dan bahasa baru (Anderson 1991, 47-48).

Teori imagined community ini banyak digunakan dalam kajian-kajian sosiologi dan sejarah. Yaitu berupa konsep tentang bayangan kolektif suatu masyarakat ideal, yang kemudian diangankan oleh mereka yang masih dalam keadaan sulit dan kritis. Maka konsep inilah yang melatarbelakangi lahirnya suatu bangsa. Bangsa merupakan suatu cita-cita atau angan-angan atau bayangan terhadap masa depan yang bersifat kolektif.

Peran inteligensia Indonesia pada awal kemerdekaan yaitu membangun imagined community. Buku Imagined Community ini dilanjutkan oleh buku tentang kekuasaan dan bahasa yang ditulis oleh Anderson, yang menceritakan budaya Jawa, Indonesia, Nasionalisme dan agama berinteraksi (Anderson 1990).

Menurut Anderson seperti model post-modernisme yang menembus sejarah dan periodesasi, dari masa kolonial, Orde Lama, Orde Baru, dan memberikan teori tentang kekuasaan. Bagaimana kekuasaan itu dipersepsikan dalam politik di Indonesia, dengan banyak merujuk pada literatur dan tradisi Jawa (wayang, serat, dan buku-buku populer).

Buku ini agak sulit diikuti karena tidak mengikuti alur yang runtut dan biasa, namun sangat menantang karena terasa loncatan dari waktu, tempat, periode dan konsep (dari masa kolonial sampai masa kemerdekaan). Misalnya membahas persoalan kekuasaan yang di tanah Jawa, Anderson bicara soal keraton dan penghulu, politisi dan kiai, wayang dan budaya populer, dan bagaimana itu berinteraksi, berubah, bertransformasi, dan bagaimana dengan hasilnya.

Menurut Anderson, budaya Jawa berinteraksi dan bertahan selama beberapa kurun waktu, terutama konsepnya tentang kekuasaan. Selama masa kolonial berinteraksi dan menghasilkan elitenya sendiri. Pada waktu kemerdekaan juga bertransformasi membentuk konsep elite dan kekuasaan. Akan tetapi, budaya ini tetap ada dan terus beroperasi secara terus-menerus dalam mempertahankan konsepnya yang lama dengan memodifikasi.

Buku ini meng-cover ironi tentang bagaimana seorang pemimpin dan kekuasaan itu membangun nasionalisme. Misalnya, Anderson menyinggung bahwa para pemimpin Indonesia masa kemerdekaan itu lebih dekat dengan tradisi Belanda, karena mereka dididik cara Belanda, dan tinggal di negeri itu dalam kurun waktu yang cukup lama.

Maka dari itu mereka merasa lebih gampang atau mudah jika berbicara dengan orang Belanda daripada dengan para rekannya di tanah airnya sendiri. Dari berbagai kasus yang ada, para pemimpin nasionalisme Indonesia rupanya membuat lingkaran kecil sendiri dan terdiri dari mereka yang masih mempertahankan bahasa Belanda (Anderson 1990, 137).

Benedict Anderson, karena bukunya Imagined Community, sangat dihormati oleh para kolega dan murid-muridnya yang menyebar di berbagai universitas di Amerika, Australia, ataupun di Indonesia. Kecintaanya pada Indonesia tak diragukan lagi dan disaksikan oleh para kolega dan muridnya.

Ketika masa Orde Baru, Anderson dicekal dan tidak bisa masuk wilayah Indonesia, perhatiannya meluas ke Asia Tenggara. Dengan kesempatan penelitian di berbagai negara, Anderson menempatkan Indonesia pada konteks regional. Namun saat tumbangnya rezim Soeharto pada 1998, Anderson bisa kembali mengunjungi tanah air Indonesia yang ia pelajari dan cintai.

Referensi
  • Anderson, Benedict. Imagined Communities: Komunitas-Komunitas Terbayang. Yogyakarta: INSIST. 2008.
  • Makin, Al. Antara Barat Dan Timur: Batasan, Dominasi,Relasi, Dan Globalisasi. Yogyakarta: SUKA-Press. 2017.
  • Nafis, Muhamad Wahyuni. Cak Nur, Sang Guru Bangsa. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara. 2014.
    Ferry Fitrianto