Mendukung atau Membubarkan FPI?

Mendukung atau Membubarkan FPI?
Foto: JPNN

Ini satu ulasan menarik dari Made Supriatma. Lewat tulisannya di Geotimes, peneliti sosial-politik ini mempertarungkan dua petisi: antara mendukung atau membubarkan FPI (Front Pembela Islam).

“Lima hari yang lalu, ada sebuah petisi di change.org. Penggagasnya seseorang yang bernama Ira Bisyir. Hingga saat ini, petisi tersebut sudah didukung oleh 415 ribu orang,” tulis Made.

Petisi yang dimaksud adalah imbauan membubarkan FPI, menolak perpanjangan izinnya. Alasannya: FPI adalah kelompok radikal, pendukung kekerasan, dan simpatisan HTI.

“Namun, rupanya ada juga petisi tandingan. Petisi ini diajukan seseorang bernama Imam Kamaludin. Hingga saat tulisan ini dibuat, petisi ini sudah didukung oleh 182 ribu orang,” tulisnya kembali.

Sebagai tandingan, petisi yang dimaksud memuat fakta kontribusi FPI bagi negeri ini. Di antaranya, kerap membantu korban bencana alam di daerah-daerah terpencil.

“Dari dukungan terhadap FPI, kita tahu bahwa organisasi ini tidak lagi menjadi organisasi pinggiran. Ia sudah menjadi kekuatan dengan massa pendukung yang cukup signifikan dan jaringan yang merata di seluruh tanah air,” terang Made.

Pembela Kaum Tertindas

Memang, di balik tindakan-tindakannya yang kontroversial, acap kali FPI menjadi organisasi pertama yang berada di wilayah-wilayah bencana. Seperti yang Made tunjukkan, beberapa temannya yang peneliti dan organisator masyarakat kerap melihat FPI hadir di kampung-kampung yang digusur, misalnya di Jakarta era Ahok.

“Salah satu faktor yang menentukan kekalahan Ahok pada Pilkada DKI Jakarta 2017 adalah karena kuatnya pengaruh mereka (FPI) di wilayah-wilayah yang dulu digusurnya.”

Made pun tidak menyangkal, meski FPI gemar memakai cara-cara kekerasan untuk hal-hal yang mereka nilai adalah maksiat, tetapi organisasi ini sigap mengulurkan tangan untuk kaum yang teraniaya.

“Simpati terhadap kelompok ini datang tidak saja dari kalangan bawah yang ditolongnya. Sebagian juga datang dari kelas menengah dan bahkan elite, yang membutuhkan sarana untuk menyalurkan altruisme mereka.”

FPI, buat mereka, mampu membuatnya lebih bermakna. Itu lantaran menawarkan yang ideal, yakni sebagai pembela agama dan umat yang teraniaya.

“Saya kira, di samping bahasa agama yang dipakai oleh FPI, organisasi ini juga memadukannya dengan platform keadilan sosial, hal yang biasa dilakukan oleh organisasi-organisasi kiri.”

Tetapi apa yang FPI capai hari ini, baginya, menjadi sebuah ironi. Di satu sisi, rakyat bawah yang sering tersingkir oleh pembangunan (infrastruktur) dan desain ekonomi pasar butuh pembelaan. Sayangnya, kaum progresif beraliran kiri tidak mampu memasukinya.

Momen inilah yang FPI manfaatkan secara cerdik, mengisinya lewat paduan bahasa-bahasa keagamaan.

“Kebetulan, keadaan sosial dan politik juga berpihak pada mereka, yakni represi dan fobia habis-habisan terhadap gerakan kiri, baik oleh penguasa maupun oleh kelas menengah liberal.” [ge]