Mengapa Partai Islam Kalah?

Mengapa Partai Islam Kalah?
©Jawapos

Mengapa Partai Islam Kalah?

Banyak lembaga penyelenggara quick count tidak bisa memprediksi peluang Partai Persatuan Pembangunan (PPP) untuk lolos ke parlemen 2024. Suara partai ini sangat mepet ke 4 persen, di bawah margin of error, sehingga kesimpulannya tidak konklusif. Namun ada juga lembaga dengan sampel besar bisa memprediksi bahwa partai ini kemungkinan tidak lolos.

Jika PPP tidak lolos, maka parlemen lima tahun mendatang akan diisi oleh 7 partai sekuler dan menyisakan hanya 1 partai Islam, yakni Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Pertanyaannya, apa yang terjadi dengan politik Islam? Apakah agenda politik Islam menjadi makin tidak menarik di kalangan pemilih?

Sulit untuk tidak mengiyakan pertanyaan itu. Faktanya nyata: partai-partai berasas Islam satu per satu ditinggalkan pemilih.

Apakah itu artinya agama juga makin banyak ditanggalkan?

Pandangan sekilas, agama tidak ditanggalkan, bahkan yang terjadi justru masyarakat makin religius. Bukti lahiriahnya banyak, misalnya makin banyak orang ke rumah ibadah, makin banyak orang daftar haji atau ingin umrah, juga makin banyak muslimah memakai jalabib.

Namun peningkatan religiositas itu (kalau bisa dikatakan demikian) tidak menambah kekuatan partai Islam, bahkan partai-partai Islam kian melemah.

Baca juga:

Barangkali ini yang disebut sebagai fenomena sekularisasi. Masyarakat muslim Indonesia makin sekuler. Mereka bisa menjadi muslim taat tapi tidak tergoda melakukan formalisasi politik Islam. Publik bisa membedakan mana otoritas agama dan mana otoritas politik.

Sebenarnya, sekularisasi tidak hanya terjadi di politik, tapi juga di lapangan hidup yang lain. Pada persoalan kesehatan, misalnya, walaupun orang kian beragama, tapi kalau sakit, mereka tidak lagi lari ke dukun atau kiai minta air jampi, tapi ke Puskesmas minta resep obat.

Dalam ekonomi juga demikian. Walaupun religiositas meningkat, itu tidak membuat bank syariah, misalnya, menjadi sangat laku. Tetap saja bank konvensional yang paling dipercaya. Bahkan bank-bank syariah besar di Indonesia semuanya dibuat oleh bank konvensional. Kan lucu, bank yang diniatkan melawan bank konvensional justru dibuat oleh bank konvensional.

Pertanyaan selanjutnya, apa yang menyebabkan masyarakat Indonesia menjadi sekuler dan makin sekuler? Saya akan coba tulis pada kesempatan lain.

Saidiman Ahmad
Latest posts by Saidiman Ahmad (see all)