Meminang Ganjar atau Kalah

Meminang Ganjar atau Kalah
©Kompas

Temuan terbaru SMRC (13/6) makin menegaskan bahwa meminang Ganjar Pranowo adalah pilihan logis. Di antara nama-nama besar lain, Gubernur Jawa Tengah itu hadir sebagai kandidat paling potensial untuk Pilpres 2024. Yang mengabaikan atau justru melawan berkemungkinan besar menjadi partai-partai yang siap kalah.

Betul! Hanya partai memang yang bisa mengajukan calon presiden di republik ini. Itu sebabnya nama Prabowo Subianto unggul (21,5 persen) ketika yang disertakan adalah nama-nama dari ketua atau elite inti partai. Sangat jauh mengalahkan AHY dan Megawati, apalagi yang lainnya yang hanya di bawah 1 persen.

Meski turut unggul dalam pertanyaan semi-terbuka, capaian Prabowo kurang lebih stabil selama 7 tahun terakhir. Justru, sejumlah nama baru yang mendapat suara signifikan adalah Ganjar, Anies, Ridwan Kamil, dan Risma.

Tapi, hanya Ganjar yang mengalami kemajuan pesat, yakni dari 6,9 menjadi 12,6 persen. Yang lain-lain masih stabil layaknya perolehan Prabowo yang di situ-situ saja.

Yang paling menarik dari temuan SMRC ini adalah sarat dasar bagaimana pemilih memilih (kognisi atau pengetahuan). Makin tahu seorang pemilih terhadap calon, makin potensial si calon akan terpilih. Berbanding lurus.

Namun, bila pemilih tahu semua calon yang bersaing, maka yang menentukan bukan lagi sekadar “tahu”, tapi faktor lain yakni “suka” sebelum akhirnya menjatuhkan pilihan. Kesukaan inilah yang lebih menentukan ketimbang “tahu” doang.

Hal itu terbukti dari temuan SMRC. Walau Prabowo dan Anies, misalnya, jauh lebih dikenal daripada Ganjar, keduanya ternyata tidak diikuti sikap suka pemilih dibanding Ganjar. Dan, walau Ridwan Kamil dan Sandiaga Uno lebih disukai daripada Ganjar, tapi ketika arahnya adalah memilih, maka Ganjar mengalahkan semuanya; unggul jauh pokoknya.

Bahkan, meski tanpa dukungan PDIP atau massa/pemilihnya, Ganjar dipastikan tetap akan kompetitif sebagai Calon Presiden 2024. Ada 2 (dua) alasan yang mendasari hal ini.

Pertama, Ganjar ternyata dapat menarik pemilih dari partai lain di luar PDIP. Paling banyak dari PKB (68 persen), Demokrat (40 persen), dan partai non-parlemen (46 persen). Juga, dari mereka yang masih menyatakan “belum tahu” akan memilih partai mana (31 persen).

Ganjar pun mendapat suara cukup baik dari pemilih Golkar (36 persen). Posisinya hanya sedikit di bawah Prabowo (41 persen). Demikian halnya dari pemilih Nasdem dibanding Anies (27 vs 21 persen).

Alasan kedua, Ganjar ternyata juga mampu menarik pemilih yang puas dengan kinerja Presiden Jokowi. Jumlah mereka hari ini sangat besar. Dibanding Prabowo dan apalagi Anies, Ganjar jauh lebih banyak dipilih.

Tapi SMRC turut mencatat, bila Ganjar akhirnya tidak dicalonkan, maka rakyat Indonesia akan disuguhkan pertarungan yang kurang memuaskan antara Prabowo dan Anies. Persaingannya tetap akan ketat lantaran perbedaan elektabilitasnnya yang sangat tidak signifikan.

Lain hal ketika Ganjar malah dicalonkan partai lain. Dan ini patut menjadi kekhawatiran besar, terutama bagi PDIP, sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa partai-partai lain wajib meminang Ganjar. Ini pilihan logis daripada kalah, bukan?

Baca juga:
    Latest posts by Maman Suratman (see all)