Menebak Arah Pidato Jokowi di COP26

Menebak Arah Pidato Jokowi di COP26
©Setneg

Forum multilateral di COP26 adalah isyarat keresahan bersama dalam menghadapi krisis iklim dunia.

Titik tengah dalam upaya mencapai kesepakatan bersama yaitu kerendahan hati negara bangsa dengan diwujudkannya kebijakan luar negeri yang luwes, lentur, dan berimbang terhadap polemik yang kaku, keras, dan cenderung rumit. Apakah kesemua anggota yang terlibat pada pertemuan di Glasgow awal November ini memiliki penghormatan yang sama terhadap isu bersama? Saya rasa tidak.

Pidato Presiden Jokowi di acara COP26 memuat pesan bahwa Indonesia telah bekerja terhadap upaya mitigasi krisis iklim global. Di dalam pidatonya juga menyasar atau menyinggung negara maju untuk melakukan sesuatu yang lebih konkret. Data disampaikan secara verbal dengan ‘pede’ di depan publik internasional. Namun, mungkin terlalu subjektif untuk menilai dirinya sendiri sebagai sosok pekerja keras atas pekerjaan besar.

Agenda akbar seperti forum multilateral di COP26 adalah isyarat keresahan bersama dalam menghadapi krisis iklim dunia yang terus mengalami degradasi isu di tengah badai isu politik dan keamanan (juga terselip isu ekonomi) internasional. Agenda serupa jauh lebih dulu lahir sejalan dengan paradigma, persepsi, dan beragam penelitian yang mekar di seantero bumi.

Saya yakin tiap negara punya ‘trik’ jitu sebagai jalan menuju kredibilitas dalam menangani masalah. Iklim yang sekarat saat ini, selain memicu aksi-aksi rasional, dijadikan alat reproduksi kepentingan. Pidato Presiden Jokowi di Glasgow bagi saya adalah sebuah konsekuensi melebarnya jurang kepentingan dengan negara maju yang dimaksud. Dengan pertanyaan santai “seberapa besar kontribusi negara maju untuk kami, transfer teknologi apa yg bisa diberikan?”

Meraba Negara Maju

Secara gampang, identifikasi negara maju diukur pada tingkat kesejahteraan tinggi terhadap kualitas hidup masyarakatnya dengan stimulasi pendapatan ekonomi negara. Untuk sampai ke sana, sektor industri digembleng untuk menciptakan, mengakomodasi, serta maramu aturan main demi menjawab tantangan serta permintaan konsumsi global yang terus meningkat.

IMF (lembaga moneter internasional) mengklasifikasikan negara maju kepada mereka yang memiliki kontribusi terhadap kekayaan atau mendominasi ekonomi global. Kelas ini umumnya berada pada forum-forum bergengsi seperti G-7.

Di genggamannya, negara maju hendak mendikte negara yang berada di bawah, bahkan tenggelam dalam kemiskinan, ketertinggalan, dan jauh dari modernisasi umum yang sudah dipraktikkan dengan kuasa teknologi serta finansial yang mapan. Untuk itu, serangkaian wacana dan agenda ditawarkan kepada si miskin, alih-alih menyelamatkan dari ancaman bersama lewat bantuan dengan gelontoran triliunan dolar.

Praktik bantuan negara maju ke sejumlah negara tertinggal setidaknya ada dua faktor: (1) saling ketergantungan; (2) memanfaatkan sumber daya. Nomor satu adalah sebab, karena absennya ketersediaan di lokal, sementara nomor dua adalah akibat, karena akan terus mendulang keuntungan. Kondisi ini bisa dibilang sebagai mutualisme konkret internasional.

Menghitung-hitung Gejala

Pertanyaan pidato dari Jokowi sepintas menagih janji terkait apa yang telah terjadi antara Indonesia dengan salah satu di antara anggota yang duduk di hadapannya.

Isu iklim yang menjadi common concern merupakan pembahasan tiada henti. Bagi Indonesia sendiri, isu ini merambat ke berbagai komponen penting yang terus ditantang untuk melakukan revolusi dari lahirnya sebuah inovasi. Untuk mengatakan kendaraan listrik sebagai upaya menjawab pertanyaan ke mana bumi akan berlabuh dari krisis iklim, bagi saya adalah jawaban tepat.

Negara maju telah wara-wiri untuk mengamankan cadangan bahan baku baterai kendaraan listrik, tidak ketinggalan Indonesia yang kaya sumber daya. Alasan mengamankan adalah menutup ruang eksploitasi serta eksplorasi tanpa campur tangan negara. Industri otomotif digedor untuk melakukan rekonstruksi. Implikasinya, muncul industri elektrifikasi dengan segala orientasinya.

Krisis iklim adalah sebab yang timbul dari—salah satunya—pembakaran bahan bakar fosil. Apa hubungannya dengan pertemuan di Glasgow antara krisis iklim, kendaraan listrik, dan pidato Jokowi?

Saya melihat, Jokowi mengakui ada yang hendak menghambat dari negara maju yang enggan menerima kebijakan pembatasan ekspor nikel Indonesia. Upaya mentransformasi nikel sebagai baterai kendaraan listrik diakui dapat mendorong penggunaan energi terbarukan di sektor transportasi.

Melalui Peraturan Menteri ESDM No. 11 Tahun 2019 tentang pembatasan ekspor nikel dengan kadar tertentu merupakan langkah kecil Indonesia untuk mendukung mitigasi iklim. Sebagai instrumennya, Indonesia wajib menjadi produsen nikel global. Langkah ini disumbat atas kepentingan negara maju.

Wajar jika Indonesia dihalangi untuk mendominasi satu produk yang diminati dalam satu spektrum atas persoalan bersama. Karena bagaimanapun, negara maju merestui negara yang berada di bawahnya hanya untuk maju selangkah tanpa harus loncat jauh dengan kekuatan penuh.

Kita ambil contoh EUROFER, sebuah asosiasi industri baja Uni Eropa yang merasa berat dengan keputusan kebijakan Indonesia tersebut, dengan dalih mengancam industri lokal, buruh, maupun sektor-sektor yang sensitif dengan pendekatan regulasi multilateral di WTO.

Baca juga:

Indikator selanjutnya, data dari World Bank pada 2019, di mana penjualan nikel global Indonesia menempati urutan kedua di atas Kanada dan Uni Eropa. Makin jelas persoalan iklim ini ingin didominasi oleh kekuatan satu sisi.

Lalu sebenarnya ‘apa’ yang dimaksud Jokowi di dalam pidatonya itu?

Pertanyaan apa ini dimaksudkan pada framework seluruh negara untuk memiliki komitmen kuat dengan masing-masing alat yang dimilikinya. Tidak  mendominasi dengan bantuan ini dan itu.

Di awal saya sudah katakan, setiap negara punya ‘trik’ untuk mencapai kredibilitas dari persoalan yang datang. Masalah bersama seharusnya disikapi bersama juga. Dengan catatan, bersama di sini sebagai konotasi alamiah yang timbul dari apa yang dimilikinya dan kemudian secara sadar segera dipraktikkan.

Ade Novianto
Latest posts by Ade Novianto (see all)