Menelisik Keberadaan Pemuda, Kini dan Dulu

Menelisik Keberadaan Pemuda, Kini dan Dulu
Ilustrasi: humanis.or.id

Dalam catatan sejarah, keberadaan pemuda dirasa tak pernah absen mengawal perubahan. Entah karena mereka adalah kelompok terdidik, sebagaimana kerap tersematkan pada dirinya, atau mungkin sebagai kelompok yang sadar akan perubahan, kemudian berkumpul dalam sebuah wadah berdimensi mainstream yang sama. Jelasnya, pemuda selalu menjadi alasan kenapa bangsa ini butuh sebuah perubahan.

Boedi Oetomo (BO) 1908, Indische Partij 1911, Jong Sumatra Bond 1918, Jong Indonesia 1931, Indonesia Moeda 1939—untuk menyebut beberapa contoh, keberadaan pemuda telah mengawal segala bentuk kebijakan pemerintah yang dinilai tidak pro terdadap rakyat. Reformasi ‘98 adalah bukti konkrit yang masih melekat dalam memori bahwa pemuda atau mahasiswa menjadi motor penggerak sebuah gerbong perubahan.

Capaian reformasi seakan sudah klimaks, dan peran pemuda sudah tak dibutuhkan lagi. Lihat saja, setelah penumbangan rezim Orba, kabar pemuda kian tertelan dan tak berbekas. Tiba-tiba kita menyaksikan sebuah ketimpangan generasi antara dulu dan kini di mana sebenarnya pemuda lebih dibutuhkan perannya mengingat permasalahan bangsa yang hadir semakin kompleks.

Menyaksikan kejadian ini, terasa janggal sekali jika pemuda atau mahasiswa masih saja berada dalam sebutan kelompok terdidik. Kenapa demikian? Karena kelompok terdidik hari ini lebih kepada keberadaan pemuda yang mengenyam bangku pendidikan. Artinya, kelompok ini hanya hadir dalam angka yang fantastis tanpa diimbangi kualitas yang fantastis pula.

Jika mau jujur, generasi hari ini jauh merosot dan terperosok ketimbang generasi dulu. Dahulu, seorang pemuda, meski tak mengenyam manisnya bangku pendidikan, keberadaannya mampu menjadi bergaining dalam perubahan. Semangat ingin tahu selalu menjadi kobaran api untuk menegaskan bahwa pemuda adalah bagian dari agen perubahan riil.

Akan tetapi, hari ini, bahkan dengan terbukanya arus informasi yang sangat luar biasa, keberadaan pemuda justru berada dalam kondisi mengkhawatirkan. Kekayaan informasi tidak mampu memicu pemuda menjadi lebih baik dari generasi sebelumnya. Bahkan, berbicara karya, generasi hari ini sangat jauh tertinggal. Lihat saja, pasca reformasi, keberadaannya seperti zombie: ada namun tidak cukup berperan.

Menurut penulis sendiri, ada beberapa hal yang melatarbelakangi kenapa pemuda bisa sampai demikian akutnya. Pertama, terlalu bergantung pada kehadiran teknologi.

Diakui atau tidak, selain membawa manfaat, kehadirannya juga membawa kerusakan. Teknologi perlahan membawa kepada kemalasan. Kita seolah dipaksa terbiasa dengan sesuatu yang instan, termasuk dalam hal konsumsi pengetahuan.

Dampaknya jelas, pemuda hari ini lebih bangga dengan gaya ala Korea daripada melestarikan budaya bangsanya sendiri.

Ya, tiba-tiba pemuda dikloning dan dipaksa untuk mengamini segala yang disajikan oleh teknologi. Jadi, tak heran jika percakapan di kalangan pemuda kali ini lebih didominasi oleh pembahasan merk handphone keluaran baru daripada mendiskusikan persoalan yang sedang melilit bangsa Indonesia.

Kedua, pudarnya budaya membaca yang merupakan dampak dari yang pertama. Berbeda dengan dulu, untuk membaca buku saja, mereka harus ngumpet karena dilarang. Bahkan, untuk mendapat buku juga tidaklah mudah. Tapi hari ini, di mana internet juga menyediakan, justru budaya membaca kian menurun. Hasrat untuk bersenggama dengan ilmu pengetahuan tak selaras dengan fasilitas yang memadai.

Asupan pengetahuan yang minim inilah menyebabkan kesadaran di kalangan pemuda juga minim. Karena kehadiran mereka telah menjadi generasi individualistik yang acuh tak acuh terhadap segala persolan yang terjadi.

Dugem menjadi pilihan keren daripada melibatkan diri dan sibuk dengan persoalan organisasi. Sehingga persaingan antarpemuda terjadi sejauh mana ia mengikuti gaya trendy yang sedang berkembang. Bukan bagaimana memperdalam intelektualitas dan turut serta terlibat dalam agenda perubahan.

Tentu saja ini menjadi permasalahan dan tantangan akan keberlangsungan eksistensi pemuda. Jika melihat pada kedudukan mulia, pemuda adalah generasi penerus bangsa. Setiap agenda perubahan selalu menjadi panggilan jiwanya.

Oleh karenanya, pemuda dituntut untuk memiliki kesadaran kolektivis bukan individualis. Pemuda hari ini diharapkan memiliki keberanian dan mampu menjadi solusi dari segala persoalan yang menimpa negeri.

Menumbuhkan kesadaran berorganisasi dan menumbuhkan budaya membaca adalah cara untuk mengembalikan pemuda sebagaimana identitas yang disematkannya. Dengan demikian, kehadiran teknologi justru menjadi lampu terang.

Kenapa pemuda itu musti demikian? Sebagaimana Soekarno katakan; ”Kalian pemuda, kalau tidak punya keberanian, sama saja dengan ternak karena fungsi hidupnya hanya berternak diri.”

*Abdul Rahman Wahid, aktif di Lembaga MOEDA Institute Yogyakarta

___________________

Artikel Terkait: