Membela Kebebasan; Apa, Mengapa, dan untuk Apa

Membela Kebebasan; Apa, Mengapa, dan untuk Apa
©Chiacchieredavenere

Entah bermula dari dan sejak kapan, yang jelas, membela kebebasan sudah dari lahirnya diperkenalkan sebagai hak tiap-tiap individu atau manusia. Bahkan bisa kita klaim, kebebasan adalah hak paling mendasar yang harus manusia miliki dalam hidup dan kehidupannya.

Adalah benar bahwa teramat banyak alasan mengapa kebebasan harus kita bela. Di samping sebagai hak, kebebasan pun tak lebih sebagai suatu kewajiban, dalam arti aktualisasi diri. Untuk hidup dan bagi kehidupan, misalnya, kebebasan jauh memberi arti daripadanya.

Bayangkan saja jika kita tak punya kebebasan sebagai manusia, apa bedanya kita dengan domba-dombanya para penggembala? Saya kira tak ada di antara kita yang menghendaki jadi domba, yang hanya tahu patuh dan tunduk pada aktualisasi diri orang lain.

Mengerti posisi kebebasan di atas, tak salah ketika banyak orang berusaha memperjuangkan, merebut, mempertahankan, serta mengembangkan kebebasannya masing-masing.

Lihatlah Soekarno, Hatta, dan para pendiri bangsa yang lain. Mereka telah berjuang dan merebut kebebasan bangsa dari tangan para penjajah. Dan dengan lantang, mereka proklamirkan kebebasan itu ke antero dunia.

Terlepas bahwa para pendiri bangsa kita sendiri tak kuasa mempertahankannya, bahkan justru kembali meruntuhkan kebebasan yang telah mereka rebut dengan perjuangan, tugas kitalah yang hari ini ada untuk merebutnya kembali.

Kebebasan harus kita bela dan pertahankan, dan, jika perlu, kita kembangkan. Kita harus membela kebebasan. Karena memang demikian, tanpa kebebasan, sama artinya bahwa manusia hanya hidup untuk kematian.

Kebebasan Individu

Ya, manusia hidup tidak sekadar hidup, sebagaimana Buya Hamka pernah menyembulkan kata-kata ini. Manusia tak sama seperti kera. Manusia punya kebebasan yang wajib untuk ia bela. Namun, pertanyaannya adalah, kebebasan seperti apa yang harus manusia bela?

Dalam konteks manusia atau individu sebagai warga negara, tentu kebebasan yang saya maksud adalah hak-hak sebagai warga negara. Secara garis besar, hak-hak ini mencakup hak sipil dan politik, serta hak ekonomi, sosial, dan budaya, yang pada dasarnya harus negara jamin dan lindungi sebagai sang pengabdi.

Baca juga:

Sebagai negara demokrasi, Indonesia tentu sudah mengatur dan mengamanatkan hak-hak tersebut dalam konstitusi dan UUD 1945. Dan, secara konsep, kesemuanya telah tersirat dalam pedoman bernegara kita sendiri, yakni Pancasila.

Sila pertama, yakni Ketuhanan yang Maha Esa, mengandung arti bahwa manusia punya hak atas kebebasan berpikir, berkesadaran, dan beragama. Manusia tidak boleh dikekang, diarahkan, dan diatur, bahkan untuk beragama atau tidak beragama sekalipun. Dan, jangankan negara, agama saja tak mengatur hal-hal transendensi semacam ini.

Begitu pun hak atas persamaan di depan hukum (equality before the law). Hak yang termaktub dalam sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab ini jelas menghendaki bahwa hukum tak boleh diskriminatif.

Di saat kondisi apa dan bagaimana pun, hukum tetap harus tegak. Dan hanya pada kebenaranlah hukum itu boleh berpihak. Lebih dari itu, prinsip hukum mutlak dan harga mati.

Hak untuk berkumpul, berserikat, dan bermusyawarah secara damai juga tersirat dalam sila Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.

Prinsip persatuan ini tentu sangat logis mengingat fakta bahwa keberadaan Bangsa Indonesia tiada lain untuk bersatu dalam perbedaan (bhinneka tunggal ika). Di samping itu, prinsip musyawarah menjadi sarana yang sangat tepat. Bertukar pikir secara damai dan proporsional, tentu mengindikasikan suatu bangsa yang beradab.

Dan pada sila terakhir, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, memuat hak-hak seperti hak atas pekerjaan, hak untuk mendapatkan tingkat hidup yang layak, dan hak untuk memperoleh pendidikan. Bisa kita katakan, prinsip inilah yang menjadi tumpuan dari keseluruhan prinsip-prinsip kebebasan sebelumnya.

Halaman selanjutnya >>>
Maman Suratman
Latest posts by Maman Suratman (see all)