Membebaskan Kemesraan Manusia

Membebaskan Kemesraan Manusia
©Hipwee

Moral dan nafsu telah berjanji dalam kegiatan kebebasan. Hasilnya, kemesraan yang mendamaikan.

Manusia adalah zoon politicon. Artinya, pada dasarnya manusia adalah makhluk yang ingin selalu bergaul dan berkumpul dengan manusia, jadi makhluk yang bermasyarakat. Dari sifat suka bergaul dan bermasyarakat itulah mengapa manusia dikenal sebagai makhluk sosial—menurut Aristoteles. Selain itu juga, manusia adalah makhluk yang mempunyai struktur tubuh yang paling lengkap di muka bumi ini.

Kemesraan manusia yang terlihat dari suka bergaul dan bermasyarakat membuat interaksi sosial berjalan dengan baik. Segala bentuk sentimen dan kecurigaan menjadi objek pikiran akan menjadi lahan keilmuan yang seharusnya digali dalam-dalam. Bukan malah membuatnya membusuk dalam pikiran, sampai-sampai ia menjadi masalah yang disebabkan ketidaksanggupan mengeluarkannya.

Selain itu, manusia juga mempunyai perasaan dan pikiran yang tajam menyoal pembahasan kegiatan sosial. Soalnya, sifat suka bergaul itu membuat manusia mampu menciptakan keharmonisan dalam sosial.

Kemudian, manusia lebih cenderung menggunakan perasaan dalam menilai kegiatan sosial yang berkemungkinan akan kontroversi. Sehingga kegiatan-kegiatan yang perlu pikiran kritis dan bukan sentimen malah tidak direspons.

Itu akan menjadi masalah yang berkepanjangan. Sebab ketidakjujuran dalam berpikir menjadi budaya.

Kemanusiaan

Sedangkan kemanusiaan, menurut hemat penulis, adalah proses menjalankan semua struktur kemesraan organisme tubuh dengan dasar perasaan dan pikiran yang logis. Tidak ada batasan penilaian atau intervensi di luarnya. Sebab kemanusiaan mencakup keseluruhan interaksi sosial manusia dan tidak ada kepentingan si kaya dan si miskin. Selama itu menggunakan dasar hak-hak manusia, maka selama itu juga ketimpangan tidak punya dasar untuk hadir di wilayah sosial.

Dalam kemanusiaan, hak asasi manusia harus dilindungi, seperti hak bersuara atau kritikan dan hak hidup dengan berbahagia tanpa adanya penindasan dalam wilayah sosial. Hak bersuara atau kritikan, misalnya, diarahkan ke pemerintahan yang mengobral janji tanpa bukti, Sebaiknya diartikan sebagai kecerdasan publik, bukan sebagai pencemaran nama baik pemerintah. Kecerdasan masyarakat dibuktikan dalam perhatiannya terhadap pemerintahnya.

Sementara hak hidup bisa diartikan bagaimana manusia tersebut memilih cara hidupnya tanpa intervensi yang kelewatan dari lingkungan, apalagi negara. Kehidupan pribadi seseorang bukanlah sebuah kegiatan yang harus dihalangi oleh negara. Apalagi sampai masuk di wilayah seksualitas dan mengarahkan seksualitasnya.

Moral dan etika negara terhadap kehidupan rakyatnya tidak seintim itu. Sebab manusia punya pikiran dan perasaan yang tidak boleh direnggut oleh negara, apalagi sampai membatasinya.

Manusiawi

Manusiawi adalah kesalahan dan kebenaran yang dilakukan oleh organisme tubuh kita yang dinilai lingkungan dan negara. Di sini, negara muncul tidak untuk membatasi masyarakat, apalagi memenjarakan pikiran. Membebaskan pikiran masyarakat adalah jalan yang harus ditempuh oleh negara sebagai tanda hormat terhadap masyarakat.

Jikalau negara berkeinginan membatasi keinginan dan pikiran seperti saat ini, berarti pemerintah di negara kita berkeinginan atau menyamakan masyarakatnya seperti sapi, kambing, ayam, kuda, dan lain-lain. Hanya makhluk-makhluk peliharaan yang tidak bisa berpikir harus diperlakukan seperti itu.

Agaknya menjadi hewan liar lebih bijaksana untuk merespons sikap pemerintah kita saat ini, menerkam jika di tindas. Ini adalah pilihan yang wajib.

Melihat respons dan perlakuan pemerintah dalam menertibkan masyarakatnya, menggambarkan sisi kemanusiaannya mulai pudar. Pertanyaan yang mungkin cocok untuk pemerintah di negara kita, yaitu apakah ciri khas manusia “berpikir” sudah tidak berfungsi?

Mari kita pikir bersama-sama, wahai manusia yang punya perasan dan pikiran dalam menilai perkatan dan kegiatan pemerintah. Mungkin saja itu akan merugikan kita, namun kita tidak sadar akan hal itu.

Moral dan Nafsu Akan Mendamaikan

Moral dan nafsu dalam diri manusia tidak akan pernah hilang sampai ia mati. Sebab kemanusiaan adalah moral dan nafsu yang sifatnya manusiawi. Sepasang kata ini akan terus beriringan dalam balutan kemesraan yang dialektis. Keduanya akan berjalan terus dalam setiap aliran interaksi sosial manusia di bumi ini.

Di sini, pemerintah dibolehkan merespons bukan memenjarakan yang membuat segala organisme tubuh mandek. Jangan sampai pikiran kita seperti kegiatan makan malam gagal para koruptor sebab tertangkap KPK. Seperti kabar yang baru saja terekspos di media, Imam Nahrawi selaku Menteri Pemuda dan Olahraga menjadi tersangka terkait kasus suap dana hibah KONI dari Kemenpora. Seketika itu juga warganet seraya berucap, “Alhamdulillah, KPK masih bertugas.”

Hal seperti ini yang harus direspons masyarakat dan pemerintah. Ini adalah wilayah yang memerlukan argumen yang kritis.

Sebagai warga negara yang baik, dalam melihat perilaku di atas yang mungkin sudah biasa di Indonesia ini, kita harus melakukannya dengan memberikan sebuah argumen dan pertanyaan, bukan malah mendoakan semoga para pelaku dimaafkan oleh masyarakat dan tuhannya. Sebab urusan maaf-memaafkan bukan sebuah moral yang kritis.

Moral kritis adalah mengikuti nafsu yang marah “berpikir kritis” terhadap perilaku kesewenangan dari pemerintah yang melakukan pembatasan terhadap keinginan dan kreativitas pikiran masyarakatnya. Itulah sebabnya moral dan nafsu akan mendamaikan jika digunakan dengan benar oleh masyarakat dan pemerintah.

    Iqbal Maulana

    Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
    Iqbal Maulana

    Latest posts by Iqbal Maulana (see all)