Menaruh Curiga di Balik Wacana Mental Health

Menaruh Curiga di Balik Wacana Mental Health
©WHO

Terdapat suatu potensi sistematis di balik isu mental health yang dapat dimanfaatkan oleh sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab.

Dunia modern, kapitalisme, peperangan, pandemi Covid-19 sedikit banyak memberikan pengaruh yang cukup besar bagi perkembangan psikologis seseorang. Meskipun pada kenyataannya permasalahan yang terjadi saat ini juga pernah terjadi di masa lalu.

Beberapa keadaan memaksa seseorang untuk—secara simultan—beradaptasi dengan kondisi atau fenomena tertentu secara sukarela atau tidak. Beberapa masalah yang terjadi baik di masa lalu atau saat ini, misalnya ekonomi, kesenjangan sosial, psikologis atau politik.

Akan tetapi, kita tidak akan membahas masalah-masalah yang kita sebutkan di atas satu per satu, secara spesifik kita akan membahas permasalahan pada aspek psikologis yang saat ini cukup digandrungi oleh sebagian masyarakat.

Permasalahan mental health merupakan hal yang dianggap penting dan menarik perhatian hampir sebagian masyarakat, khususnya generasi milenial. Kesadaran tentang pentingnya manfaat dari suatu kondisi mental yang baik adalah nilai lebih dari generasi milenial. Tidak jarang, dampak dari suatu keadaan mental yang tidak stabil akan menghambat seseorang untuk beraktivitas.

Misalnya, Anxiety—merupakan salah satu masalah khas yang terjadi saat ini—merupakan suatu bentuk kekhawatiran atau kegelisahan yang intens, berlebihan, dan terjadi secara terus-menurus hingga memperlambat atau menganggu aktivitas seseorang.

Penulis memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya karena sudah banyak orang yang lebih sensitif atas isu-isu atau keresahan seseorang. Tentu saja hal ini akan berdampak pada keterbukaan diri seseorang untuk melepaskan dogma buruk atas dirinya sendiri yang membawanya pada tindakan destruktif, misalnya bunuh diri atau self-harm.

Rasa Curiga

Terlepas dari kelebihan generasi milenial yang sangat memperhatikan urgensi kesehatan mental, perlu kita garisbawahi bahwa di balik isu-isu tersebut yang dapat kita kategorikan sebagai hal yang sensitif, ada suatu tendensi yang memperlihatkan kurang optimalnya kemampuan seseorang untuk melakukan eksplorasi atau mengendalikan keadaan tertentu di dalam dirinya. Dalam hal ini penulis tidak berupaya untuk membuat stigma bahwa kesehatan mental menjadi tidak penting.

Beberapa di antara memang mengalami keadaan yang sangat traumatis bahkan menimbulkan kegelisahan tersendiri di dalam dirinya. Penulis mencoba untuk melepaskan diri dari para pejuang kesehatan mental atau seseorang yang sedang bergelut dengan keresahan yang mereka alami. Dalam hal ini, penulis mencoba mengemukakan bahwa terdapat suatu potensi sistematis di balik isu kesehatan mental yang dapat dimanfaatkan oleh sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab.

Baca juga:

Misalnya, orang-orang yang berpura-pura mengalami permasalahan mental dan menjadikannya alasan untuk tidak melakukan suatu pekerjaan atau bahkan bermalas-malasan di dalam aktivitasnya. Yang perlu kita sadari adalah di setiap fenomena yang terjadi, tidak jarang akan dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab untuk memperoleh ketenaran atau pengecualian dari otoritas tertentu agar ia terlepas dari tuntutan hukum atau lepas dari tanggung jawabnya.

Kecurigaan ini diikuti dengan budaya self-diagnose yang selayaknya tidak dilakukan oleh seseorang. Kesedaran atas suatu permasalahan mental atau ciri-ciri dari permasalahan mental yang dialami adalah faktor penting untuk mitigasi melebarnya keadaan buruk di dalam diri seseorang.

Akan tetapi, tidak jarang—termaktub di dalam pikiran beberapa orang, bahwa self-diagnose sudah cukup untuk membuktikan bahwa ia sedang mengalami permasalahan psikologis tertentu—tindakan ini kemudian menimbulkan kecurigaan yang perlu kita sadari menjadi salah satu kelemahan dari kesadaran atas permasalahan psikologis.

Dalam tingkat yang lebih tinggi, atau permasalahan yang berkaitan dengan tindakan negatif, misalnya tindakan penganiayaan. Terdapat potensi bagi seseorang untuk melepaskan dirinya dari jeratan hukum dengan bergaya atau menunjukkan indikasi dari permasalahan psikologis. Sependek pengetahuan penulis, hal ini merupakan tantangan bagi setiap entitas untuk melakukan verifikasi yang bersifat klinis ketika dihadapkan pada kasus-kasus self-diagnose atau manipulasi data-data seseorang yang berkaitan dengan kesadaran seseorang.

Romantisisasi Mental Health

Mungkin—beberapa orang dapat beranggapan bahwa membuat suatu hal menjadi sedikit dramatis atau mengesankan bahwa hal tersebut memiliki nilai yang mendalam, merupakan tindakan yang berlebihan—kesadaran akan pentingnya kesehatan mental merupakan ciri khas dari generasi milenial dan indentitas yang sudah melekat di dalam diri sebagian generasi milenial.

Akan tetapi, wacana tentang kesadaran dan kepedulian terhadap kondisi psikologis yang membabi buta akan menimbulkan suatu masalah berkelanjutan. Salah satu masalahnya adalah manipulasi yang dilakukan seseorang untuk membentuk stigma bahwa dirinya adalah seseorang yang mengalami masalah psikologis tertentu sehingga masyarakat perlu untuk memaklumi atau mengecualikan perilaku yang mungkin menyimpang dari nilai-nilai sosial, misalnya perilaku kasar, manipulatif, atau bahkan mengarah pada aktivitas kriminal.

Romantisisasi ini akan menyebabkan suatu pola yang memicu rasa pengecualian atas perilaku yang dilakukan oleh seseorang yang sedang berpura-pura berada di fase psikologis yang paling rendah—misalnya, seseorang bisa dengan leluasa melakukan tindakan kekerasan hingga menyebabkan kerugian yang besar pada korbannya, dan terselamatkan oleh permasalahan psikologis yang padahal hanya manipulasi dari dirinya sendiri.

Celah seperti ini yang kita perhatikan untuk membuat demarkasi yang objektif terhadap orang-orang yang benar-benar mengalami permasalahan psikologis atau orang-orang yang hanya berpura-pura mengalami masalah psikologis.

Halaman selanjutnya >>>
Angga Pratama