Membudayakan Cinta Buku Melalui Film

Cinta Buku Melalui Film
©Jamur Lensa

Film pendek “Ada Cinta di Perpustakaan” besutan sutradara muda Patrick Bryan dirilis 15 September 2019 melalui channel Jamur Lensa. Ia berhasil menarik ribuan pemirsa hanya dalam kurun waktu 3 hari.

Film ini mengambil latar salah satu pulau dalam gugus Kepulauan Kei di Maluku Tenggara. Karya ini mampu mengangkat isu pentingnya membaca untuk kalangan anak muda.

Sinema ini memperkenalkan Dioka Jaflean sebagai Dio, Irene Lesomar sebagai Rani, dan Aldo Lasol sebagai Angga. Penampilan mereka berhasil menghidupkan jalan cerita dengan kekhasan karakter lokal yang kuat.

Dikisahkan, cinta remaja Angga dan Rani yang sama-sama menyukai buku ini terhambat dengan ulah Dio yang cemburu dan menyukai kekerasan. Menariknya adalah adanya perubahan pada pribadi Dio setelah menyadari kesalahan bersikap.

Akhir cerita diwarnai haru biru ketika Angga dan Rani menguatkan hubungan mereka dalam kejujuran rasa dengan latar pantai dan suara debur ombak.

Pengetahuan dan dedikasi pada dunia literasi dari pengolah film ini dibuktikan dengan pemilihan buku Hamka sebagai buku yang dipilih Angga ketika singgah di perpustakaan daerah. Hamka dikenal sebagai salah satu tokoh filsafat, ulama, dan ahli politik yang memberikan perhatian besar pada dunia pendidikan, khususnya pengembangan bahasa.

Dan kutipan Khalil Gibran, “Cinta adalah musim semi yang sial dari perasaan jiwa; dan jika perasaan itu tercipta sesaat, ia tidak akan bertahan lama sampai bertahun-tahun bahkan sampai beberapa generasi,” berhasil menyajikan tantangan dalam hubungan cinta remaja antara Angga dan Rani dalam simbol bernilai sastra.

Sebuah catatan diperebutkan kelompok Dio dan Angga juga mengingatkan pada tren metafora monyet akhir-akhir ini. Namun di sini diartikan secara positif.

“Kalau manusia bergantung pada lengan dan bahu-bahu orang tuanya, maka dia belum cukup dewasa. Tapi kalau monyet bergelantungan pada ranting-ranting pohon, itu karena ia sudah dewasa.”

Sikap kritis juga ditampilkan Angga ketika menjelaskan alasannya tidak menghindari perkelahian yang melibatkan dirinya. “Lari? Aku pikir tidak. Bahkan kemerdekaan pun harus dibayar dengan perlawanan.”

Pengolahan aransemen lagu dan musik merupakan nilai tambah yang membuat sisi musikalitas film ini menjadi unggul. Dialog-dialog dan pengambilan gambar di alam bebas, seperti pantai dan hutan kota, memberikan suasana yang tidak kaku dan menjadikan larut emosi pemirsa.

Sebagai debut awal film pendek, tentu saja mempunyai beberapa kekurangan. Antara lain dialek lokal melekat kuat sehingga dialog terdengar kaku, dan tata bahasa yang seharusnya disempurnakan lagi. Namun hal-hal tersebut dapat juga dianggap sebagai karakter lokal yang khas.

Kesimpulannya, secara keseluruhan, film Ada Cinta di Perpustakaan merupakan film yang menarik. Didukung warna khas lokal dan jalan cerita yang tidak membosankan. Paduan musik, lagu, referensi pengetahuan, dan latar alamnya menjadikan jalan cerita makin hidup.

Film ini dapat digunakan sebagai ikon membaca untuk mengetuk anak-anak muda agar mencintai buku dan dapat mencicipi berbagai manfaat dari pengetahuan yang terdapat di dalam buku.

Riwayat film:
  • Judul: Ada Cinta di Perpustakaan
  • Sutradara: Patrick Bryan
  • Genre: Animasi, Remaja
  • Durasi: 23 menit 26 detik
  • Main Cast: Dioka Jaflean, Irene Lesomar, Aldo Lasol
  • Tanggal Rilis: 15 September 2019
  • Channel: Jamur Lensa

    Patricia Pawestri

    Karyawan | Penikmat Sastra | Penulis Buku "Metafora Goodnick Griffin"