Menanti Pengakuan

Menanti Pengakuan
©Kompasiana

Lekang kalbu menunggu kepastian
Terguyur waktu terpanggang pengorbanan
Gontai jiwa memanggul penantian
Berharap setangkai pengakuan

Jauh sudah langkahku
Hingga hilang jejak rasaku
Tergerus lincahnya sang waktu
Yang terus iringi harapanku

Bersandar jiwa di batang risau
Sesekali dihempas rasa ragu
Menggoyahkan keinginan yang kukuh
Melebur mimpi untuk menggapai hal yang indah

Sepercik Khayalan dari Jendela Kaca

Memandang dari jedela kaca yang berembun
Tetesan airmu membasahi tanah yang gersang
Engkau jatuh tanpa pamit menghilang begitu saja dalam resapan
Berkah yang jatuh dari langit pemilik segalanya

Limpahan air itu menghidupkan tunas-tunas muda
Tunas-tunas yang akan menggantikan perubahan masa keemasan
Dari ketiggalan menuju kemajuan
Inilah aku

Inilah waktuku
Inilah berkatmu
Nyanyian alam di atas atap rumahku
Meramaikan suasana kesendirianku

Semesta

Kita adalah aksara dari sajak-sajak indah
Alam semesta adalah puisi beserta isinya
Awan gunung, sawah semua berpuisi
Matahari seakan selalu tersenyum walau kabut sedikit anarkis

Hujan tidak datang kala itu, hanya saja hawa dingin menusuk hingga paruh jantungku
Kakiku sedikit gemetar, tapi aku tidak pernah ragu karena itu sebuah konsekuensi untuk sebuah sajak puisi yang tidak bisa dibeli oleh apa pun

Sebuah Pesan Manja dari Samudra Rasa

Kutitipkan pesan lewat angin yang singgah
Tanpa rasa takut pesan tak tersampaikan
Ragaku terenyuh oleh kata-kata manisnya
Katanya ia juga akan temui seseorang lelaki gagah

Kulipatkan kertas yang dipenuhi bubur kata yang bermakna
Meski diksiku terlihat hancur lebur
Namun, rasanya pasti nikmat
Karena sudah kutaburi bumbu-bumbu

Ada tampilan manis dari kalimat pembuka
Ada aroma pedas nan gurih ketika dibuka isi surat
Diakhiri dengan desah karena kalimatnya yang menggoda
Semoga salam sapaku diterima

Sang Pengagum

Sempurna pun hilang
Terjamah luka mengering
Menebas opsi kepermukaan
Menurunkan rendah harga mati

Lincah perkataan tak digubris
Bak menghitung puing yang belum hancur
Transparan samar tak berbentuk
Maksud naluri menjangkau
Tak punya daya untuknya

Tapi optimis tetap terjaga
Tumbuh energi bersinergi
Memupuk asa merajut bahtera
Berharap si dia mau berbaik hati untuk menyapa

Soal Rasa

Bias rona purnama malam
Menampakkan kisah-kisah hampa
Dinginnya angin menusuk pori
Terasa resah jiwaku menerawang

Pada langit di kota ini
Dilukiskan sebuah kisah
Tentang arti dari sebuah rasa

Biarkan Berlalu

Terlewati oleh sebuah rasa
Dalam iringan melodi nada
Berlalu dalam peraduan
Menjelajahi jejak yang masih hampa

Padamu langit malam
Kulukiskan sebuah cerita tentang rindu dimasa kelam
Semburat angin hangatkan sukma
Membuat anganku selaksa bermakna

Latest posts by Lalik Kongkar (see all)