Meneladani Perjalanan Hidup Al-Farabi dalam Menuntut Ilmu

Meneladani Perjalanan Hidup Al-Farabi dalam Menuntut Ilmu
©Dohain Institute

Al-Farabi adalah sosok filsuf muslim yang berpengarauh setelah Aristoteles. Ia memiliki nama lengkap Abu Nasr al-Farabi. Ia juga dikenal sebagai ‘guru kedua’ filsafat setelah Aristoteles karena dianggap sebagai salah satu pendiri filsafat di dunia islam.

Al-Farabi lahir di Farab, Kazakhstan. Di dunia Barat, Al-Farabi lebih dikenal dengan sebutan Alpharabius. Ia banyak dikenal sebagai pengikut Syi’ah Imamiyah yaitu Syi’ah yang mengimani dua belas imam yang dianggap suci serta maksum yang menurut pendapat mereka dua belas imam ini dipilih langsung oleh Nabi Muhammad SAW.

Fakta bahwa Al-Farabi penganut Syi’ah Imamiyah didukung oleh sebuah karyanya yang mengatakan bahwa filsuf dan raja memiliki kedudukan yang sama dengan seorang imam. Dan tidak hanya dari karyanya saja, ia juga pernah melarikan diri ke Aleppo pada tahun 330H atau pada tahun 945M yang di mana pada saat itu Dinasti Buyid yang beraliran Syi’ah menaklukkan Baghdad yang beraliran Sunni.

Al-Farabi kecil digambarkan sebagai anak yang memiliki kecerdasan istimewa dan banyak menguasai hampir setiap pelajaran yang dipelajarinya. Ia dari sejak kecil sudah berpakaian rapi.

Pada awal memulai pendidikannya, ia banyak belajar tentang Alquran, tata bahasa, kesusasteraan, fikih, tafsir, dan ilmu hadis serta aritmetika dasar. Memasuki masa remajanya, ia banyak menghabiskan masa mudanya untuk belajar di Bukhara sampai umur 50 tahun.

Setelah menuntut ilmu di Bukhara, ia kemudian melanjutkan mengembara ilmu ke kota Harran yang terletak di utara Syiria. Di kota Harran inilah ia belajar filsafat dari Filsuf Kristen terkenal pada saat itu yang bernama Yuhana bin Jilad.

Pada tahun 940M, Al-Farabi melanjutkan menuntut ilmu ke Damaskus ,dan di Damaskus inilah ia bertemu dengan Sayf al-Dawla al-Hamdanid, seorang Kepala daerah Aleppo, yang juga dikenal sebagai Imam Syi’ah.

Damaskus adalah kota terakhirnya dalam menuntut ilmu karena pada tahun 950M, ia meninggal pada usia 80 tahun dan tepat pada masa pemerintahan Khalifah Al-Muthi’(Massa dinasti Abbasiyah). Dan di massa Khalifah Al-Muthi’ inilah dianggap sebagai massa kepemimpinan yang paling kacau karena tidak adanya kestabilan politik di dalam kepemimpinannya.

Baca juga:

Pelajaran dari perjalanan hidup Al-Farabi dalam menuntut ilmu

Pertama, Al-Farabi sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Tidak hanya bidang filsafat saja yang ditekuninya, tetapi ilmu-ilmu agama seperti fikih, tafsir, ilmu hadis, dan aritmatika dasar.

Kedua, Al-Farabi banyak menulis buku yang berkaitan dengan sosiologi dan sebuah buku penting tentang musik yang dinamai Kitab Al-Musiqa. Ia juga mahir dalam memainkan dan menciptakan berbagai alat musik, maka dari itu dijuluki sebagai ‘Filsuf Muslim yang pandai bermusik’.

Ketiga, Al-Farabi sungguh-sungguh dalam memahami pelajaran yang ia pelajari. Karena kemampuannya dalam mempelajari pelajaran, ia dikenal dengan sebutan ‘guru kedua’ setelah Aristoteles.

Keempat, Al-Farabi bersikap adil dalam segala hal apa pun. Contohnya yaitu telah menyelaraskan filsafat politik Yunani Klasik dengan agama islam dan ia juga berusaha membuat filsafat politik Yunani Klasik yang ia buat dimengerti di dalam konteks agama-agama wahyu.

Dalam kondisi seperti inilah ia banyak berkenalan dengan pemikiran para Filsuf Yunani seperti Plato dan Aristoteles dengan tujuan mengombinasikan ide atau pemikiran-pemikiran dari Yunani Kuno.

Dari perjalanan hidup Al-Farabi inilah kita sebagai umat muslim harus bisa meneladani upaya dan kesabarannya dalam menuntut ilmu dari kecil hingga sampai liang lahat.

Baca juga:
    Cahya Ardhana
    Latest posts by Cahya Ardhana (see all)