Mempertanyakan Materialisme

Mempertanyakan Materialisme
©Tribune Content Agency

Materialisme, sederhananya, tidak menjawab apa pun soal asal-usul kesadaran.

Apa itu kesadaran? Dari mana kesadaran berasal? Mengapa manusia memiliki kesadaran?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu tentu saja sudah setua filsafat itu sendiri. Para filsuf kuno semacam Plato dan Aristoteles sudah bergumul dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, mengajukan definisi soal kesadaran, membahas bagaimana kesadaran bermula, dan sebagainya.

Bahkan hingga pada dampaknya pada permasalahan-permasalahan epistemologis semacam bagaimana manusia yang punya kesadaran berbeda-beda ini bisa mendapatkan pengetahuan yang universal, semisal 2+2= 4. Dan, sebagaimana halnya pertanyaan-pertanyaan filosofis yang lain, pertanyaan-pertanyaan ini pun hingga sekarang tidak ada jawaban yang pasti.

Dalam sejarahnya, perdebatan soal kesadaran ini kemudian kita kenal sebagai filsafat akal budi. Dalam perkembangan yang lebih lanjut, posisi filosofis soal kesadaran ini umumnya terbagi menjadi dua.

Di satu sisi, ada dualisme yang menyatakan bahwa kesadaran kita umat manusia memiliki realitasnya sendiri yang berbeda dengan tubuh, saling memengaruhi namun tidak saling mencampuri. Sederhananya, bagi aliran ini, kesadaran kita tidak bergantung pada realitas materi seperti tubuh.

Di sisi lain, ada aliran materialisme yang memandang bahwa kesadaran umat manusia tidak lebih dari produk serangkaian interaksi material seperti biokimiawi dalam tubuh (terkhusus otak). Sederhananya, dalam pandangan ini, kesadaran manusia dependen pada materi.

Meski demikian, untuk kepentingan pembahasan yang ringkas, saya dalam tulisan kecil ini tidak akan membahas soal dualisme secara panjang lebar. Saya, secara khusus, hanya akan memfokuskan pembahasan pada materialisme.

Sesuai dengan judul yang saya bawa, saya akan mempertanyakan asumsi materialisme tersebut terkait kesadaran manusia. Benarkah kesadaran manusia tidak lebih dari produksi biologis semata? Saya akan mendasarkan argumen saya pada Alvin Plantinga dalam bukunya yang berjudul Against Materialism.

Setidaknya ada dua kritik utama yang bisa kita ajukan pada materialisme yang memandang kesadaran manusia sebatas sebagai sebuah produk biologis semata. Pertama, mari kita mulai dari sebuah eksperimen pikiran terlebih dahulu.

Bayangkan sebuah dunia di masa depan di mana manusia, melalui perkembangan sains dan teknologi yang sudah sedemikian maju, memiliki kemampuan untuk memodifikasi tubuh manusia secara penuh bahkan hingga pada titik sanggup mengutak-atik otak manusia. Bayangkan Anda terkena sebuah kecelakaan parah, yang menimbulkan kerusakan parah pada otak Anda. Dokter akhirnya memutuskan untuk melakukan operasi otak, dengan mengganti bagian otak Anda yang rusak dengan yang baru.

Baca juga:

Dengan perkembangan pengetahuan kedokteran yang juga sudah sangat pesat, operasi Anda berhasil. Anda berhasil bangun dari pingsan, dan kembali tersadar.

Pertanyaannya, saat Anda tersadar, Anda tersadar dengan kesadaran Anda atau kesadaran orang lain? Apakah Anda akan punya dua kesadaran karena di otak Anda sekarang ada dua jenis otak, satu otak Anda yang lama, dan satu lagi otak, entah milik siapa, yang menggantikan bagian-bagian otak Anda yang rusak?

Oleh Plantinga, argumen semacam ini tergambar dengan scane menarik dalam film Star Trek tentang teleportasi. Dalam film tersebut, umat manusia sudah sampai pada perkembangan teknologi yang sangat maju. Mereka bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat, dalam hitungan detik, menggunakan alat teleportasi yang untuk sementara akan mendistorsi seluruh tubuh biologis, diubah ke dalam bentuk energi, ditransfer ke alat teleportasi yang lain, yang kemudian diubah kembali ke wujud biologis semula.

Pertanyaannya, apakah tubuh yang ter-teleportasi masih sama atau berbeda? Jika sama, bagaimana mungkin? Bukankah teleportasi sebelumnya mendistorsi tubuh? Jika berbeda, apakah kesadaran individu bersangkutan juga mengalami perbedaan? Atau tetap sama sebagai seorang pribadi? Suatu Qualia yang tidak berubah? Bagaimana materialisme merespons pertanyaan ini?

Tentu beberapa kalangan materialis akan menolak argumen ini dengan alasan basis yang saya gunakan adalah sebuah pengandaian yang belum pasti kebenarannya.

Tapi hei, tunggu dulu, jika kesadaran manusia hanya sebatas sebagai sebuah produk dari materi, kenapa tidak mungkin materi “penghasil” kesadaran itu kita utak-atik layaknya materi lain? Justru pengandaian Plantinga ini menjadi logis karena alur berpikir materialisme itu sendiri. Keberatan semacam ini justru memunculkan paradoks bagi materialisme itu sendiri.

Kedua, andaikan persoalan pertama itu keliru, di sini masih ada tantangan bagi kalangan materialis. Sederhana saja, bagaimana materialisme menjelaskan materi bisa menghasilkan kesadaran? Bagaimana materi menghasilkan hal-hal semacam emosi dan Qualia? Penjelasan apa yang ia tawarkan di sini? Ini adalah salah satu problem utama dari materialisme.

Di sini Plantinga menggunakan Berkeley. Berkeley memberikan sebuah eksperimen pikiran sebagai sebuah gambaran.

Halaman selanjutnya >>>

Syahid Sya'ban
Latest posts by Syahid Sya'ban (see all)