Membunuh Kehilangan

Membunuh Kehilangan
©Liputan6

Dalam ketenangan dan demam rindu, diriku melangkah
Setiap persinggahan mengembara yang tertatih,
Jiwa tersentak melukai batin yang di ambang pilu
Tatapanmu membumbui cita rasa yang ingin di kecup
Kerelaan dan pelepasan akan kuarungi
Dalam benua rindu, cinta tercipta dan tak terasa kita bersama
Keegoisan merajalela di benak dan jarum rindu terus terasah
Takkan kubiarkan genggamanmu membekas pada jemari palsu.

Ini sekadar catatan perenungan harian sederhana yang dibagikan untuk kita yang tak menginginkan perpisahan. Saya menyadari bahwa setiap hubungan asrama yang kita jalani, tidak selalu sejalan untuk menghindari konflik yang melangkah fatal.

Tentunya ada persamaan dan perbedaan. Akan tetapi, untuk sesuatu yang terlihat baik, namun tidak diakui kebenarannya oleh pasangan masing-masing. Komunikasi menjembatani setiap etikad baik untuk tetap utuh menjadi satu kesatuan.

Kami bertemu di salah satu tempat tanpa sengaja. Kebetulan, tempat itu adalah tempat nongki-nongki santai saat hari hampir malam.

Sepengamatan saya: jikalau berada di sana, jiwa kita akan lebih tenang akan suasana damai di tempat itu. Banyak yang pergi ke sana dan tujuannya sama seperti saya yang mencari ketenangan pada alam. Suasana menjadi tak terkendali. Tetiba saja tertuju pada “dia” yang kelihatannya berada pada penantian akan sesuatu.

Penasaran akan penantian, saya mengunjungi laman Instagram setiba di kediaman. Hasil yang tidak nihil ternyata. Ini satu langkah awal yang baik untuk berkenalan dengan pemilik paras tadi. Yang tidak angkuh dan hati damai, kami semakin akrab dan setiap tahapan yang terhitung, kira-kira 6 bulanan saya menemani di waktu senggangnya.

Kedekatan emosional semakin terjalin dan saya sendiri telah siap secara lahiria dan batinia untuk berani jujur padanya. Kejujuran itu membuat dia sedikit berpikir keras selama 2 hari untuk menyiapkan jawaban. Selama dua hari itu, saya menulisnya dalam puisi dan tak ada habisnya. Hasilnya positif. Ini langkah awal untuk melihat dunia bersama-sama.

Tidak terasa, pengenalan itu telah terjadi selama 2 tahun yang lalu. Jatuh bangun yang kami alami cukup beragam dan kadang tak ada jalan keluarnya. Yang beragam itulah yang membuat kami semakin pandai meihat celah-celah yang mudah diterobos. Sesering hal aneh terjadi hingga persaingan untuk merebut sosok itu saya dilanda virus hingga cemburu merana.

Baca juga:

Percakapan dengan Yang Kuasa selalu terjadi. Menyalahkan diri sendiri selalu juga terjadi.

Ini tidak seharusnya terjadi. Dia bukan hasil rebutan atau rampasan. Kami bertemu karena ada hasrat dan sudah jalan kerinduan kami untuk dipersatukan. Tidak adil kalau yang lain mengambilnya dari genggaman.

Pada suatu saat kami bersama orang-orang banyak, tatapan yang melirik seakan-akan mencuri sesuatu darinya di tongkrongan. Ini bukan salahnya karena parasnya yang cantik, tapi karena aurat positifnya yang mengundang.

Saya sungguh jatuh cinta padanya.

Tidak akan ada kata kehilangan jika kita berterus terang pada Tuhan.

Yovinianus Olin
Latest posts by Yovinianus Olin (see all)