Menalar Komitmen dan Tanggung Jawab Politik Kaum Muda

Menalar Komitmen dan Tanggung Jawab Politik Kaum Muda
©Ist

Komitmen itu bukan semata-mata ingin mendesak kalang wong tuo untuk segera turun jabatan.

Stasiun televisi dan beberapa media cetak belakangan ini ramai memberitakan kasus-kasus korupsi yang menimpa wakil rakyat, elite politik, dan beberapa orang yang selalu mencari kesempatan membangun citra di tengah badai bencana melanda demi kepentingan pribadi. Mereka terlihat berlomba-lomba dan berkelompok-kelompok saling tuding ihwal kepentingan masing-masing.

Parahnya lagi, mereka mempermainkan hukum dan tega menelantarkan anak bangsa hidup dalam kemiskinan dan pengangguran. Fenomena itu tampil terus menjadi headline berita media cetak dan menjadi tema diskusi di beberapa stasiun televisi.

Pada akhirnya, hal itu membuat rakyat gerah melihatnya dan membuat kalangan kaum muda tersentuh hati untuk berdiskusi mencari solusi terbaik atas masalah yang mengguncang kepribadian bangsa ini.

Kaum muda ini sadar bahwa rakyat tidak bisa kita biarkan berlinang air mata meratapi nasib yang terus menimpa kehidupan seharian mereka. Rakyat sejatinya harus bangkit dan juga bisa menikmati kekayaan yang ada di Bumi Pertiwi ini.

Bukan hanya golongan konglomerat dan bukan juga keturunan politikus yang dapat menikmati hasil dari tata kelola sumber kekayaan alam ini. Namun, semua elemen masyarakat harus bisa mencicipi hasilnya.

Komitmen Perubahan

Berangkat dari bisikan hati itu, para kawula muda merasa terpanggil untuk membangun komitmen perubahan yang dimulai dari sebuah dialog kesadaran. Kesadaran akan terbentuknya masyarakat yang sejahtera dan bisa hidup rukun dalam berumah tangga.

Misi luhur itu yang sejatinya menurut Andi Rahmat (2001) menjadi spirit manifesto mereka untuk membangun Indonesia yang lebih mengerti dan memberikan hak-hak kemanusiaan pada seluruh rakyatnya. Komitmen itu bukan semata-mata ingin mendesak kalang wong tuo untuk segera turun jabatan atau legawa memberikan suara mereka pada Pemilu.

Namun ikhtiar itu lebih bermuara pada suatu keyakinan perbaikan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Mereka merasa malu terhadap para pembesar negeri ini, seperti Soekarno, Hatta, atau Sjahrir, yang mewariskan banyak perubahan kebudayaan, baik di level pemerintahan maupun kehidupan sosial.

Baca juga:

Warisan kebudayaan itu harus mereka jaga, rawat, dan kembangkan. Sebab pada pundak merekalah kita masih bisa berharap lebih banyak.

Mau kita akui atau tidak, pemimpin kita selama ini masih kurang memperhatikan kehidupan rakyatnya. Program kepemerintahan masih sarat dengan kepentingan, sehingga pemberdayaan kehidupan nasional menjadi kurang tersentuh.

Begitulah mengapa kaum muda harus terjun ikut berperan di dalamnya, untuk menata ulang bagaimana kehidupan rakyat itu mereka bangun melalui konsep program dan kebijakan yang pro terhadap kesejahteraan rakyat, serta dapat mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kita tidak bisa tinggal diam dalam keterpurukan jika tidak ingin mendapat tertawaan dari negara-negara tetangga. Cina sekarang menjadi pusat perhatian dunia berkat pesatnya perkembangan ekonomi, Tiongkok terus mendorong pemulihan ekonomi dengan tujuan menyejahterakan rakyatnya.

Lalu Indonesia apa? Apakah kita akan terus-menerus menjadi negara populer pengekspor tenaga kerja yang banyak negara tetangga minati?

Sungguh bukan suatu kebanggaan jika kita terus hidup dalam kemandekan prestasi dan tak punya nyali. Kita harus bangkit kembali menjadi `macan Asia’ dan mengembalikan ekonomi kita dari sistem ekonomi kapitalis menjadi sistem ekonomi kerakyatan, sehingga lebih memungkinkan pada sebuah kesejahteraan bersama.

Cita-cita besar ini jangan sampai jadi utopia belaka, tetapi benar-benar terkabulkan dalam dunia nyata.

Ujian Komitmen

Kita banyak memilik kaum muda yang ingin bangkit dan mau menguji nyali dalam pentas politik. Sederetan nama telah masuk daftar bursa calon legislatif.

Halaman selanjutnya >>>