Menakar Perkembangan Teknologi Informasi

Menakar Perkembangan Teknologi Informasi
Ilustrasi: Times Indonesia

Laporan State of Connectivity 2015: A Report on Global Internet Access yang dibuat oleh Facebook mencapai 3,2 miliar. Sekitar 40 persen dari masyarakat dunia tercatat sebagai pengguna internet. Tentu, inilah sinyal perkembangan teknologi informasi yang telah mencapai titik dominasinya.

Catatan ini menunjukkan kecenderungan perilaku manusia masa kini yang bergantung pada dunia cyber. Setiap tahun, data pengguna internet yang terhimpun tak pernah berkurang, selalu bertambah. Ini adalah modal positif bagi peradaban manusia dalam berkehidupan atau bahkan dapat sebaliknya.

Saling berhubungan satu sama lain serta tidak dapat melepaskan diri dari hidup bersama merupakan kodrat mahluk sosial. Manusia tak mungkin hidup sendiri, selalu membutuhkan orang lain agar mampu mengimbangi dan menjadi rekan dalam berhubungan secara holistik.

Bila manusia tidak dapat hidup (saling berhubungan) dalam masyarakat, secara tegas Aristoteles menyebutnya sebagai seorang malaikat atau hewan. Pernyataan ini mendefinisikan bahwa fitrah manusia diciptakan dengan kesempurnaan akalnya.

Tak pelak keberadaan dunia maya saat ini merupakan usaha manusia dalam membangun peradabannya agar lebih mudah dan berkembang. Tengok saja dalam sejarah revolusi industri yang dalam dunia akademis telah sering kita telaah.

Sains dan teknologi adalah parameter perkembangan manusia. Semula manusia bertukar informasi melalui bahasa dan isyarat lainnya. Komunikasi ini tentu sangat terbatas dan tak cukup luas serta memakan waktu yang panjang.

Namun, keberadaan internet saat ini telah mengubah dunia yang begitu besar menjadi lebih dekat dari ujung mana pun. Kita pun dapat menyaksikan berbagai himpunan informasi dan sains yang tersaji di dunia cyber. Pertukaran informasi yang begitu pesat terjadi di sekeliling kita ikut menuntut manusia selalu kompetitif.

Meretas Batas

Sekat yang dahulu memberi jenjang pada belahan tempat tinggal suatu bangsa, kini telah tidak ada. Teknologi informasi ini telah menyatukan kapabilitas komputasi dan komunikasi yang berkecepatan tinggi, baik dalam data audio, video, maupun visual lainnya.

Pada dasarnya, definisi teknologi informasi menurut Haag dan Keen (1996) adalah seperangkat alat yang digunakan untuk membantu tugas-tugas yang berhubungan dengan pemprosesan data. Sistem teknologi informasi ini merupakan istilah yang menjelaskan bahwa alat yang telah membantu manusia membuat, menyimpan, mengubah, dan mengkomunikasikan serta membantu menyebarkan informasi.

Kemajuan teknologi informasi ini kian memberikan kompetisi baru dalam dunia modern. Media sosial merupakan salah satu perangkat teknologi informasi yang sudah umum di publik.

Saat ini, aktivitas manusia hampir seluruh waktu panjangnya dihabiskan di dunia media sosial. Babak baru peradaban telah dimulai dengan segala konsekuensinya. Arus informasi yang semakin mudah menempatkan kita pada jenjang kehidupan yang serba kreatif. Terdapat banyak peluang positif yang dapat dimanfaatkan dengan mudah.

Catatan wikipedia, teknologi informasi dan komunikasi adalah payung besar terminologi yang mencakup seluruh peralatan teknis untuk memproses dan menyampaikan informasi. Cepatnya pertukaran informasi ini dapat membantu suatu bangsa dari ketertinggalan menuju satu hal yang maju. Tak ayal, pesatnya informasi ini bergandeng erat dengan pesatnya dunia industri dan perbisnisan lainnya.

Bahkan, media sosial tidak hanya menempatkan komunikasi pertemanan antar penggunanya, tetapi lebih jauh dari itu, telah mengakses sisi ekonomi, politik, hukum, sosiologi, antropologi dan lain sebagainya. Pertukaran informasi di dunia maya sulit dibendung. Tak ayal, aib dan informasi bodong lainnya begitu mudah tersebar.

Evolusi Media, Perseteruan Baru

Di balik kilas balik tentang positivistik teknologi informasi, media sosial khususnya telah ditempatkan pada alat evolusi perseteruan baru manusia modern. Di ruang sosial media, saat ini orang lebih mudah diprovokasi melalui informasi bodong yang mengabaikan substansi kebenaran.

Akibat percaturan kepentingan pribadi, golongan, politik dan lain sebagainya, media sosial akhirnya riuh oleh ujaran palsu dan terdapat banyak kebencian. Skala media sosial harusnya mendudukkan proses dialog, pertukaran konsep, dan strategi kreatif, bukan sebaliknya: menjadi arena benturan kepentingan.

Dalam konteks ini, pengguna media sosial dan teknologi informasi lainnya diharuskan berakal sehat dan berpengetahuan. Cogito Ergo Sum hasil olah pikir Descartes yang fenomenal benar-benar mencapai puncaknya saat ini.

Ungkapan filsuf ternama asal Perancis “Aku berpikir maka aku ada” dalam konteks ini mengukuhkan posisi manusia agar dapat berpikir sendiri dengan segala hal yang mereka terima. Hal ini guna melihat sejauh mana validitas informasi yang tersebar agar tidak terjebak pada riuhnya kemajuan media informasi yang juga mengandung unsur negatif.

Sebagaimana pendapat Martin Heidegger (1977) bahwa teknologi merupakan rangkaian proses mencipta dan transformasi objek. Tentu, penggunaan dan eksploitasi teknologi ini pengaruhnya bergantung pada tindakan manusia itu sendiri.

Terlebih, data terakhir yang dirilis oleh CNNIndonesia.com (03/01/2017) menunjukkan begitu banyak situs negatif yang kian beredar di sekitar kita. Sekitar 767.888 situs diblokir oleh Kominfo sepanjang 2016 sesuai UU No. 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Era kemajuan teknologi saat ini telah bergantung pada respons diri kita sendiri.

*Sakinah Qotrun Nada Sugeng, Mahasiswi Stikes Surya Global Jurusan Farmasi. Asal Tengerang, Banten

___________________

Artikel Terkait: