Memburu Kebenaran Teologis

Memburu Kebenaran Teologis
Sampul buku "Daughter of God"

Max memberikan sebuah rahasia kuno pada Zoe. Sebuah kebenaran teologis. Pengetahuan yang mampu mengubah seluruh arah perjalanan hidup umat manusia.

Pada saat ada kegiatan di Surabaya kemarin, tepatnya tanggal 30-31 Maret 2018, saya sempatkan untuk belanja buku di perpustakaan C2O (Library Cinematheque Cafe). Perpustakaan itu berada di Jalan Dr. Cipto Surabaya. Barangkali teman-teman tertarik belanja buku di sana.

Salah satu buku yang saya beli itu berjudul Daughter of God karya Lewis Perdue. Buku ini adalah buku fiksi (novel) yang ditulis berdasarkan fakta. Pengalaman pribadinya ketika berusaha melacak keberadaan benda-benda seni yang hilang, ia suguhkan sebagai salah satu bukti.

Cerita ini bermula ketika Zoe Ridgeway, biasa dipanggil Zoe, seorang broker seni terkemuka, pergi ke Swiss bersama suaminya, Seth, untuk menemui seorang kolektor benda seni. Kolektor seni yang menjelang ajal itu ingin agar Zoe mengurus benda-benda seninya.

Ketika Zoe sampai di rumahnya, ia langsung bisa mencium dan merasakannya begitu melewati ambang pintu mansion, rumah besar, bergaya Swiss itu. Ia mencoba memastikan apakah ia tidak sedang berkhayal. Deretan lukisan Rembrandt yang digantung begitu sederhana di lorong masuk, juga tak mampu mengubah keyakinannya bahwa kematian memang bersemayam di rumah ini.

Kekaguman sedang menyelimuti Zoe di saat melewati lorong-lorong menuju ruangan pemilik rumah, Willi Max. Di sana ia melihat lukisan-lukisan para maestro yang bergantungan layaknya pajangan biasa di ruang menggambar.

Di dinding, di atas sebuah harpsichord bersepuh emas, ia mendapati karya Tintoretto yang sudah hilang sejak tahun pertama Perang Dunia II. Di sebelahnya ada Chagall yang diduga hangus terbakar semasa kampanye Nazi melawan dekadensi seni.

Max ingin Zoe mengurus semua benda-benda seninya. Karena kebanyakan benda-benda ini merupakan hasil curian, maka dia ingin barang-barang ini dikembalikan ke pemilik aslinya atau keturunan mereka.

“Kalau tak sanggup melacak pemilik aslinya, aku ingin Anda memutuskan sendiri ke museum publik mana saja barang-barang ini bisa diserahkan sebagai donasi,” pesan Max pada Zoe (hlm. 21).

Max memberikan sebuah rahasia kuno pada Zoe. Sebuah kebenaran teologis. Pengetahuan yang mampu mengubah seluruh arah perjalanan hidup umat manusia. Dia menyuruhnya untuk memberikan benda itu pada suaminya. Karena menurut dia, suaminya itu fasih membaca bahasa Yunani Kuno.

“Aku juga akan mengirim sesuatu untuk Anda lewat kurir. Sesuatu yang harus kuambil dari saluran yang lebih aman,” ujar Max.

Sesampainya di rumah, Zoe dan Seth mengkaji naskah Yunani Kuno itu. Seth membuka pembicaraan.

“Satu hal yang pasti, kalau dokumen ini benar-benar autentik, ia bisa jadi merupakan salah satu dari banyak sekali naskah karya Eusebius yang hilang. Kau tahu, dia adalah penulis biografi Constantine.”

Kisahnya berujar tentang seorang wanita muda bernama Sophia. Dan, menurut manuskrip ini, ia tinggal di sebuah desa terpencil di pegunungan suku Anatolian di Smyrna yang sekarang dikenal sebagai Izmir, kota pelabuhan di sebelah barat Turki, tetapi pada waktu itu merupakan pusat pergolakan awal gereja Kristen. Tak terlalu jauh dari kota-kota Perjanjian Baru seperti Ephesus dan Philadelphia.

Dia melanjutkan, desa kecil di Symrna ini lebih mirip resor untuk kaum nomaden. Dan, kalau tidak salah baca, kemungkinan tak pernah memiliki lebih dari dua atau tiga ratus penduduk.

“Tak ada kuil, gereja, sinagoge, altar paganisme, atau apa pun. Hal ini saja sudah unik, karena saat manuskrip ini ditulis, tahun 325 Masehi, selang beberapa bulan setelah Konferensi Nicean, agama sedang jadi topik hangat di mana-mana.”

Orang-orang membicarakan agama, yang teologis, sama hebohnya seperti manusia sekarang bergunjing soal skor pertandingan atau skandal asmara. Waktu itu ada banyak sekali sekte serta variasi keyakinan Kristen, dan semuanya saling sengit tentang siapa di antara mereka yang menjadi ‘Gereja Sejati’.

Jadi, kita ceritanya punya seorang gadis kecil bernama Sophia yang tumbuh dewasa di tengah padang terpencil nan subur tanpa pendidikan agama atau tradisi apa pun. Lalu, tiba-tiba, beberapa hari setelah menstruasi pertama, ia mulai mendapat wangsit, ia mendengar wahyu Tuhan.

Seth tiba-tiba tidak mood melanjutkan kajian naskah Yunani Kuno tersebut. Namun, peristiwa nahas menghampiri mereka. Sebelum semua urusan selesai, sang kolektor, Willi Max meninggal dunia secara misterius di rumahnya yang dipenuhi benda-benda seni bernilai tinggi itu habis dibakar.

Anehnya, benda-benda seni itu tidak ikut dibakar. Ia dibawa segerombolan orang misterius, semisterius hilangnya Zoe, yang entah oleh siapa dia diculik, dan kenapa dia diculik. Tak ada motif yang jelas.

Sedangkan Seth harus menghadapi orang-orang yang mengancam jiwanya. Tampaknya ada sesuatu yang seharusnya tidak boleh mereka ketahui. Sesuatu yang keberadaannya telah lama ditutup-tutupi dan dikubur dalam-dalam oleh pihak-pihak tertentu, yakni tentang kain kafan Sophia, sang putri Tuhan.

Ia, Zoe, dan Seth terjerat jaring konspirasi yang telah berusia ribuan tahun, pembunuhan, dan intrik yang berporos pada kebenaran Anak Perempuan Tuhan, yang apabila terbukti akan menghancurkan fondasi keimanan masyarakat modern (umat Katolik).

Bacaan Layak

Apakah Zoe yang hilang secara misterius dapat ditemukan dan berkumpul kembali bersama suaminya, Seth? Dan apa kiranya ikhwal hubungan Konstantin, Vatikan, dan Putri Tuhan?

Apakah kelompok-kelompok mafia itu berhasil menemukan bukti atas keberadaan Sophia, sang Putri Tuhan, yang berupa kain kafan Sophia? Temukan jawabannya dalam buku ini. So, Anda harus membacanya.

Buku ini sangat layak dibaca oleh kita yang tertarik dengan kajian agama-agama, khususnya yang beragama Katolik. Karena persoalan yang diangkat sangat humanis dan kontekstual dengan kehidupan para pemeluk agama Katolik.

Dengan kemasan bahasa yang apik dan tidak bertele-tele, Perdue berhasil menyajikan buku ini dengan memadukan pengetahuan umum dengan sejarah, misalnya tentang kekejaman Hitler dengan Nazi-nya, juga tentang keimanan yang sering kali menggagahi umat beragama.

Judul: Daughter Of God
Penulis: Lewis Perdue
Penerjemah: Bima Sudiarto
Penerbit: Dastan Books
Cetakan: Pertama, Agustus 2006
Tebal: 640 halaman

___________________

Artikel Terkait:

    Naufal Madhure

    Alumnus Tafsir Hadist INSTIK ANNUQAYAH Sumenep, Madura | Peneliti Wisdom Institute
    Naufal Madhure

    Latest posts by Naufal Madhure (see all)