Mencegah Fanatisme dengan Filsafat

Mencegah Fanatisme dengan Filsafat

Fanatisme atau bigot bukanlah suatu penyakit ataupun gangguan pada otak.

Dalam kamus bahasa Inggris, bigot bermakna fanatik, dogmatis, dan juga orang yang keras pendirian pada apa yang diyakininya.

Ya, setiap orang memang mempunyai pikiran, prinsip, dan juga keyakinan. Namun keyakinan dan pikiran manusia berkembang dari masa ke masa. Pikiran manusia bersifat relatif dan cenderung berubah jika menemukan informasi baru. Namun bagi seorang bigot, keyakinan dan prinsip hidupnya dianggap selalu benar dan takkan berubah.

Seorang bigot atau fanatik cenderung akan resistan dan juga menutup diri dengan apa yang berbeda dengan yang diyakini dan yang dipercaya. Sikap fanatik inilah yang merupakan kontruksi berpikir yang akan menyebabkan orang bertindak radikal bahkan ekstrem dalam memelihara keyakinannya.

Seperti yang belakangan ini terjadi, ada satu daerah yang ditempati oleh komunitas Mmuslim melarang pemeluk Kristen yang minoritas untuk beribadah di daerahnya. Sehingga orang-orang Kristen tersebut harus merayakan Natal dan ibadat di daerah lain.

Begitu juga dengan orang-orang yang sibuk mencaci dan mem-bully orang yang merayakan Natal dan mengucapkan ‘selamat Natal’ pada komunitas kristiani.

Bagi kelompok bigot, toleransi adalah omong kosong. Mereka cenderung memaki dan menyerang setiap apa yang bertentangan dengan yang diyakininya.

Orang-orang yang berpikir secara sempit sulit untuk menerima ide tentang liberalisme dan pluralisme. Bagi mereka, yang benar adalah keyakinan mereka. Sesuatu di luar mereka adalah haram dan harus dihindari.

Fanatisme atau bigot bukanlah suatu penyakit ataupun gangguan pada otak. Fanatisme adalah kecenderungan yang menyimpang dari konstruksi berpikir yang salah dan juga cara pandang yang sempit dalam menilai sesuatu.

Baca juga:

Suporter sepak bola, misalnya, terlalu cinta buta klub-nya. Sehingga membuat para suporter fanatik bertindak tidak rasional hingga mereka nekat berbuat kerusuhan.

Dalam keyakinan pada agama, sikap fanatik berlebihan terhadap agama yang dianut akan membuat seseorang menjadi eksklusif, bersikap keras atau bisa menjadi radikal (radikal di sini bermakna orang yang keras dan kaku dalam memahami agama).

Pola keagamaan yang fanatik cenderung ditanamkan ketika orang tersebut masih muda. Ketika mereka ikut pengajian atau sekolah minggu, guru agama selalu menekankan konsep iman dan keyakinan secara otoriter; mengangkat tinggi agamanya sembari mencela keyakinan lain sebagai “sesat” dan “kafir”. Ketika iman tidak dibarengi dengan akal sehat, maka muncullah benih-benih radikalisme.

Konstruksi berpikir yang kaku, dogmatis, tak logis membuat orang-orang menjadi fanatik. Jika fanatisme dalam agama sudah menjamur, implikasinya adalah sikap radikal dalam beragama, berbuat kerusuhan dan keonaran dengan motif agama. Bahkan tak segan-segan mengintimidasi komunitas agama lain.

Seorang yang fanatik dalam beragama akan memandang dunia dalam kerangka konflik. Kehidupan saat ini adalah kehidupan yang tidak ideal dan penuh kejahatan. Mereka yang berpikiran sempit akan menganggap bahwa keselamatan dan kebahagiaan hanya bisa tercapai jika cita-cita ideologi atau agama mereka bisa dilaksanakan.

Filsafat untuk Menangkal Fanatisme

Orang-orang fanatik belum tentu kurang intelegensi alias bodoh. Para teroris yang fanatik dalam beragama, misalnya, seperti Noordin M Top atau Dr. Azhari, bukan orang bodoh dan tak berpendidikan. Sekali lagi, yang jadi masalah bukan wawasan dan pengetahuannya, tetapi konstruksi berpikir yang kaku dan dogmatis.

Seorang fanatik adalah orang yang memagari pikirannya dengan tembok besar. Setiap informasi atau wacana pemikiran yang ia peroleh akan sulit diterima karena pikirannya sudah resistan. Sehingga menutup apa-apa yang berbeda dengan nilai-nilai yang ia yakini.

Jika ada seorang Eropa terjangkit oleh tendensi islamofobia atau rasis, jika ia bertemu dengan seorang muslim yang ramah, mau si muslim berbaik seperti apa pun dan menjelaskan dengan argumen sebijak bagaimanapun, tetap saja orang tersebut tidak mau mengerti.

Begitu juga sorang muslim yang membenci segala sesuatu yang berkaitan dengan Barat. Walaupun orang Eropa atau Amerika secara jujur ingin bersahabat dan ingin menjalin kerja sama secara sehat, tetap saja orang muslim tersebut akan tetap membenci dan mencurigai segala sesuatu yang dilakukan oleh orang Barat.

Sekali lagi, sebab pangkal dari fanatisme serta terorisme adalah pola pemikiran yang kaku, dogmatis, dan normatif dari si pelaku.

Beberapa waktu, Ramyzard Ryacudu (saat itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan) berencana membuat program yang dinamakan “Bela Negara”. Program Bela Negara dianggap bisa menjadi solusi untuk mengatasi masalah radikalisme dan terorisme yang belakangan ini mengancam kedaulatan negara.

Menhan menganggap bahwa pendidikan bela negara bisa menjadi solusi untuk melenyapkan terorisme dan mengikis habis radikalisme. Sayangnya, kenyataannya tidak semudah itu. Program Bela Negara yang diampu oleh kalangan militer dan para peserta akan dididik dengan pola kemiliteran tidak efektif untuk menangkal radikalisme. Sebab kita tahu pula bahwa sebagian dari anggota Polri dan TNI juga terpapar oleh ideologi radikal

Ini berarti pendidikan paramiliter bukan langkah yang tepat dalam menangani kasus radikalisme. Sebaliknya, dengan pola ala militer atau indoktrinasi Pancasila, sebagaimana yang pernah ada di zaman Orde Baru lalu, justru akan menimbulkan rasa fanatik baru, yaitu fanatik tanah air alias cauvinisme.

Baca juga:

Memerangi fanatisme tidak bisa dengan mengajari generasi muda untuk memegang popor senjata atau menghafal sila-sila Pancasila. Tetapi setiap orang kita harus dibina cara berpikirnya, mengubah kontruk dan cara berpikir yang tertutup (closing minded) menjadi terbuka (open minded). Bagaimana caranya? Ya tentu saja dengan pola pendidikan yang mengajak untuk berpikir secara kritis.

Salah satu ilmu yang mengajak si anak untuk berpikir secar kreatif dan juga kritis adalah filsafat. Pelajaran filsafat dasar yang mempelajari ilmu logika merupakan salah satu cara untuk melatih cara berikir dan juga menantang mereka untuk berpikir secara runtun dan rasional.

Filsafat bukan hanya sekadar ilmu untuk berdebat atau “bershopistik” ria, tetapi juga untuk menguji keyakinan dan juga menimbang apa yang selama ini kita anggap kebenaran final. Filsafat selalu mengajak manusia untuk bertanya dan terus bertanya. Filsafat tidak mengenal titik akhir, apalagi mati (seperti pandangan Stephen Hawking).

Filsafat mengajarkan orang untuk berdialektika, yaitu berdialog secara santun tentang segala sesuatu yang dipertentangan tanpa harus diakhiri dengan pengkafiran atau ancaman pembunuhan. Dalam dialektika, selain orang harus siap untuk menguji keyakinannya, orang tersebut juga harus bisa menerima secara legawa jika ternyata keyakinannya keliru.

Berpikir secara logis dan kritis merupakan musuh utama kelompok fanatik atau bigotist. Setiap pertanyaan dan juga kritikan yang keluar ketika mereka diajak berpikir secara filosofis merupakan sebuah kematian dari dogma. Filsafat membuka belenggu pemikiran dan juga menjebol tembok-tembok kebebalan.

Namun sayangnya, hingga saat ini, masyarakat kita masih memandang filsafat dengan sebelah mata. Hal itu tercermin dari pola pendidikan kita yang otoriter, dikte, dan juga menghafal tanpa membuat siswa berpikir secara kritis dan kreatif.

Padahal radikalisme dan bigotisme lahir dari pola didikan yang totaliter dan melarang anak untuk mencoba menggunakan nalar mereka secara sehat.

    Latest posts by Reynaldi Adi Surya (see all)