Membongkar Jati Diri Mahasiswa dan Pembangunan Daerah Indonesia

Membongkar Jati Diri Mahasiswa dan Pembangunan Daerah Indonesia
Ilustrasi: i2.wp.com

Saat menengok kembali catatan-catatan sejarah Indonesia, dasar perubahan bangsa hampir selalu dilakukan oleh mahasiswa. Mahasiswa terbukti mampu menjadi barisan terdepan, menjadi pelopor utama dalam sejarah bangsa, khususnya dalam pembangunan daerah.

Melihat kondisi bangsa yang tidak ideal, kesangsian tentang peran fungsi mahasiswa sebagai agen perubahan di garda depan patut dipertanyakan. Banyak pemuda yang lebih memilih menikmati kondisi tersandera dengan isu-isu elite yang dihanyutkan oleh media massa nasional.

Kini, kelompok pemuda yang oleh Soekarno sebut sebagai intelektual revolusioner, terjebak pada romantisme masa lalu, layaknya anak baru gede yang gagal move-on karena ditinggal kekasihnya. Demoralisasi mahasiswa semakin menjadi-jadi. Ia sering kali salah kaprah karena hanya fokus pada peningkatan potensi diri sendiri tanpa peduli dengan persoalan masyarakat, lingkungan, dan negeri.

Kecenderungan di atas dapat ditelaah dari fakta yang mencatat eksklusivitas dan egoisme yang tinggi pada diri mahasiswa dan begitu dominan. Perubahan begitu cepat dan dinamis.

Bagi yang tidak mampu mengikutinya, mereka mungkin akan jauh terbelakang. Jika sejajar dan seimbang dengan perubahan, mereka akan terkapah-kapah mengekor perubahan. Sebab menghadapi sebuah perubahan, utamanya zaman dan persoalannya, membutuhkan insting dan keterampilan yang lebih maju dari perubahan itu sendiri.

Sebagai agen perubahan, tentunya mahasiswa perlu mengenal apa yang sedang berubah saat ini dan yang akan datang. Berbicara perubahan di bangsa Indonesia, pandangan Max Lane dalam buku Unfinished Nation dapat memberikan gambaran perubahan yang dilalui oleh para mahasiswa dan lainnya.

Soeharto tidak sekadar jatuh dari kekuasaan—dia didorong jatuh. Gerakan yang mendorongnya jatuh dari kekuasaan berkembang sebagai hasil dari upaya yang sengit (sulit) dan sadar untuk membangun gerakan politik yang benar-benar bisa menjatuhkan sang diktator, dan karenanya, dalam tindakannya berbasiskan pada mobilisasi massa rakyat.

Menurut Max Lane, aktor utama yang melakukan pendidikan politik, radikalisasi, dan mobilisasi adalah kalangan kaum miskin, buruh, tani, dan mahasiswa.

Inisiator Perubahan

Masa depan negeri ini membutuhkan keterlibatan mahasiswa dalam berbagai hal dengan pemikiran-pemikiran cerdasnya dan kegiatan-kegiatan intelektual yang dilakukan. Tentunya mereka yang siap menghadapi dan memenuhi harapan dan tuntutan masa kini yang modern, dinamis, cepat, tepat, akurat, transparan, akuntabel, dan informatif.

Mampu belajar memperbaiki yang salah dari masa lalu, berarti mampu menangkap dan memberdayakan potensi-potensi yang ada, menjadikan tantangan dan kelemahan menjadi suatu peluang karena sejatinya mahasiswa adalah inisiator perubahan.

Mengutip dari apa yang telah dipaparkan kang Eko Prasetyo di Indoprogress dalam menceritakan semangat dua mahasiswa yang memproklamirkan negeri ini, yakni Ir. Soekarno dan wakilnya Drs. Moh. Hatta. Mahasiswa Teknik dan ekonom, dengan keterampilan orator dan administator.

Bahkan, mereka berdua juga ditemani dengan banyak mahasiswa yang cakap dan punya banyak mimpi. Sjahrir, meski tak tuntas kuliah, tapi pengetahuannya kaya; Amir Sjarifuddin pintar dan berani; Moh. Natsir saleh dan sederhana; Haji Agus Salim berwibawa dan santun; Tan Malaka nekat dan petualang. Sederet nama lain bisa dijejer untuk memberi bukti kalau bangsa ini didirikan oleh anak-anak muda yang usianya masih mahasiswa.

Tampang mereka tak jauh dengan kebanyakan mahasiswa semester awal: lucu, nekat, dan punya pikiran besar. Seperti benih, pikiran mereka dirawat melalui tiga dunia: dunia pergerakan, pendidikan, dan pergaulan.

Pergerakan mengajarkan arti pengorbanan, pendidikan menanam budaya pengetahuan, dan pergaulan mencipta solidaritas. Tiga-tiganya menempa jiwa, membentuk pengalaman, dan meneguhkan tekad.

Mahasiswalah yang harus mampu tampil sebagai inisiator perubahan yang melepas belenggu, apatis, keegoisan, dan kedigdayaan elite global yang hanya mengantar pada pembodohan semata. Tentunya tidak boleh berhenti sampai kapan pun. Tidak hanya dengan bergerak bersama-sama untuk berdemonstrasi dan berorasi di jalan-jalan.

Akan tetapi, cobalah untuk bertindak bijak dengan intelektualisme, idealisme, dan keberanian untuk bisa senantiasa menanamkan ruh perubahan agar bisa memberi kebaikan dan peran besar serta bertanggung jawab dalam kemajuan bangsa dan Negara Indonesia, sehingga dapat selaras dengan yang diucapkan Hasan Al-Banna: “goreskanlah catatan membanggakan bagi umat manusia”.

Mahasiswa dan Pembangunan Daerah

Sebagai bagian dari masyarakat, mahasiswa mempunyai peran strategis dalam pemerataan pembangunan daerah dan pemberdayaan masyarakat lokal. Tentunya dengan menyadari akan tanggungjawabnya sebagai duta masyarakat dalam hal transformasi pola pikir kepada daerahnya, khususnya organisasi mahasiswa kedaerahan secara institusional sebagai wadah mahasiswa dalam hal memfasilitasi peran mereka tersebut.

Organisasi mahasiswa merupakan wahana dan sarana pengembangan diri ke arah perluasan wawasan dan peningkatan kecendekiawanan serta integritas kepribadian untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan profesional, sehingga mampu menerapkan, mengembangkan, dan menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesenian, serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional.

Sebagai Agent of Community Empowerment, wajar jika ia mesti terlibat dalam pemecahan masalah pembangunan daerah dan nasional untuk kesejahteraan masyarakat. Mahasiswa mesti memiliki pengalaman empirik untuk mengelola pemecahan masalah pembangunan daerah dan nasional guna kesejahteraan masyarakat. Mahasiswa juga merupakan aset bangsa sehingga dituntut untuk aspiratif, akomodatif, responsif, dan reaktif menjadi problem solver terhadap permasalahan pembangunan.

_____________________
Artikel Terkait: